Bara di Borobudur

Bondan – Bara di Borobudur 4

Oleh karena itu,  pada masa pemerintahan Sri Jayanegara sering mendapat gangguan keamanan. Hingga akhirnya Patih Mpu Nambi memerangi pasukan Lembu Sora dan Gajah Biru dan mampu menghalau mereka keluar dari kotaraja. Pasukan yang setia pada kedua panglima itu kemudian bergerak menuju Pajang dibawah pimpinan Ki Tumenggung Nagapati.

Semua orang yang tergabung dalam pasukan itu rela meninggalkan kotaraja, sanak keluarga dan kerabatnya. Mereka meninggalkan kotaraja dengan hati teriris sebilah bambu. Betapa kedua panglima mereka dihukum mati dengan cara mengenaskan. Kedua panglima mereka dibunuh tanpa alasan yang dapat mereka terima. Lalu upaya mereka untuk membicarakan masalah pengampunan selalu ditolak oleh Sri Jayanegara.

Maka atas saran dari Ki Patih Mpu Nambi, pasukan Ki Nagapati melakukan perjalanan panjang. Demikianlah kemudian mereka bergerak menuju Pajang dengan sebuah harapan akan diterima oleh Bhre Pajang yang masih saudara dekat Ra Dyan Wijaya.

Di pembaringannya, Ki Swandanu membayangkan wajah keras Bondan yang tergambar dari lekuk rahang dan tatap matanya. Ki Swandanu terhanyut oleh kenangan di masa lampau. Ia mengingat ketika Bondan memasuki regol halaman rumah Resi Gajahyana dalam gendongan ibunya yang datang bersama suaminya. Bondan adalah anak satu-satunya dari Panji Alit dan berhak atas kekuasaan sebagai Bhatara Pajang dari ayahnya.

Namun Panji Alit tidak begitu tertarik dengan tata pemerintahan sehingga akhirnya ia menarik diri dari lingkaran istana. Kemudian Panji Alit bersama dengan istrinya mendatangi Resi Gajahyana meminta kesediaannya untuk merawat dan membesarkan Bondan.  Atas pengunduran diri tersebut, Sri Maharaja Kertanegara kemudian menunjuk keturunan Panji Saprang sebagai penguasa Pajang sebagai penggantinya.

Sepeninggal kedua orang yang menetapkan diri sebagai pertapa di lereng gunung Sindoro, Resi Gajahyana mengajarkan Bondan tentang ilmu tata bela diri, sastra, ilmu perang dan kehidupan. Resi Gajahyana melihat bakat yang begitu besar dalam diri Bondan.  Sepanjang usianya semenjak berada dalam pengasuhan Resi Gajahyana, Bondan satu dua kali ditengok oleh kedua orang tuanya. Sekitar empat tahun sejak diasuh Resi Gajahyana, kedua orang tua Bondan berpulang kembali asal tempatnya datang.

Ki Swandanu yang berada di dekat Bondan semenjak kecil terkadang membawa Bondan melakukan perjalanan yang cukup jauh bagi seorang anak kecil. Glagahwangi, Trowulan, Daha, Madiun dan beberapa tempat lainnya telah didatangi Bondan. Sebab itulah Ki Swandanu kemudian kadang-kadang menambahkan sebutan Lelana setelah nama pemberian orang tuanya.

Perjalanan jauh yang ditempuh Bondan bersama Ki Swandanu telah mengajarkannya tentang banyak hal.  Kemudian di Pajang ia kembali mendapatkan bekal dari Resi Gajahyana. Tumbuh berkembang di bersama-sama orang yang telah matang garam kehidupan telah mendorong Bondan untuk bersikap lebih masak jika dibandingkan anak muda seusianya. Ia mampu menilai satu pertentangan. Ia dapat menghindar dari permusuhan tetapi mampu bertahan dalam benturan keras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *