http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852
Panembahan Tanpa Bayangan

Panembahan Tanpa Bayangan 12

“Tentu tidak. Silahkan Ki Wijil!” Ki Bekel membetulkan letak duduknya dan mendengarkan Ki Wijil yang menceritakan rincian peristiwa yang terjadi di pedukuhan sejak kedatangan keluarganya. Ki Bekel mendengarkan penuh perhatian, sesekali ia manggut-manggut dan menghela nafas panjang. Ia tidak melewatkan satu bagian pun dari penuturan Ki Wijil.

“Ki Tanu Dirga?” tanya Ki Bekel dengan alis berkerut.

“Kejadian itu berlangsung cepat sekali. Ki Jagabaya pun tidak mengetahuinya jika seorang pengawal tidak mendatanginya,” Ki Wijil menjawab sambil menggelengkan kepala karena kesulitan untuk mengerti latar belakang kejadian yang begitu cepat terjadi semenjak ia dan keluarganya memasuki pedukuhan.

“Apakah pada saat Ki Wijil mendengar tangis bayi itu,” ucap Ki Bekel, ia terdiam sejenak kemudian lanjutnya,” Kiai juga melihat seorang perempuan muda di rumah Ki Tanu Dirga?”

“Aku melihatnya. Akan tetapi tidak banyak yang dapat dilakukan oleh kami berdua bersama Ki Jagabaya.”

“Nanti malam aku mengundang Ki Wijil dan keluarga untuk menikmati hidangan sekedarnya di rumahku. Siang ini aku akan melihat-lihat dulu keadaan pedukuhan,” kata Ki Bekel.

“Ki Jagabaya akan mengajakku berbicara tentang kejadian yang terjadi, Ki Bekel. Di belakang banjar nanti kami akan bertemu,” Ki Wijil memberi tahu Ki Bekel tentang rencana Ki Jagabaya.

Alis Ki Bekel sedikit berkerut, lalu katanya, ”Baiklah. Aku akan mengundang Ki Jagabaya untuk berbincang mengenai persoalan itu di rumahku.”  Lalu ia meminta seorang pengawal untuk menemui Ki Jagabaya dan menyampaikan pesannya.

Ki Bekel bangkit lalu ia meminta diri untuk kembali melakukan kegiatan yang cukup lama ia tinggalkan. Ki Wijil disertai keluarganya lalu mengiringkan Ki Bekel sampai regol banjar.

Pada malam itu seperti yang direncanakan Ki Bekel, mereka bertemu di rumah Ki Bekel dan berbincang mengenai berbagai persoalan selepas makan malam. Sementara Nyi Wijil menyempatkan diri untuk membantu Nyi Bekel mengemasi dan membersihkan peralatan makan. Akan tetapi Ki Bekel dan Ki Jagabaya meminta Sayoga untuk tetap berada di pendapa.

Ki Jagabaya pun mengurai satu demi satu peristiwa janggal yang terjadi sepeninggal Ki Bekel. Keterangan yang dipaparkan oleh Ki Jagabaya membuat Ki Wijil dan keluarganya menjadi lebih jelas untuk melihat titik terang.

“Di sebelah selatan pedukuhan ini, kalau kita berjalan ke belakang banjar terus ke selatan kita akan bertemu sungai kecil. Beberapa puluh tombak kemudian ada sebuah hutan. Sebenarnya hutan itu tidak pernah dijamah oleh manusia, akan tetapi beberapa pekan terakhir seperti ada sejumlah orang yang mendirikan perkampungan kecil.

Lalu ada salah seorang dari mereka sempat meminta waktu untuk berbicara denganku,” Ki Bekel berhenti sejenak seperti berusaha mengingat sesuatu.

Sambil memijat dahinya, ia berkata, ”Aku lupa nama orang itu. Pada dasarnya ia memintaku untuk memberi ijin membuka hutan menjadi sawah dan pategalan. Ia mengatakan sesuatu tentang padepokan yang bernama Tunggul Bawana. Tentu saja aku menolak untuk memberikan bagian hutan yang mereka inginkan.”

“Kemudian terjadilah peristiwa yang sulit diterima oleh nalar sehat, setiap kejadian berlangsung begitu cepat dan selalu hampir tidak ada orang yang menjadi saksi mata,” Ki Jagabaya menambahkan. Sayoga hampir saja membuka mulutnya untuk mengatakan apa yang ia lihat ketika berendam di sungai. Akan tetapi Nyi Wijil cepat menggamit pinggulnya.

“Lalu apakah Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah mencoba mendatangi perkampungan kecil itu?” Ki Wijil bertanya dengan nada rendah.

“Kami berdua berdua telah datang ke tempat itu. Hanya sekali dan itu yang terakhir kali, Ki Wijil,” berkata Ki Bekel lalu menyandarkan punggungnya seolah-olah ingin meletakkan beban berat di pundaknya.

Ki Wijil menatap bergantian kedua orang tetua pedukuhan yang duduk di depannya, lalu ia menoleh pada Nyi Wijil dan terus menggilirkan pandang matanya bergantian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *