http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852
Panembahan Tanpa Bayangan

PTB – Merebut Mataram 7

Sayoga dan Nyi Wijil setapak demi setapak semakin jauh meninggalkan regol pedukuhan dan kemudian mereka mengambil jalur yang berbeda dengan jalan utama. Nyi Wijil agaknya ingin perjalanan menuju Kademangan Mangunreja itu juga dapat menjadi sebuah bagian dari latihan-latihan yang harus dijalani oleh Sayoga. Oleh karenanya ia mengajak Sayoga berjalan menyusur sungai kecil yang mengalir di sela-sela tanah perbukitan. Sesekali mereka berhenti dalam waktu cukup lama agar Sayoga mendapatkan kesempatan yang cukup untuk menjadikan ilmu Serat Waja semakin dalam meresap dalam setiap bagian dirinya. Tak jarang Nyi Wijil melakukan latih tanding dengan Sayoga dengan cara yang cukup keras. Nyi Wijil benar-benar ingin melihat dan menjajagi kemampuan puncak Sayoga.

Maka dengan begitu perjalanan menuju Kademangan Mangunreja menjadi beberapa hari lamanya. Dalam pada itu, Nyi Wijil telah sampai pada suatu penilaian jika Sayoga telah mempunyai bekal yang cukup dan ia merasakan sendiri peningkatan yang tajam jika dibandingkan ketika berkelahi melawan Ki Jagabaya. Ketangkasan, kekuatan tenaga dan kelincahan serta kemampuan membaca pertarungan telah benar-benar berkembang dan mengalir sesuai harapan Ki Winatra. Kepercayaan diri Sayoga semakin mantap seiring dengan setiap gerak yang ia lakukan. Namun begitu, Nyi Wijil masih melihat kesalahan-kesalahan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan Sayoga sehingga dalam banyak kesempatan Nyi Wijil memberi petunjuk pada anaknya agar semakin meningkatkan diri lapis demi lapis.

Nyi Wijil sendiri juga dapat menyaksikan kehebatan ilmu Serat Waja yang diajarkan Ki Winatra pada Sayoga. “Sebuah karunia besar dari Yang Maha Agung,” pikir Nyi Wijil,” semangat dan bakat yang ia miliki akan dapat terus berkembang dan mungkin saja ia akan menjadi orang yang sulit ditandingi oleh anak muda seusianya.”

Kini Sayoga sudah tidak mempunyai keraguan untuk mengetrapkan Serat Waja yang dimilikinya. Ia tak segan-segan membenturkan tenaganya ketika berlatih dengan ibunya. Berulang kali ia terpental karena dorongan tenaga Nyi Wijil, namun Sayoga secara bertahap mampu menempatkan kendali atas tenaga yang ada dalam dirinya. Hari telah beranjak sore ketika beberapa rumah mulai terlihat oleh mereka. Akan tetapi Nyi Wijil justru membawa anaknya menuju tanah yang berbentuk seperti bukit dan terletak di tengah-tengah sawah yang membentang mengelilingi sebelah timur kademangan.

“Sayoga, mari kita berlomba memanjat lereng dengan cara yang tidak biasa!” kata Nyi Wijil. Sayoga mengernyitkan dahi mendengar kata-kata ibunya. Nyi Wijil kemudian menjelaskan maksudnya tentang cara yang tidak biasa. Dengan tekun Sayoga mendengarkan setiap kata yang diucapkan ibunya dan ia merasa cara yang diminta ibunya merupakan cara yang sangat sulit.

“Jadi apabila kaki atau tanganku menyentuh tanah berarti aku kalah dalam perlombaan ini?” tanya Sayoga.

“Betul, Ngger. Kau harus dapat memanfaatkan setiap dahan dan ranting yang terjulur dengan meniadakan berat tubuhmu,” jawab Nyi Wijil dengan tatap mata lurus memandang puncak. Sayoga mengedarkan pandangan berkeliling dan gundukan tanah itu tidak mempunyai bagian yang landai. Setiap bagian merupakan bidang yang hampir tegak lurus. Satu atau dua bagian lereng justru terdiri dari bebatuan yang menonjol dan bagian lain dari dinding bukit kecil itu ditumbuhi pepohonan kecil yang nyaris tumbang.

“Kau telah bersiap?” Nyi Wijil memperhatikan anaknya yang masih mengamati lingkungan yang akan dijadikan tempat perlombaan.

Sayoga menganggukkan kepala lalu sejenak kemudian ia membenahi bungkusan yang melekat pada punggungnya. Satu tarikan nafas panjang menjadi pertanda bagi Nyi Wijil untuk mengeluarkan aba-aba. Maka sejenak kemudian keduanya telah berlompatan cepat. Kaki-kaki mereka seolah mempunyai mata ketika mereka menginjak batang atau dahan yang terjulur, sementara tangan-tangan mereka dengan lincah menggapai bagian-bagian yang dapat dijadikan tumpuan untuk bergelayut. Tubuh mereka melesat sangat cepat dan begitu ringan saat melayang di udara. Tidak berapa lama kemudian Nyi Wijil terlebih dahulu menyentuh bagian atas gundukan tanah yang menyerupai bukit kecil namun sekejap kemudian Sayoga telah berdiri disampingnya. Meskipun demikian, tampak dada Sayoga bergelombang dengan nafas terengah-engah.

“Kau mengalami kesulitan?” bertanya Nyi Wijil.

“Tentu saja, Ibu,” Sayoga mengangguk. Katanya lagi,”latihan ini benar-benar di luar dugaanku selama ini.”

“Di dekat Kali Kedawung, rumah kita dikelilingi dengan tebing-tebing yang tegak lurus. Sungai yang mengalir di depan rumah juga dipenuhi bebatuan yang bertonjolan. Pada saat itu, aku sering melihatmu berloncatan dari batu ke batu. Namun semenjak kita berada di Tanah Perdikan, aku tidak lagi pernah melihatmu berlatih seperti saat di Kali Kedawung,” Nyi Wijil berkata. “Dan aku kira apa yang baru saja kita lakukan dapat membantumu mengingat petunjuk ayahmu tentang keseimbangan.”

“Aku mengerti,” kata Sayoga yang masih mengatur alur pernafasannya. Lalu ia menambahkan,”Dan aku juga mengerti latihan-latihan keras yang ibu perintahkan padaku sebenarnya telah mengingatkan diriku tentang arti penting sebuah pengendalian.”

“Dalam perkelahian yang sebenarnya, kemampuan untuk membaca tata gerak lawan dan keseimbangan dirimu dalam mengatur tenaga akan mempengaruhi hasil akhir,” kata Nyi Wijil. Nyi Wijil berjalan perlahan dan duduk bersandar pada pohon ketapang. Ia berkata lagi,”Suatu ketika kau akan menghadapi lawan yang mengerikan. Di luar sana, akan ada banyak orang yang berkelahi tanpa memperdulikan batasan-batasan yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang menguasai olah kanuragan.”

Sesaat kemudian, tiba-tiba Nyi Wijil menghentakkan kaki dan menyerang Sayoga dengan sebuah terjangan yang dahsyat. Terkejut dengan serangan mendadak yang dilakukan oleh ibunya, Sayoga menangkis sekenanya dan meloncat surut beberapa langkah. Akan tetapi Nyi Wijil tidak berhenti menyerang Sayoga. Serangan demi serangan datang bergelombang dengan kekuatan penuh. Kedua tangan dan kaki Nyi Wijil melepaskan pukulan dan tendangan secara bertubi-tubi. Maka dengan begitu Sayoga akhirnya pun mulai meningkatkan daya tahan tubuhnya dan merapatkan pertahanan dengan olah gerak yang ia pelajari dari Ki Winatra. Meskipun Sayoga juga menyadap ilmu dari garis perguruan Nyi Wijil, namun pada saat itu Nyi Wijil dengan sungguh-sungguh menggunakan semua pengalaman dan pengetahuannya untuk menyerang Sayoga.

Kini mereka berhadapan layaknya  satu pertempuran hidup dan mati. Dan ternyata Sayoga benar-benar tidak membuat kecewa hati ibunya. Ia sangat tangguh mempertahankan kedudukan dan menjaga keseimbangan setelah ia sendiri dengan segenap perhatian mulai mencoba memasukkan unsur gerakan dari jalur ibunya yang dipadukannya sendiri dengan unsur gerak dari jalur ayahnya. Untuk beberapa lama kemudian Nyi Wijil terpaksa berhati-hati karena ketrampilan Sayoga telah melonjak di luar dugaannya.

Dan ketika Nyi Wijil telah merasa cukup berkelahi dengan tangan kosong melawan anaknya, tiba-tiba dua bilah pedang telah tergenggam kedua tangannya. Sayoga yang menyadari latihan keras yang dihadapinya, bergegas meloncat surut dan terguling beberapa langkah. Sebuah ranting sedikit panjang diraihnya untuk dijadikan sebuah senjata.

“Bagus, Anakku! Aku ingin kau dapat mengimbangi kecepatan ilmu pedang yang ibu miliki,” mengatup rapat bibir Nyi Wijil lalu tubuhnya melayang cepat melebihi kecepatan anak panah menyerang Sayoga seperti badai di tengah lautan.

“Ibu jangan paksakan diri!” seru Sayoga.

Nyi Wijil tidak menghiraukan seruan Sayoga, kedua pedang ditangannya berkelebat dan mengeluarkan suara bercuitan karena lambaran tenaga dan kecepatan yang ia miliki. Dalam sekejap latihan itu semakin berkembang dengan cepat. Sayoga menggerakkan ranting dengan lambaran ilmu Serat Waja untuk mengimbangi gulungan pedang ibunya yang mulai merapat mengurung tubuhnya. Sayoga sedikit banyak mampu menjaga keseimbangan perkelahian namun ia tidak menyalurkan ilmu Serat Jiwa sepenuhnya pada ranting yang dijadikannya senjata. Meski sebenarnya Nyi Wijil telah mengetrapkan tenaga inti dalam setiap juluran pedang sehingga lengan Sayoga mengalami goresan kecil meskipun ujung pedang ibunya masih berjarak dua jengkal dari tubuhnya. Namun latihan dengan senjata yang sangat seru itu tidak berlangsung lama. Nyi Wijil melentingkan tubuhnya menjauh dari pusat lingkaran perkelahian. Melihat ibunya telah menghentikan serangan, Sayoga pun menempatkan dirinya dalam keadaan berdiri tegak. Ia melihat senyum menghiasi raut wajah ibunya yang berjalan mendekatinya kemudian mengajaknya duduk di bawah pohon ketapang.

Sayoga menarik nafas dan ia duduk di sisi ibunya. Nyi Wijil menoleh padanya kemudian berkata,”Anakku, aku yakin kau akan dapat bertempur beradu dada seorang lawan seorang. Namun pada suatu ketika kau akan melawan dengan banyak orang. Dan apabila itu terjadi,kekuatan yang ada dalam dirimu mungkin tidak akan berpengaruh lebih banyak. Seseorang dapat saja memukul dari arah punggungmu atau mungkin secara bersamaan akan menyerang dari dua sisi yang berbeda. Untuk itu kau harus mampu memilah lawan dan benar-benar cermat dalam menggunakan tenaga.”

Nyi Wijil lantas meraih sebatang ranting dan mencoret-coret tanah dihadapannya untuk memberi petunjuk-petunjuk penting pada anaknya. Berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pun mereka bicarakan dalam waktu itu.

“Aku yakin apabila kau dapat membawa dirimu pada kemampuan yang lebih tinggi dari waktu sekarang,” kata Nyi Wijil kemudian,”Bahkan mungkin kau ada sedikit di bawah lapisan pemimpin pasukan khusus Mataram. Akan tetapi ia bukan orang yang akan menjadi lawanmu. Mungkin suatu ketika kau justru akan menimba pengetahuan pada dirinya agar keadaan dirimu semakin lengkap.” Sayoga mengangguk. Lalu kata Sayoga,”ia adalah orang baik dan setia. Kita telah bertempur disisinya, ibu.”

Nyi Wijil mengangguk setuju lalu ia mendongakkan wajah dan berkata,“Kita akan bermalam di tempat ini dan masuk kademangan ketika orang-orang mulai melakukan kegiatan.”

Sayoga mengalihkan pandangan, tampak jelas olehnya beberapa obor mulai dinyalakan oleh para peronda. Ia mengerutkan dahi ketika tatap matanya menangkap beberapa orang bergerak cepat mendekati kademangan dari sebelah timur. Ia menggeser kedudukannya saat telinganya mendengar pergerakan yang dilakukan oleh ibunya.

“Mungkin malam ini kita tidak dapat beristirahat dengan nyaman, Ngger,” kata Nyi Wijil. “Orang-orang itu berlari dengan langkah yang ringan. Tentu mereka bukan orang kebanyakan,” tutur Nyi Wijil pelan.

“Aku akan turun mengikuti mereka,” kata Sayoga yang hampir saja berdiri sebelum dicegah oleh Nyi Wijil.

“Jangan gegabah!” kata Nyi Wijil sambil memegang lengan Sayoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *