Pendidikan Dasar Wajib 9 Tahun yang Ribet

Tertuang dalam  pasal 31 UUD 1945 yang menyatakan ”(1) setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, dan ” (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.

Sederhana saya berpikir bahwa :

  1. pendidikan dasar dan menengah (SD/MI – SMP/Tsanawiyah) harusnya bebas biaya. Itu sudah jelas menjadi amanah dari konstitusi.
  2. Tidak boleh ada kerumitan jika seorang siswa berpindah dari sekolah swasta ke sekolah negeri, dan begitu juga sebaliknya.

buang sampah

Tetapi kenyataan yang ada justru sebaliknya. Untuk memasuki sekolah swasta masih ada biaya yang harus dipenuhi. Setiap tahun ajaran baru akan selalu ada selebaran tentang potongan harga dan sebagainya. Buruknya, jika ada sebuah yayasan atau sekolah yang benar-benar menggratiskan, malah sebagian dari kita justru menjauh. Termasuk saya. Tentu ada alasan untuk itu. Kemungkinan yang menjadi alasan adalah :

  1. kualitas pendidikan gratis masih meragukan
  2. kelanjutan pendidikan juga masih meragukan. Artinya disini, sistem pendidikan sekarang ini mengenal strata atau kasta. Kasta terendah adalah tidak terakreditasi. Akreditasi A biasanya berbiaya mahal.

Sementara ini kita hanya dapat menunggu, menunggu negara ini benar-benar akan membebaskan orang tua atau wali murid dari biaya pendidikan wajib 9 tahun.

Menunggu standar yang sama dapat diberlakukan di seluruh sekolah tingkat dasar dan menengah. Dalam hal ini juga sistem pengulangan untuk siswa yang nilainya di bawah standar. Sedangkan kita sama mengetahui bahwa nilai bukanlah kesimpulan akhir dari satu proses. Akan tetapi untuk masalah pengulangan nilai atau remidi ini, jujur, saya enggan untuk menuliskannya.

Menunggu sebuah sikap dari masyarakat bahwa pendidikan tidak harus identik dengan sekolah dan ijazah. Mengingat gelar sarjana bukan jaminan seseorang benar-benar memiliki kepala yang berisi. Gelar sarjana dan sebagainya bukan jaminan satu kematangan cara berpikir. Sampai hari ini, gelar sarjana masih dipandang sebagai salah satu status sosial. Bukan mengecilkan arti sebuah gelar sarjana, namun keluasan ilmu seorang sarjana atau master bahkan doktor tidak menjadi jaminan bahwa orang tersebut benar-benar bersumbu panjang.

wisuda

Pertanyaan ” ingin menjadi apa jika besar nanti?” adalah sebuah pertanyaan mendasar tentang minat dan bakat seorang anak. Dalam prosesnya yang panjang, sudah semestinya kita benar-benar wajib mengarahkan anak meniti jalan hidup di atas minat dan bakatnya. Bukan meniti di atas status akademik semata.

 

Demikianlah. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: