Bara di Borobudur

Bondan – Bara di Borobudur 7

“Nyi Retno pun belum keluar menemui kami berdua, Ki Banawa. Seperti yang dipesankan oleh angger Sela Anggara bahwa ibunya akan keluar jika kiai telah hadir di pendapa,” berkata Ki Swandanu seakan mengerti isi pikiran Ken Banawa. Ken Banawa menganggukkan kepala lalu bangkit mendekati Ki Narto lalu memintanya untuk memanggil Nyi Retno.

Sejenak kemudian, perlahan-lahan derit pintu pringgitan terbuka dan Nyi Retno melangkahkan kaki menuju tempat ketiga lelaki yang seusia dengannya. Menyusul Bondan berjalan di belakang Nyi Retno Ayu. Bondan kemudian duduk sebelah menyebelah dengan Ki Swandanu dan berhadapan dengan Ken Banawa.

Sedangkan Nyi Retno mengambil tempat duduk agak jauh dari ketiganya, lalu berpaling pada Ken Banawa, ” Silahkan  engkau buka percakapan yang mungkin kiai bedua ini sudah menahan diri semalaman.”

Meskipun Nyi Retno telah mencapai usia setengah abad, namun garis-garis ketegasan tampak jelas dari sorot matanya. Usia lanjut itu tidak menutup kecantikan yang pernah terukir di wajahnya semasa muda.

“Baik,” kata Ki Banawa lalu bergeser sedikit maju.

“Ki Sanak berdua, tentu saja kedatangan kiai berdua dari Pajang bukan sekedar perjalanan biasa. Usia kita bertiga sudah terlalu banyak untuk melewatkan petualangan seperti di masa kita masih muda. Eyang Gajahyana rasanya telah mendapat landasan yang tepat untuk memanggil Bondan pulang ke Pajang,” kata Ki Banawa sambil menatap Bondan.

Keduanya saling menoleh, Ki Hanggapati kemudian mempersilahkan Ki Swandanu mewakili Resi Gajahyana.

“Pergeseran yang terjadi di kotaraja telah terdengar hingga Pajang. Berita-berita tentang banyak peristiwa di kotaraja, Sumur Welut dan Bulak Banteng tiba di Pajang secepat angin bertiup,” Ki Swandanu beringsut maju setapak.

“Begitu cepat pengamat sandi dari Pajang menebar keterangan sampai-sampai tidak secuil yang dapat terlewat,” berkata Ki Banawa.

“Bukan seperti itu, Ki Banawa. Para pedagang yang menuruni lembah, menyeberangi sungai menebarkan berita itu dari mulut ke mulut. Perpindahan besar-besaran para pengikut setia Lembu Sora dan Gajah Biru sangat mencemaskan Resi Gajahyana,” Ki Swandanu berhenti sejenak.

Lalu, ”Tentu Ki Banawa dan Nyi Retno telah mengetahui perpindahan pasukan yang cukup besar itu. Kemudian setelah mereka sampai di tepi batas luar Pajang. Ki Tumenggung Nagapati mengirimkan utusan untuk menemui Bhre Pajang. Bhre Pajang meminta waktu barang sehari dua hari untuk memutuskan kesediaannya menemui Ki Tumenggung Nagapati.”

“Memang kami telah mendengarnya, Ki Swandanu. Saat pasukan yang dipimpin Patih Mpu Nambi menghalau mereka keluar dari kotaraja, kami sedang terlibat pertempuran di Sumur Welut. Aku mendengarnya ketika seorang utusan Mpu Nambi datang ke pedukuhan Wringin Anom. Ia menyampaikan pesan agar aku secepatnya kembali ke kotaraja bila peperangan di Sumur Welut telah kami menangkan,” kata Ki Banawa.

Kemudian katanya lagi, ”Saat itu, kehadiran Bondan dan Mpu Drana benar-benar membantu kami memukul mundur pasukan Ki Sentot Tohjaya. Ditambah semangat juang para pengawal Wringin Anom dan Sumur Welut yang serba sedikit mampu membuat kecil arti perjuangan pasukan Ki Sentot.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *