Bara di Borobudur 2

Mata Toa Sien Ting menatap Kao Sie Liong dengan nanar. Sejuta rasa berkecamuk dalam benaknya. Lalu ia menyapukan pandangan melihat Chow Ong Oey berada di tengah kepungan para pengawal lapis kedua gedung perpustakaan. Tombak Chow Ong Oey berkelebatan menutup tubuhnya dari serangan  para pengawal. Ia berloncatan sangat cepat dan terkadang bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata pengepungnya. Semakin lama kepungan pengawal semakin melebar. Mereka bukan lawan yang sebanding dengan Chow Ong Oey meskipun berjumlah lebih banyak. Tiba-tiba satu bayangan berkelebat melayang diatas kepala para pengawal, lalu menjejakkan kaki di tengah-tengah kepunga. Para pengawal itu kemudian menarik nafas lega. Kini di hadapan mereka telah hadir seorang pembantu Kao Sie Liong. Seorang lelaki muda yang bertubuh sedang dan raut muka yang menunjukkan ketegasan. Tatap mata yang tajam dan tenang itu menarik perhatian Chow Ong Oey.

Lelaki muda yang berpakaian perang dan kelihatan gagah perkasa itu sudah tentu bukan prajurit biasa. Ia adalah salah satu pembantu terpercaya dari Kao Sie Liong. Di kalangan pengawal, anak muda itu mendapat julukan Putra Naga Langit. Karena kekuatan dan ketangkasannya dalam banyak pertempuran telah memberinya julukan seperti itu.

“ Memang sebaiknya aku sendiri turun tangan mengusirmu, Chow kongcu. Sebenarnya apa sulitnya untuk menangkapmu dan membasmi kelompokmu sebagai pemberontak?” tanya lelaki muda dengan penuh kegagahan.

“ Perwira muda Zhe, tentu engkau sudah tahu tentang siasat dalam peperangan. Ada saatnya terbaik untuk menyerang, ada pula saatnya mundur dan ada saatnya untuk menanti kesempatan baik. Malam ini adalah satu siasat yang baik untuk menyerang dan mengepung istana. Jadi, sudah jelaskah bagi kalian jika malam ini kalian semua akan menemui dewa kematian?” Sebenarnya Chow Ong Oey merasakan kegelisahan yang menyesakkan dadanya. Betapa ia melihat Toa Sien Ting terdesak oleh serangan Kao Sie Liong, sedangkan para pengikutnya juga mengalami keadaan yang tidak jauh berbeda dengannya.

tis-tsuyoshi-nagano-medium_bondan borobudur

“ Chow kongcu, kau dan kelompokmu telah mengambil sikap bermusuhan dengan kaisar. Sekarang aku minta engkau untuk menyerah. Mata-mata kaisar telah mendapatkan petunjuk arah kemana kalian akan bergerak membawa negara ini.”

Perwira muda Zhe Ro Phan adalah orang yang berpendirian keras. Ia tidak suka berkata terlalu lama dan berbelit. Demikian ia mengatupkan bibirnya, tubuhnya menerkam Chow Ong Oey. Sebatang golok yang cukup besar tiba-tiba berada di dalam genggamannya. Sinar berkilat bergulung-gulung susul menyusul menghantam Chow Ong Oey dari delapan penjuru angin. Perwira muda dalam beberapa jurus berhasil mendesak lawannya. Chow Ong Oey tidak ingin dirinya ditundukkan dengan mudah maka ia cepat mundur. Dengan memutar tubuhnya satu putaran penuh, ia menebaskan tombaknya ke perut Zhe Ro Phan. Perwira  Zhe sudah memperhitungkan serangan balasan ini maka ia dengan cekatan melontarkan tubuhnya ke belakang. Perwira Zhe merupakan salah satu dari anak buah Kao Sie Liong yang mempunyai kecepatan gerak yang sangat mengagumkan. Tiba-tiba saja secepat anak panah, ia kembali menyambut bahaya yang dikirim oleh Chow Ong Oey. Golok besar perwira Zhe bergulung-gulung menutup setiap serangan Chow Ong Oey. Chow kongcu hanya dapat menghindar dengan memutar tombaknya lebih cepat sepenuh tenaga.

Satu bentakan yang sangat keras menggetarkan jantung Chow Ong Oey, ia sedikit lengah. Entah darimana datangnya, satu tusukan golok tahu-tahu menyusup melalui celah yang terbuka di bawah putaran tombaknya mengarah ke ulu hati.

Meskipun Chow Ong Oey sangat terkejut dengan tusukan golok itu, ia masih mempunyai kesiagaan yang cukup untuk meloncat mundur. Pengalaman Chow Ong Oey telah menuntunnya untuk melihat sisi yang terbuka pada bagian dada ZHe Ro Phan. Ia kemudian menebaskan tombaknya ke dada perwira Zhe. Meskipun goloknya terlambat untuk ditarik kembali, perwira Zhe cukup lihai untuk menggeser kakinya ke kanan dan memiringkan tubuhnya. Tebasan tombak itu luput dan hanya melewati bagian kosong. Perwira Zhe lantas menggulingkan tubuhnya, lalu bangkit dan menyusulkan serangan dengan tebasan mendatar menyilang bertubi-tubi susul menyusul.

Chow Ong Oey meleletkan lidah menyaksikan kecepatan Zhe Ro Phan yang ternyata setingkat berada di atas dirinya. Ia beberapa langkah mundur ke belakang. Akan tetapi pergerakannya kurang dapat menyamai kecepatan Zhe Ro Phan. Sebuah tebasan mendatar golok perwira Zhe menembus kain dan membuat luka pada lambungnya meskipun hanya goresan tipis. Ketika ujung goloknya nyaris meninggalkan sentuhan pada kulit Chow Ong Oey, tiba-tiba saja Zhe Ro Phan memutar goloknya. Sehingga ujung goloknya yang melengkung itu sedikit masuk lebih ke dalam dan hampir saja membuat kulit yang sudah terbuka itu semakin mengangan lebar. Untung saja Chow Ong Oey dengan cekatan melayangkan tendangan ke pangkal siku perwira Zhe sehingga mau tidak mau Zhe Ro Phan harus menghindari tendangan itu agar lengannya tidak menjadi patah.

Para pengawal gedung yang telah selesai dengan lawannya masing-masing menjadi terbelalak dan juga kagum. Mereka tidak menyangka jika perwira Zhe ternyata mampu mengimbangi kelihaian Chow Ong Oey dalam pertandingan hidup mati itu. Bagaimanapun juga Chow Ong Oey ingin segera memasuki dan menguasai gedung perpustakaan, akan tetapi kehadiran perwira Zhe telah memaksanya untuk mengubah rencana.

Tubuhnya merunduk dengan satu kuda-kuda yang kokoh. Matanya menatap tajam Zhe Ro Phan seakan api yang membakar jantung perwira Zhe. Tubuhnya tergetar hebat dan kekuatan yang besar terpancar darinya. Bibirnya bergetar dan mulai mengeluarkan siulan seperti seruling. Tahulah perwira Zhe bahwa lawannya tengah mengerahkan tenaga dalamnya yang dapat membunuh setiap orang yang berada di dekatnya. Segera ia memberi perintah kepada para pengawal gedung untuk segera menjauhi tempat perkelahian antara dirinya dengan Chow Ong Oey.

“Mundurlah! Segera menjauh!” perintah perwira Zhe dengan suara menggelegar yang juga ia tujukan kepada Chow Ong Oey agar terganggu konsentrasinya.

Akan tetapi siulan itu semakin lama semakin keras dan bernada tinggi. Suaranya menusuk gendang telinga, beberapa pengawal gedung berguling-guling sambil menutup telinga. Siulan yang diiringi dengan tenaga sakti yang amat hebat ini dapat mempengaruhi dada dan kepala mereka. Jantung dan isi kepala seakan diremas-remas. Perwira Zhe harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan pengaruh getaran yang ditimbulkan oleh suara ketawa itu. Urat syaraf perwira muda Zhe tampak menjalar di bawah kulitnya. Ia benar-benar berjuang keras melawan pengaruh lengkingan tinggi Chow Ong Oey.

Dari arah timur gedung, dari kegelapan, terdengar gempita teriakan orang-orang yang tiba-tiba datang menyerbu pasukan pengawal gedung. Perkembangan itu memaksa pengawal yang berada pada lapis ketiga segera membunyikan terompet bahaya untuk menarik perhatian pasukan berkuda. Pasukan berkuda ini sengaja disiapkan oleh Kao SIe Liong untuk berjaga-jaga bila ada kemungkinan yang tidak berada dalam perhitungannya. Mereka bersiap siaga belasan tombak dari pos pasukan lapisan pertama. Nyatalah kini persiapan Kao Sie Liong benar-benar dalam ujian sangat berat. Segera saja kedatangan gerombolan yang menentang pemerintah disambut dengan hantaman pasukan berkuda dari samping sebelah kanan.

Toa Sien Ting yang sempat mengamati keadaan Chow Ong Oey segera menyadari bahaya akan datang melanda dirinya serta kelompok yang ia pimpin dalam penyerbuan gedung perpustakaan. Pengalaman yang luas serta hubungan dekat dengan beberapa perguruan silat lainnya membuatnya sedikit tenang mengatasi kesulitan. Menyaksikan kedatangan pasukan berkuda yang seperti tidak dapat ditahan oleh kelompoknya, ia kemudian menjadi ragu-ragu dengan keberhasilan mereka merebut gedung perpustakaan. Ia menarik nafas panjang kemudian bersuit nyaring. Sekelompok orang datang kepadanya dan menyerbu Kao Sie Liong dalam barisan yang tidak teratur. Keadaan yang kacau itu segera dimanfaatkan oleh Toa Sien Ting untuk menghilang dalam kegelapan. Kao Sie Liong sebenarnya tidak ingin membiarkan orang itu dapat meloloskan diri. Akan tetapi ia mempunyai pemikiran lain, Kao Sie Liong mengkhawatirkan usaha Toa Sien Ting melarikan diri itu merupakan satu jebakan agar dirinya meninggalkan gedung perpustakaan.

Chow Ong Oey yang mendengar suitan Toa Sien Ting pun semakin melipatgandakan tenaga dalamnya. Ia berpacu dengan waktu karena kedatangan pasukan berkuda. Pasukan ini semakin menjauhkan kelompok penentang Kaisar Ning Tsung dengan tujuan mereka. Butir keringat mulai membasahi kening dan sekujur tubuh perwira muda Zhe ketika lengkingan itu menembus daya tahannya.  Perwira muda Zhe semakin kesulitan untuk bergerak karena rasa sakit yang mulai merambati gendang telinganya, perlahan memasuki otak dan getarannya seakan meremas jantungnya. Tubuh Zhe Ro Phan bergetar makin hebat. Wajahnya menjadi pucat, hampir saja ia roboh ketika sebuah bayangan putih berkilat menyambar-nyambar mengeluarkan suara berdesing. Desing suara itu sedikit demi sedikit membebaskan perwira muda Zhe dari himpitan getaran dahsyat Chow Ong Oey. Tampak olehnya Kao Sie Liong berada tidak jauh di belakangnya. Putaran tombak Kao Sie Liong menderu-deru. Tiba-tiba Kao Sie Liong melompat tinggi melwati Zhe Ro Phan, ia menyambar datar mengarah leher Chow Ong Oey. Tak kalah cepat dengan serangan Kao Sie Liong, Chow Ong Oey menangkis dengan tombaknya. Ia kemudian menyusulkan pukulan jarak jauh dengan tangan kiri ke arah dada Kao Sie Liong.

Kao SIe Liong berseru keras, cepat ia memutar tombaknya menutup bagian depan tubuhnya. Satu benturan terjadi ketika pukulan jarak jauh Chow Ong Oey menghantam gulungan sinar tombak Kao Sie Liong. Tubuh Chow Ong Oey terlontar ke belakang. Dalam kesempatan itu, selagi Kao Sie Liong yang juga terdorong ke belakang berusaha menata kuda-kudanya, Chow Ong Oey menyambar sebuah pedang milik pengawal yang berada di dekatnya. Tubuh Chow Ong Oey melesat cepat ke arah salah seorang pengawal gedung lalu merampas pedangnya dan melemparkan ke arah Kao Sie Liong. Demikian cepat pedang itu terlontar melebihi anak panah, selagi Kao Sie Liong menghindar, Chow Ong Oey pergi meninggalkan gelanggang dan membiarkan sisa-sisa pengikutnya bertempur menghadapi pasukan berkuda kerajaan dan pasukan pengawal gedung perpustakaan.

Tak lama kemudian, pasukan yang dipimpin oleh Kao Sie Liong telah menguasai keadaan seluruhnya. Beberapa orang yang tewas segera dikuburkan di sebuah hutan kecil yang berjarak sekitar puluhan tombak dari desa yang terdekat dengan gedung perpustakaan. Para pengikut Toa Sien Ting dan Chow OIng Oey yang masih hidup segera menjadi tawanan kerajaan. Mereka ditempatkan dalam sebuah penjara di lereng bukit kecil yang bernama Beng Tan. Para tawanan ini sebenarnya tergabung dalam sebuah perkumpulan yang dinamai Partai Api Angin. Dan Toa Sien Ting serta Chow Ong Oey adalah pemimpin yang diserahi tanggung jawab untuk melakukan sejumlah kegiatan untuk menganggu keamanan kerajaan.

Menjelang fajar menyingsing, seorang utusan Menteri Zhang Xun Wei datang menemuinya.

“ Jenderal Kao, Menteri Zhang Xun Wei memintamu datang ke ruangan di sebelah barat istana. Menteri Zhang ingin mendengarkan laporan darimu,” kata utusan itu setelah bertemu Kao Sie Liong. Pada saat itu, Kao Sie Liong yang sedang duduk di sebuah batu besar yang mengawasi pekerjaan anak buahnya membereskan sisa-sisa pertempuran.

“ Baiklah. Katakan kepada Menteri Zhang, aku akan segera ke tempatnya.”

“ Laksanakan, jenderal,” kata utusan itu membungkuk hormat lalu memutar tubuhnya meninggalkan Kao Sie Liong. Beberapa lama kemudian, Kao Sie Liong telah memasuki ruangan yang dijadikan tempat oleh Menteri Zhang Xun Wei untuk menerima laporannya.

Kao Sie Liong melaporkan dengan rinci dan sangat jelas kepada Menteri Zhang Xun Wei. Raut muka yang tenang dari sang menteri rupanya menenangkan hati Kao Sie Liong yang dihimpit rasa gelisah karena kedua tokoh hitam itu mampu meloloskan diri darinya. Kepala Menteri Zhang tidak berhenti mengangguk-angguk, terkadang ia mengelus jenggotnya yang telah berwarna putih. Jenggot yang panjang itu terlihat rapid an menambah kegagahan Menteri Zhang.

“ Lalu, bagaimana dengan rencanamu kemudian?” tanya Menteri Zhang.

“ Hamba akan membentuk kesatuan khusus yang akan dipimpin Zhe Ro Phan, Yang Mulia.”

“ Bukankah Zhe goanswe masih berada di bawah kemampuan kedua orang itu?” kerut kening yang muncul pada wajah Menteri Zhang semakin memperlihatkan kewibawaan yang ada dalam dirinya.

“ Hamba, Yang Mulia. Perintah yang akan aku berikan kepada Zhe goanswe adalah untuk melacak tempat persembunyian mereka yang selama ini selalu berpindah-pindah. Bukan untuk bertempur, Yan g Mulia. Dan nantinya hamba akan memimpin sendiri untuk menangkap mereka.”

“ Baiklah, Jenderal Kao. Aku memberimu restu untuk itu. Aku akan laporkan pembicaraan ini kepada Kaisar Ning Tsung.”

Menteri Zhang bangkit dari duduknya, lalu,” sesungguhnya keadaan mereka penuh rahasia. Aku meyakini mereka telah menempatkan beberapa orang di istana kaisar. Bahkan mungkin mereka juga berada di sekitarku, akan tetapi aku sendiri pun mengalami kesulitan untuk menarik garis batas antara mereka yang setia pada kerajaan dan penentang kerajaan. Selama ini aku hanya mendengar dari kabar yang beredar. Tentu saja engkau tahu jika kabar yang beredar itu bisa jadi merupakan jebakan untuk kita.“ Ia terdiam sejenak. Setelah menarik nafas panjang, ia melanjutkan,” aku mendapatkan berita jika tempat mereka bersembunyi dan mengatur sejumlah gerakan melawan pemerintah itu berada di sebuah pantai. Letaknya berdekatan dengan sebuah hutan yang benar-benar lebat. Aku sarankan engkau untuk mengirim Zhe goanswe ke Wuxi. Sebuah teluk kecil yang dikeliling hutan sangat lebat agaknya sangat memadai menjadi tempat bersembunyi.”

“ Jenderal Kao,” kata Menteri Zhang menambahkan,” aku minta kepadamu untuk sungguh-sungguh membantu Zhe goanswe mempersiapkan diri. Perjalanan mereka akan menempuh kesulitan yang tidak sedikit. Sedikit banyak gangguan dapat terjadi jika Tung Fat Ce mendengar berita keberangkatan pasukanmu. Rahasiakan rencana ini. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu tentang tujuan kita kali ini. Hanya engkau dan Zhe goanswe yang mengetahui selain aku tentunya.”

“ Tung Fat Ce?” terbelalak mata Kao Sie Liong setengah tidak percaya. Betapa tidak, ia mengenal Tung Fat Ce sebagai orang yang pernah mengajarinya sedikit tentang ilmu peperangan. Tung Fat Ce adalah seorang menteri di jaman kaisar Zhao Dun. Kao Sie Liong hanya menundukkan kepala. Dengan adanya Tung Fat Ce yang berada di belakang Perkumpulan Api Angin, tentu saja rencana ini dapat digagalkan melalui perintah Kaisar Ning Tsung. Kao Sie Liong sendiri memahami jika beberapa pejabat memang terlibat dalam gerakan yang dilakukan oleh Perkumpulan Api Angin. Segera saja terbayang olehnya kesulitan yang akan menimpa pasukan yang akan dikirimkan ke Wuxi. Akan tetapi, Kao Sie Liong adalah orang yang keras kepala. ia telah bertekad akan menumpas gerombolan itu. Meskipun merahasiakan rencana besar Menteri Zhang Xun Wei seperti sulit dilaksanakan, tetapi Kao Sie Liong mempunyai keyakinan bahwa operasi militer ini akan berjalan sesuai keinginan Menteri Zhang.

 

Sebelumnya :

https://tansaheling.com/2017/12/26/bondan-lelana-bara-di-borobudur-1/

2 thoughts on “Bara di Borobudur 2

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: