Bara di Borobudur 4

Dalam pada itu, Bondan telah memasuki biliknya. Ia duduk di tepi pembaringan sambil menatap lantai masih membayangkan pesan dari Resi Gajahyana.

“Eyang seharusnya masih ingat jika sebenarnya aku baru akan kembali ke Pajang setelah setahun berada Trowulan. Tentu saja keadaan sangat penting telah terjadi di Pajang sehingga eyang mengirimkan paman berdua menyusulku kemari,” kata Bondan dalam hati,”eyang memang sudah berusia lanjut tetapi ia masih mempunyai ingatan setajam belati yang biasa ia gunakan di ladang.”

Bondan membuka telapak tangannya, ia mengalihkan pandangan menatap lekat kedua telapak tangannya. Ia membatin,” sejauh ini aku tidak berhenti untuk meningkatkan kemampuanku. Aku masih berada dalam tataran yang belum seperti kehendak Eyang Gajahyana.”

Bondan menarik nafas dalam-dalam. Pada malam itu, untuk ke sekian kalinya, ia menyadari kemampuan besar yang ada dalam dirinya. Ia mengingat pesan Resi Gajahyana jika tidak ada seorang pun di bumi ini yang tidak tertandingi, akan tetapi setiap orang akan dapat mencapai puncak tertinggi yang dapat ia kuasai. Luka-luka yang pernah ia dapatkan ketika melawan Ki Cendhala Geni agaknya menorehkan kesan mendalam dalam hatinya. Betapa ia hampir saja menemui dewa kematian jika saja pasukan Ken  Banawa dan Gumilang tidak datang tepat pada waktunya. Saat itu, Bondan merasakan seperti berada di jajaran tertinggi dalam olah kanuragan. Tetapi perkelahian yang nyaris merenggut nyawanya telah mengubah Bondan dalam banyak hal.

Sejenak Bondan merebahkan diri dan mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya. Ia akhirnya tenggelam dalam tidurnya.

Ketika matahari didahului rona merah di ufuk timur, orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu telah berada dalam kegiatan sehari-hari. Sela Anggara telah berada di dekat sumur untuk mengisi jambangan, Bondan berjalan hilir mudik memberi makan kuda dan membersihkan kandangnya. Seorang lagi terlihat membersihkan halaman dan beberapa perempuan sudah bercanda akrab dengan asap di dapur.

Dalam pada itu, Ki Swandanu dan Ki Hanggapati telah berada di bawah regol halaman. Agaknya kedua tamu dari Pajang itu terbiasa bangun di awal hari. Keduanya terlihat sedikit banyak mengeluarkan keringat ketika membantu membersihkan halaman.

“Silahkan paman berdua membersihkan diri terlebih dahulu. Segala sesuatu telah kami siapkan bagi paman berdua. Sementara, aku tidak dapat menemani paman berdua untuk makan pagi karena sesuatu yang cukup penting harus aku kerjakan di sebelah utara keraton,” berkata Sela Anggara kepada kedua tamunya yang saat itu sedang duduk diatas tlundakan pendapa.

“Terima kasih, ngger. Kau terlalu baik bagi kami,” berkata Ki Hanggapati dengan senyum di bibirnya. Keduanya bangkit dan beranjak mengikuti Sela Anggara menuju halaman belakang.

Embun di deaunan berkilau cerah ketika matahari menanjak kaki langit. Iringan mendung terlihat mendekati langit kotaraja. Dalam pada itu, Ken Banawa memasuki regol halaman dengan langkah yang ringan dan tenang. Rambut panjangnya tergelung rapi di bagian belakang kepala. Sejenak ia berhenti untuk bercakap barang sedikit dengan orang yang sedang mencabut rumput halaman.

“Apakah ada kabar dari Gumilang, Ki Narto?” bertanya Ken Banawa setelah memberi salam kepada orang yang bernama Ki Narto.

“Belum, Ki Banawa. Agaknya angger Gumilang akan berada dalam tugasnya untuk waktu yang cukup lama,” jawab Ki Narto menganggukkan kepala.

“Ya, semoga angger Gumilang dapat menambah keluasan wawasan selama berada di Watu Golong,” kata Ken Banawa sambil mohon diri untuk menemui kedua tamu dari Pajang. Ki Narto menjawabnya dengan senyum dan anggukan kepala.

Kedua orang dari Pajang segera bangkit berdiri menyambut kedatangan Ki Ken Banawa di pendapa. Setelah bertukar salam dan saling bertanya keadaan masing-masing, Ki Banawa mempersilahkan keduanya untuk menikmati sedikit hidangan yang tersedia untuk pagi itu.

menoreh 398

“Baru saja kami makan pagi bersama dengan angger Bondan, Ki Banawa. Agaknya kami berdua akan segera memasuki gandok lagi karena mata kami tak akan mampu menahan kantuk karena kekenyangan,” berkata Ki Hanggapati tersenyum lebar. Ki Swandanu menganggukkan kepala dengan senyum kecil menanggapi gurauan kawannya.

“Pertemuan ini akan menjadi menarik jika angger Gumilang dapat bergabung dengan kita. Sayang sekali, angger Gumilang tidak dapat menemani kiai berdua karena tugas untuk berlatih bersama pasukan berkuda di Watu Golong,” Ki Banawa berkata seraya menatap pintu pringgitan yang belum terbuka.

“Nyi Retno memang belum keluar menemui kami berdua, Ki Banawa. Seperti yang dipesankan oleh angger Sela Anggara bahwa ibunya akan keluar jika kiai telah hadir di pendapa,” berkata Ki Swandanu seakan mengerti isi pikiran Ken Banawa. Ken Banawa menganggukkan kepala lalu bangkit memanggil Ki Narto memintanya untuk memanggil Nyi Retno. Sejenak kemudian, perlahan-lahan derit pintu pringgitan terbuka dan Nyi Retno melangkahkan kaki menuju tempat ketiga lelaki yang seusia dengannya. Menyusul Bondan berjalan di belakang Nyi Retno Ayu. Bondan kemudian duduk sebelah menyebelah dengan Ki Swandanu dan berhadapan dengan Ken Banawa. Sedangkan Nyi Retno mengambil tempat duduk agak jauh dari ketiganya, lalu,” silahkan adi Banawa untuk membuka percakapan yang mungkin kiai bedua ini sudah menahan diri semalaman.” Meskipun Nyi Retno telah mencapai usia setengah abad, namun garis-garis ketegasan tampak jelas dari sorot matanya. Usia lanjut itu tidak menutup kecantikan yang pernah terukir di wajahnya semasa muda.

“Baiklah mbakyu,” kata Ki Banawa lalu bergeser sedikit maju.

“Kiai berdua, tentu saja kedatangan kiai berdua dari Pajang bukan sekedar perjalanan biasa. Usia kita bertiga sudah terlalu banyak untuk melewatkan petualangan seperti di masa kita masih muda. Eyang Gajahyana rasanya akan sulit mencari landasan yang tepat untuk sekedar memanggil angger Bondan pulang ke Pajang,” kata Ki Banawa sambil menatap Bondan.

Keduanya saling menoleh, Ki Hanggapati kemudian mempersilahkan Ki Swandanu mewakili Resi Gajahyana.

“Pergeseran yang terjadi di kotaraja telah terdengar hingga Pajang. Berita-berita tentang apa yang terjadi di kotaraja, Sumur Welut dan Bulak Banteng tiba di Pajang secepat angin bertiup,” Ki Swandanu beringsut maju setapak.

“Begitu cepat pengamat sandi dari Pajang menebar keterangan sampai-sampai tidak secuil yang dapat terlewat,” berkata Ki Banawa.

“Bukan seperti itu, Ki Banawa. Para pedagang yang menuruni lembah, menyeberangi sungai menebarkan berita itu dari mulut ke mulut. Perpindahan besar-besaran para pengikut setia Lembu Sora dan Gajah Biru sangat mencemaskan Resi Gajahyana,” Ki Swandanu berhenti sejenak. Lalu,” tentu saja Ki Banawa dan Nyi Retno telah mengetahui perpindahan pasukan yang cukup besar itu. Kemudian setelah mereka sampai di tepi batas luar Pajang. Ki Tumenggung Nagapati mengirimkan utusan untuk menemui Bhre Pajang. Bhre Pajang meminta waktu barang sehari dua hari untuk memutuskan kesediaannya menemui Ki Tumenggung Nagapati.”

“Memang kami telah mendengarnya, Ki Swandanu. Saat pasukan yang dipimpin Patih Mpu Nambi menghalau mereka keluar dari kotaraja, kami sedang terlibat pertempuran di Sumur Welut. Aku mendengarnya ketika seorang utusan Mpu Nambi datang ke pedukuhan Wringin Anom. Ia menyampaikan pesan agar aku secepatnya kembali ke kotaraja bila peperangan di Sumur Welut telah kami menangkan,” kata Ki Banawa. Kemudian katanya lagi,” saat itu kehadiran Bondan dan Mpu Drana benar-benar membantu kami memukul mundur pasukan Ki Sentot Tohjaya. Ditambah semangat juang para pengawal Wringin Anom dan Sumur Welut yang serba sedikit mampu membuat kecil arti perjuangan pasukan Ki Sentot.”

“Ki Tumenggung Nagapati?” desah Bondan perlahan,” ia seorang tumenggung wreda. Salah seorang tumenggung yang dipercaya Ra Dyan Wijaya untuk memimpin satu pasukan khusus.”

“Ia pemimpin pasukan khusus?” terkejut Ki Hanggapati. Sesaat ia menundukkan kepala, seraya menoleh kea rah Ki Swandanu, ia melanjutkan,” mungkin itu juga jadi penyebab mengapa Bhre Pajang tidak mengijinkannya masuk kota Pajang. Namun juga tidak bersedia mengusir keluar dari wilayah Pajang.”

“Itu bisa menjadi satu alasan yang ada, Ki Hanggapati,” Ki Swandanu kemudian menyapukan pandangan katanya,” tentu saja mereka adalah sekelompok orang yang benar-benar tangguh. Jika mereka adalah satu pasukan khusus, maka aku jadi mengerti mengapa Eyang Gajahyana mengirim kita kemari.”

“Tentu tidak, ki,” berkata Ken Banawa pada Ki Swandanu,”pasti ada sebab yang lain yang menjadi kekhawatiran Eyang Gajahyana.”

“Aku sependapat dengan paman Banawa. Eyang mungkin merasakan ada gangguan-gangguan yang menimbulkan gejolak di tengah-tengah rakyat Pajang. Meskipun gangguan itu sangat kecil tetapi Eyang Gajahyana sudah tentu mempunyai penilaian yang berbeda dengan kita semua,” kata Bondan. Ia melanjutkan,” aku mengenal tata urutan eyang menilai suatu persoalan. Maksudku, eyang sudah menilai jika Bhre Pajang tidak akan memerintahkan prajuritnya menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh kehadiran pasukan khusus pimpinan Ki Tumenggung Nagapati.”

 

“Kau benar-benar mengenali eyangmu dengan sangat baik, anak muda,” berkata Ki Swandanu. Bondan terdiam seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Ki Swandanu. Dadanya bergemuruh seperti dilanda angin puting beliung. Lalu Bondan berkata,” jika demikian aku akan menyusul Gumilang di Watu Golong dan membawa beberapa ratus pasukan berkuda menuju Pajang.”

“Angger Bondan, lakukan pengamatan dalam dirimu. Kau tidak dapat serta merta menyerbu pasukan Ki Tumenggung Nagapati. Sementara kita belum memahami letak persoalan yang sebenarnya,” berkata Nyi Retno sambil menggelengkan kepala perlahan. Desir lembut kata-kata bibinya seperti menyiramkan air sejuk dalam hati Bondan. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, dan menghela panjang sambil berkata,” baiklah bibi,” lalu ia menoleh ke arah Ki Swandanu dan berkata,” maafkan aku paman. Silahkan paman Swandanu melajutkan uraian-uraian yang akan disampaikan.”

“Tidak mengapa, ngger. Aku pernah muda sepertimu, bahkan aku pula yang menjadi satu dari sekian banyak orang tua yang berada di dekatmu semenjak kecil,” tersenyum Ki Swandanu seraya memegang tangan Bondan yang telah terkepal. Kepala Bondan tertunduk dalam-dalam. Dalam pada itu, ia mengingat kembali kasih sayang yang dicurahkan Ki Swandanu kepadanya. Semasa ia digendong di atas kedua bahu Ki Swandanu, saat ia belajar menunggang kuda bersama Ki Swandanu dan banyak lagi yang terlintas dalam diri Bondan tentang masa lalunya.

Ki Swandanu lalu melanjutkan,” Memang benar seperti yang dikatakan angger Bondan. Semenjak kehadiran beberapa orang asing di tengah-tengah pasukan Ki Nagapati memang terjadi perubahan yang cukup berbahaya. Agaknya mereka berasal dari tanah seberang. Cara mereka berbicara dan berpakaian nampaknya mereka berasal dari negeri yang sama dengan orang-orang yang pernah bergabung dengan Ra Dyan Wijaya.” Kemudian Ki Hanggapati menambahkan,” mereka berjumlah lebih dari lima orang. Diantara mereka, sekitar empat orang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Menurut kabar yang dibawa oleh pengamat dari Pajang, mereka telah bergabung menjadi satu kelompok. Tentu saja itu akan menambah kekuatan mereka. Pengamat dari Pajang juga mengatakan jika kelompok Ki Nagapati telah berpindah ke lereng sebelah barat Gunung Merbabu. Mereka berjalan melingkari Gunung Merbabu dalam jumlah yang sangat besar.”

“Ditambah dengan beberapa orang perempuan dan anak kecil, menurut pengamat Pajang, mungkin mereka sekarang berjumlah sekitar seribu orang,” Ki Swandanu menambahkan.

Sebenarnyalah mereka berlima belum tiba pada akhir pembicaraan ketika matahari telah bergulir melewati garis tengah langit. Seorang perempuan setengah baya membawa jamuan makan siang ke pendapa.

“Silahkan kita beristirahat dulu. Selepas makan siang ini nanti mungkin kita lanjutkan pembicaraan ini. Sementara bahan-bahan yang diperoleh dari Ki Swandanu dan Ki Hanggapati belum dapat dikatakan cukup untuk memberi arah bagi Bondan selanjutnya,” Nyi Retno menutup perkataan sembari mempersilahkan orang-orang untuk menikmati hidangan yang tersaji.

Demikianlah kemudian orang-orang yang berada di pendapa melakukan makan siang bersama, percakapan ringan mewarnai keakraban mereka yang sebenarnya sudah saling mengetahui sejak lama.

Dalam pada itu, ketika peperangan yang terjadi di Sumur Welut telah berlalu, sekelompok orang dalam jumlah yang cukup banyak bergerak menjauhi kotaraja. Iring-iringan ini merupakan pasukan yang masih setia pada Lembu Sora dan Gajah Biru. Beberapa kali usaha dilakukan oleh pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Nagapati untuk menuntut keadilan bagi kedua panglima mereka. Kedua orang ini adalah panglima perang yang tangguh dan mumpuni dalam gelar perang. Tanpa pembelaan dan penyelidikan, kedua panglima itu dijatuhi hukuman mati secara mengenaskan di halaman keraton. Sebenarnyalah mereka telah menjadi korban dari satu  kekuatan yang cukup kuat dan membayangi Ra Dyan Wijaya di lingkungan keraton. Akan tetapi, pada akhirnya kelompok pasukan yang sebenarnya sangat kuat itu dapat dihalau keluar dari kotaraja. Karena wawasan dan kebesaran hati Ki Patih Mpu Nambi akhirnya mereka dapat diarahkan menuju Pajang yang dipimpin oleh keluarga dekat Ra Dyan Wijaya.

Perjalanan panjang yang telah mereka lalui akhirnya membawa mereka tiba di luar batas kota Pajang. Ki Tumenggung Nagapati memerintahkan untuk membuka perkemahan di sebelah utara sebuah hutan kecil yang berjarak ratusan patok dari batas kota Pajang. Meskipun begitu, beberapa orang diantara mereka terpaksa tidak dapat melanjutkan perjalanan dan akhirnya terpaksa tinggal di beberapa pedukuhan yang mereka lewati.

Beberapa hari setelah mereka tinggal di perkemahan, Ki Tumenggung Nagapati memutuskan untuk memasuki kota Pajang dengan disertai dua orang pengawal. Ki Nagapati berencana untuk bertemu dengan Panji Giribangun yang menjadi Bhre Pajang.

Saat pasar temawon, Ki Tumenggung Nagapati bersama kedua pengawalnya telah berada di gerbang kota. Seorang penjaga bergegas keluar dari gardu penjagaan dan memberi tanda untuk berhenti. Ketiga orang dari kotaraja itu menarik kekang kuda dan mendekat ke gardu jaga.  Kemudian penjaga mengetahui bahwa ketiga orang yang mendekat gardu jaga adalah prajurit Majapahit. Ki Tumenggung Nagapati memang datang dengan pakaian seorang tumenggung, begitu pula kedua pengawalnya yang berpakaian prajurit. Tanda-tanda keprajuritan yang melekat pada pakaian mereka telah dikenali dengan baik oleh penjaga perbatasan.

Seperti yang biasa terjadi ketika seorang prajurit melaksanakan tugasnya, maka prajurit penjaga itu bertanya kepada Ki Tumenggung dan segala yang terikat dengan kedatangannya itu.

“Ki Tumenggung Nagapati, silahkan masuk. Sementara temanku akan memanggil pemimpin kami yang sedang berada di dekat regol kadipaten,” berkata penjaga itu sambil mempersilahkan mereka menunggu di dalam gardu penjagaan.

Ki Nagapati menganggukkan kepala, dan,” terima kasih.” Ia menoleh ke pengawalnya lalu,” marilah, kalian juga menunggu bersamaku di dalam.”

 

 

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: