Simpang Menoreh – Panembahan Tanpa Bayangan 2

“Marilah kita pergi dari sini sebelum orang-orang menaruh kecurigaan,” kata Ki Wijil, kemudian ia melanjutkan,” sebaiknya kita melihat-lihat tempat yang lan.”

“Pasar,” Sayoga berkata.

Nyi Wijil tersenyum mendengarnya, Sayoga yang menoleh ke arahnya kemudian,” kita belum makan sejak malam hampir berakhir.”

Ketiganya lantas meghentak lambung kuda dan Ki Wijil memberi tanda untuk berbelok arah kiri.

Sinar matahari mulai menggatalkan kulit, akan tetapi kegiatan di pedukuhan itu masih belum begitu ramai. Sepanjang jalan di dalam pedukuhan yang mereka telusuri, ketiga orang ini menyaksikan keadaan yang tidak terawat. Rumah-rumah besar yang berukiran halus dan berdinding kuat juga seperti tidak berpenghuni.
Seakan mengetahui letak pasar, mereka menunggang kuda dengan pelan.

Dalam pada itu, agaknya ki jayabaya mengetahui kehadiran tiga penunggang kuda yang berada di bawah pohon asam.

2018-01-14_07-56-38-365

“Apakah kalian melihat tiga orang penunggang kuda yang berhenti di pohon asam?” tanya ki jayabaya kepada satu peronda.

“Tidak, ki. Tempat kami berdiri tadi tidak mungkinkan melihat mereka,” jawabnya.

“Hmmm, baiklah. Kau ikuti mereka. Ambil jalan melewati pekarangan Ki Suminar, agaknya ketiga orang asing itu menuju pasar,” ki jayabaya memerintahkan peronda untuk mengawasi Ki Wijil dan keluarganya. Segera ia berlalu meninggalkan ki jayabaya yang masih berkumpul dengan peronda yang lain.

Setibanya di depan pasar, Ki Wijil menyapu pandangan dengan teliti. Sementara itu, Sayoga melompat turun dari kuda dan menghampiri kedai yang sedang melayani sedikit pembeli.

“Marilah ki sanak,” berkata seorang pelayan dengan tatap mata curiga.

“Baiklah, aku minta disiapkan tiga nasi dengan sayur lodeh dan ikan pindang,” kata Sayoga.

“Tiga? Bukankah ki sanak seorang diri?” tanya pelayan sembari melihat keluar pintu.

“Ayah ibuku akan segera kemari. Mereka sedang melihat-lihat kain di dalam pasar,” kata Sayoga sekenanya. Lalu,”sudahlah, siapkan saja dan sekalian tiga wedang sere yang hangat.”

Pengunjung kedai yang tidak begitu banyak, segera menghentikan percakapan ketika Sayoga memasuki kedai. Tatap mata curiga melekat pada setiap gerakan dan ucapan Sayoga. Keadaan itu bukan tidak disadari oleh Sayoga namun ia lebih memilih untuk bersikap wajar.

Pemilik kedai yang berada di balik meja yang tergelar banyak masakan berkata,” tentu ia bukan orang dari kaemangan ini. Dan aku rasa ia juga bukan pedagang,” kepada pelayannya. Pelayan itu melirik sekilas ke arah Sayoga dan menganggukkan kepala.

“Aku takut peristiwa beberapa malam yang lalu terjadi di kedai kita ini, ki.”

“Mintalah pada Yang Maha Kuasa agar mencegah itu terjadi,” kata pemilik kedai dengan nafas panjang. Pelayan itu mengiyakan ucapan majikannya dan segera mengantarkan pesanan Sayoga.

Tak berapa lama kemudian, Ki Wijil beserta istrinya telah duduk bergabung dengan Sayoga. Untuk kemudian mereka melakukan makan pagi yang sebenarnya sudah terlambat dilakukan. Tidak ada percakapan yang terjadi dalam masa itu. Beberapa pengunjung nampak bergegas menyelesaikan makan dan segera keluar dari kedai setelah melakukan pembayaran.

Kini hanya mereka bertiga sajalah yang berada di dalam kedai. Sayoga berjalan menghampiri pemilik kedai, sambil membayar ia bertanya,” ki sanak, apa yang sedang dialami pedukuhan ini? Hingga akhirnya setiap pengunjung melihatku penuh curiga?”

Tergugup pemilik kedai mendapat pertanyaan yang tidak ia kira sebelumnya. Dengan tergagap katanya,” tidak ada apa-apa, ki sanak. Pedukuhan ini tidak mengalami kejadian apapun.” Sedikit gemetar tangan pemilik kedai menerima tiga keping perak dari Sayoga. Lekat mata Sayoga melihat dirinya dan ia tidak dapat menyembunyikan wajah yang sedikit pucat dari penglihatan Sayoga.

“Sebaiknya kau berkata jujur, ki sanak. Kami adalah keluarga yang sedang menuju Demak. Ada sanak kadang kami yang menderita musibah. Kami akan menengoknya. Keteranganmu akan dapat membantu kami menghindar bahaya di perjalanan,” Sayoga membuat alasan yang dapat diterima nalar pemilik kedai.

” Tidak ada yang dapat aku katakan padamu, anak muda. Karena memang pedukuhan ini tidak mengalami apapun seperti yang kau duga,” kata pemilik kedai.

Selagi pemilik kedai menghitung biaya dan kembaliannya, Sayoga melirik lincak bambu yang berada di sebelah dapur. Di atas lincak bambu itu terdapat selembar kulit harimau dan sebilah parang kotor.

” Tidak mungkin orang ini menjadi seorang pemburu harimau. Jika melihat jemari dan otot tangannya, jelas ia bukan pemegang parang yang cukup baik,” Sayoga menilai dalam hatinya. Kemudian ia menerima kembalian dari pemilik kedai. Sementara itu, Ki Wijil dan Nyi Wijil telah bersiap di sebelah kuda mereka.

” Menjelang matahari tergelincir, aku akan kembali kemari. Sementara itu kita dapat mencari tempat untuk bermalam,” Sayoga berkata.

” Maksudmu sebuah penginapan?” tanya Nyi Wijil.

” Atau rumah penduduk?” susul Ki Wijil.

” Tidak. Aku kira kita masih akan beratap langit dan beralas rumput empuk yang segar,” kata Sayoga kemudian menepuk leher kudanya.

Mereka kemudian berpacu menuju hutan di sebelah barat pedukuhan. Debu membumbung oleh derap kaki kuda.

Dalam pada itu, sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan semenjak Sayoga memasuki kedai. Pengintai ini bergegas keluar dari persembunyian dan berlari kecil mengikuti jejak-jejak kuda keluarga dari Tanah Menoreh.
Ia mengikuti dengan cukup hati-hati, agaknya pengintai ini mempunyai pengalaman yang cukup dalam tugas pengamatan. Dari balik gerumbul pohon pisang yang berada di sisi pagar bambu, ia merunduk. Tampak olehnya ketiga orang asing itu sedang berputar-putar seakan mencari sesuatu.

“Agaknya mereka orang-orang berilmu sehingga berani mendekati hutan yang menjadi sarang harimau. Ataukah mereka tidak tahu jika mereka sedang mengantarkan nyawa bagi penunggu hutan?” desis pengintai.

 

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: