Bara di Borobudur

Bondan – Bara di Borobudur 1

Dalam keremangan senja, dua ekor kuda berpacu cepat mendekati kotaraja. Debu tebal mengepul terlanda derap kaki kuda. Tiga orang pengawal pintu gerbang kota telah melihat kedua penunggang kuda yang melaju cepat ke arah mereka.

“Siapakah mereka? Berita apa yang mereka bawa ke Majapahit hingga setan tak mampu mengejar kuda-kuda mereka?” tanya pemimpin pengawal menoleh pada dua pengawal yang lain. Keduanya menggelengkan kepala. Bertiga mereka berjalan lebar dan berdiri di depan pintu gerbang dengan senjata merunduk.

Ketika kedua penunggang kuda itu semakin dekat, mereka menarik tali kekang dan melambatkan kuda-kudanya.

“Agaknya kedua orang itu tampaknya telah menempuh perjalanan yang sangat jauh,” menatap tajam kepala pengawal sambil berkata dalam hatinya. Ia mengangkat tangannya meminta kedua penunggang kuda untuk berhenti.

“Siapakah Ki Sanak berdua?” ia bertanya setelah kedua penunggang kuda itu melompat turun.

Keduanya maju dan membungkuk hormat lalu,” Kami datang dari Pajang. Kami utusan Resi Gajahyana.”

Kepala pengawal bergumam,”Resi Gajahyana,” lalu katanya,” aku tidak pernah mendengar nama yang kau sebutkan, Tentu orang itu bukan orang biasa. Baiklah Ki Sanak, sekarang sebutkan nama Ki Sanak. Dan beritahu kami, siapa yang akan Ki Sanak temui di kotaraja?”

Kedua utusan itu saling memandang sebentar. Sebenarnya mereka sedikit banyak telah mendengar keadaan di kotaraja. Akan tetapi mereka bukanlah pengikut dari Gajah Biru atau Lembu Sora sehingga dengan begitu mereka berdua merasa tidak akan terjadi apappun.

Lalu seorang diantara mereka melangkah maju dan sedikit membungkukkan tubuhnya, ”Saya bernama  Ki Swandanu. Dan temanku bernama Ki Hanggapati. Kami ingin bertemu dengan Ki Rangga Ken Banawa.”

“Baiklah,” berkata pemimpin pengawal, ”Silahkan Ki Sanak melanjutkan perjalanan.”

Demikianlah, setelah melewati beberapa bulak panjang yang belum ditanami maka mereka pun kemudian mendekati alun-alun lalu berbelok ke utara sesuai pesan dari Resi Gajahyana. Derap kaki-kaki kuda tidak terlalu mengejutkan orang yang berpapasan dengan kedua utusan dari Pajang. Mereka tidak memacu kuda dengan cepat.

Malam perlahan menyelimuti kotaraja. Para peronda di regol halaman itu sedikit terkejut melihat kedua penunggang kuda menghampiri rumah Nyi Retno Ayu Indrawati.

Sama halnya dengan sikap para penjaga pintu gerbang, para peronda yang berada di regol halaman rumah segera memberi isyarat untuk berhenti bagi kedua penunggang kuda itu. Derap kaki kuda yang mendekati halaman itu pun mengundang perhatian bagi Nyi Retno dan penghuni rumah yang lain. Hampir berbareng mereka kemudian telah barada di pringgitan. Seorang peronda segera menaiki pendapa dan mengatakan beberapa hal kepada Sela Anggara yang keluar menyambut peronda itu.

“Beritahu Bondan tentang kedua tamu kita malam ini. Ia sedang berada di sanggar seorang diri. Agaknya ia tak juga berhenti mengasah kemampuan,” berkata Sela Anggara kepada peronda. Kemudian peronda itu melangkah lebar memutar melalui pintu kecil yang berada di dekat gandok kanan. Sanggar keluarga Nyi Retno berada agak jauh dari rumah induk. Sanggar itu berada tepat di tengah-tengah halaman belakang.

Penampilan kedua utusan Pajang itu menarik perhatian. Di bawah terang lampu minyak, salah seorang diantaranya tumbuh janggut dan kumis yang lebat. Sedangkan kepala kedua orang itu diikat rapi oleh sebuah kain seperti yang biasa dipakai oleh Bondan. Semakin yakinlah Sela Anggara terhadap kedua orang yang mengaku utusan dari Resi Gajahyana, guru Bondan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *