Celoteh Wit Asem

Balada Opini Nyangap

Tanggapan sebuah artikel http://www.seword.win/2018/02/anies-vs-jokowi-2019-pertarungan-yang.html

 

Masuk seword.win ketemu judul anis vs Jokowi, d tata dgn kalimat bombastis. Jadi ingat koran bungkus kacang era 90 an. Ga peduli isi berita kondom bocor, yang penting judulnya bikin pembaca nggacor. Pangsa pasar  spesifik bikin otak bocor. Minim prestasi maksimal sensasi. Cara termudah unjuk diri hanyalah dengan membodohi.
Syah dan ga ada larangan bikin opini ini itu tentang sesuatu. Terlebih terkait pilpres 2019. Pengkondisian yang libatkan duit  gede. Dukung siapa aj bebas sebebasnya. Mau giring opini, persepsi & emosi massa dgn teknik agitasi, pencitraan satelit maupun pengacak sinyal otak, silahkan aj. Koridor sdh jelas. Ada aturan hukum dan perangkatnya. D sini batasan tema & volume teriakan tegas di nyatakan. Kalau budaya hukum kita sementara ini memang masih remang. Ruang temeram di huni ribuan demit yang suka sebut diri oknum. Penyamun.
Membandingkan popularitas Jokowi dengan siapa aja ga masalah. Syah! Alangkah baiknya bila ga berhenti d siapa paling populer. Mbok ya sekali sekali bertanya “siapa yang paling bermanfaat bagi masyarakat luas? Bermanfaat dari sabang sampai merauke! Bermanfaat bagi kemanusiaan!”  Pilih pemimpin kok di arahkan sebatas tingkat popularitas, elektabilitas, maupun ereksionitas…. Emang situ tinggalnya d kali brantas yang mandi ga mentas mentas…?!
IMG-20180209-WA0000
Nak, apapun komunitas maupun habitat mu, coba ingat rangkaian demo panjang pilkada DKI lalu. Semarak suasana yang sudah di rancang sedemikian rupa dengan modal ga sedikit, reda tanpa makna di tiup canda para bocah yang berderet sepanjang pantura jawa dengan senyum lugu “om telolet om”.
Selalu ada faktor x dalam hidup kita. Papan catur di depan mata sejumlah 64 kotak aj ada langkah ga terduga. Apalagi ini tentang hidup berbangsa bernegara yang isi penumpang nya ratusan juta jiwa. Ingat nak, JIWA! Jiwa yang punya otak punya rasa. Rakyat bukan obyek mati sebuah benda. Rakyat yang berisi kakek nenekmu, bapak ibumu, paman bibimu, juga anak cucumu. Anak cucu kita semua.
Manusia boleh merancang apa aj. Itu hak manusia. Namun Tuhan lah maha penentu, pemilik kehidupan dengan kuasa prerogatif maha mutlak.
Silahkan rancang beragam strategi. Nusantara kita sudah teruji ribuan tahun dengan intrik konspirasi namun nyatanya tetap berdiri kokoh sampai detik ini. Banyak kisah sejarah, perang saudara Puputan bayu d banyuwangi salah satunya. Nyaris seratus ribu nyawa melayang sia sia.
Pertarungan Jokowi – Anis hanya versimu saja. Selama angin berhembus luruhkan dedaunan kering, selalu ada probilitas lain di luar kemampuan otak dangkal manusia. Bila terjadi Ahok ga terduga bebas lalu satu padukan gerak kami yang muak, pasti bikin rancangan manusia berantakan. Anis kasus gelembung busa anggaran kemendiknas tiba tiba di proses pasti bikin wajah kalian masam. Atau minggu depan sandi naik status resmi tersangka? Sangat terbuka juga kemungkinan sang maskot kalian “dicukupkan tuhan” usianya dalam waktu dekat. Bila sang maskot dicukupkan tuhan, beranikah dirimu menggantikan posisinya sebagai oposisi abadi..? Jangan lah nak. Jual lapangan bola se kabupaten tempatmu tinggal juga masih kurang. Perlu modal ga sekedar koar koar. Buang dulu ingusmu agar bisa berpikir panjang.
gus dur
Sekarang era revolusi mental. Janin janin kemanusiaan yang di tanam Gus Dur mulai tumbuh berkembang. Hembusan angin membawa banyak cerita perubahan. Nusantara ga pernah kekurangan stock peran protagonis maupun antagonis.
Roda kehidupan terus berjalan… Ingat ya nak, ada faktor x dalam kehidupan!
(Puncak penanggungan 17/02/18. marlonggu asuedan sijancokjaran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *