Panembahan Tanpa Bayangan 9

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Tiba-tiba seekor kuda meringkik di dekatnya dan kemudian diikuti sebuah bayangan meluncur cepat melintasi sungai tempatnya berendam. Begitu cepat orang itu melayang di atas sungai hingga bayangannya hanya nampak seperti selarik garis titik hitam yang panjang. Sayoga mengerutkan keningnya ketika melihat bayangan hitam melesat di sebelah timur dari tempatnya. Ia bergegas keluar dari sungai dan mengikuti jejak bayangan hitam.

“Sungguh cepat sekali orang itu bergerak,” Sayoga berdesah dalam hatinya. Sementara penglihatannya menebar ke permukaan rumput kering dan dedaunan yang jatuh ke tanah. Tanpa ia sadari kini ia mulai mendekati sebuah perkampungan yang sedikit agak jauh dari tepi hutan. Perkampungan ini tidak tampak dari tempat Sayoga berdiri. Tempat itu hanya dibatasi pepohonan yang tumbuh tidak begitu rapat namun begitu Sayoga melihat jejak kaki itu mengarah ke dalam hutan.

“Apakah itu sebuah rumah atau sebuah pedukuhan kecil?” Sayoga duduk berjongkok di bawah sebuah pohon gayam. Dengan mata terpicing,”Aneh! Bila itu adalah pedukuhan, tapi mengapa ia tidak dikelilingi sawah maupun pategalan?” Lalu ia membandingkan dengan Pedukuhan Jatisrana, tempat asalnya, atau Tanah Perdikan Menoreh yang jika diamati olehnya maka sebuah pedukuhan atau perkampungan yang besar hampir selalu dibatasi sawah atau pategalan baru kemudian sebuah hutan atau pedukuhan tetangga.

Angin yang semilir dan hari yang panasnya membuat pakaian Sayoga mulai mengering sedikit demi sedikit. Lalu ia berkata, ”Aku akan kembali dulu ke banjar, tentu Ayah dan Ibu akan bertanya banyak jika aku terlalu lama meninggalkan banjar. Dan juga agaknya para pengawal juga belum sepenuhnya mempercayai kami semua,” dalam hatinya.

Sayoga beringsut mundur dan baru membalikkan badan setelah beberapa langkah dari tempatnya mengintai perkampungan tadi.

Ki Wijil yang sedang bercengkerama dengan Nyi Wijil beserta dua tiga pengawal di banjar pun masih menjadikan peristiwa di rumah Ki Tanu Dirga sebagai pokok persoalan. Keterangan dari pengawal pun sebenarnya dapat menjadi keterangan yang kuat untuk mengetahui keanehan demi keanehan yang terjadi di pedukuhan itu.

“Sebenarnya peristiwa aneh semacam itu telah telah terjadi berulang di pedukuhan ini, Ki Wijil,” seorang pengawal berkata sambil menuangkan wedang jahe ke mangkuk kedua tamunya. Kemudian, ”dan berulang kali pula Ki Jagabaya dan Ki Bekel selalu kesulitan menangkap pelakunya.”

Ia mendesah panjang, lalu katanya, ”Baru hari ini sebuah kematian terjadi.” Ia menundukkan kepala.

“Apakah sebelumnya tidak pernah terjadi pembunuhan selama keadaan aneh itu terjadi?” bertanya Nyi Wijil. Pengawal yang ditanya menjawab dengan gelengan kepala, sementara dua kawannya menganggukkan kepala. Lima orang di banjar itu baru saja menyelesaikan makan pagi bersama dengan nasi hangat yang dikirimkan oleh orang yang menunggu di banjar.

“Bukankah Ki Wijil kemari bersama seorang anak lelaki? Kemana anak itu sekarang, Ki?” tanya seorang pengawal yang agaknya baru menyadari Sayoga yang tidak ada di banjar. Sedangkan semalam ia serba sedikit berbicara dengan akan muda itu. Akan tetapi tiga pengawal itu agaknya merasa berat setiap kali ingin bertanya tentang hubungan yang ada diantara KI Jagabaya dengan Ki Wijil.

“Anak itu sedang di sungai. Tadi sebelum Ki Jagabaya menjemput kami berdua, ia sudah berjalan ke sungai sama temanmu pengawal yang lain tetapi ia telah kembali ke banjar setelah memberikan arah pada Sayoga,” jawab Ki Wijil.

“Semoga saja ia dapat memahami pesanku semalam,” desis Ki Wijil sambil melihat istrinya.

Lalu ia bertanya kepada pengawal yang bertubuh gemuk, ”Apakah Ki Tanu Dirga itu asli penduduk pedukuhan ini?”

Pengawal itu menggelengkan kepala. Seorang temannya menjawab, ”Mengapa kau tanyakan itu, Ki Wijil?”

“Bukan. Aku hanya mengamati sepintas bangunan rumahnya yang nampaknya baru saja berdiri. Rumah itu terlihat lebih bagus daripada rumah seorang demang yang pernah aku lihat dalam perjalanan sebelum tiba di pedukuhan ini,” Ki Wijil menjawab kemudian ia menengok ke jalan yang menuju banjar dan dilihatnya Sayoga sudah mendekati banjar pedukuhan.

“Itu dia Sayoga,” kata pengawal yang gemuk sambil menunjuk ke arah Sayoga yang rambutnya berkibar-kibar sebahu diterpa angin.

Tinggalkan Balasan