Bara di Borobudur

Bondan – Bara di Borobudur 8

“Ki Tumenggung Nagapati?” desah Bondan perlahan,” ia seorang tumenggung wreda. Salah seorang tumenggung yang dipercaya Ra Dyan Wijaya untuk memimpin satu pasukan khusus.”

“Ia pemimpin pasukan khusus?” terkejut Ki Hanggapati. Sesaat ia menundukkan kepala, seraya menoleh ke arah Ki Swandanu, ia melanjutkan,” mungkin itu juga jadi penyebab mengapa Bhre Pajang tidak mengijinkannya masuk kota Pajang. Namun juga tidak bersedia mengusir keluar dari wilayah Pajang.”

“Itu bisa menjadi satu alasan yang ada, Ki Hanggapati,” Ki Swandanu kemudian menyapukan pandangan lalu katanya,” tentu saja mereka adalah sekelompok orang yang benar-benar tangguh. Jika mereka adalah satu pasukan khusus, maka aku jadi mengerti salah satu alasan eyang Gajahyana mengirim kita kemari.”

“Salah satu alasan?” Nyi Retno bergumam pelan. Ia tersenyum dengan sorot mata penuh pengertian dan secercah harapan tampak berbinar di balik kelopak matanya.

Bondan merasakan perhatian yang di luar kebiasaan. Ia menunduk malu.

“Tidak! Jangan bibi katakan itu di depan banyak orang!” jerit Bondan dari balik dadanya.

“Tentu tidak, Ki,” berkata Ken Banawa pada Ki Swandanu, ”pasti ada sebab yang lain yang menjadi kekhawatiran Eyang Gajahyana.” Pada waktu itu Ken Banawa menangkap isyarat yang diberikan Nyi Retno, dan ia pun melepas senyum seraya melihat keadaan Bondan yang masih menyembunyikan wajah.

“Aku sependapat dengan paman Banawa. Eyang mungkin merasakan ada gangguan-gangguan yang menimbulkan gejolak di tengah-tengah rakyat Pajang. Meskipun gangguan itu sangat kecil tetapi Eyang Gajahyana sudah tentu mempunyai penilaian yang berbeda dengan kita semua,” kata Bondan tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya..

Ia melanjutkan, ”Saya mengenal tata urutan eyang menilai suatu persoalan. Maksudku, eyang sudah menilai jika Bhre Pajang tidak akan memerintahkan prajuritnya menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh kehadiran pasukan khusus pimpinan Ki Tumenggung Nagapati.”

“Kau benar-benar mengenali eyangmu dengan sangat baik, anak muda,” berkata Ki Swandanu. Bondan terdiam seolah tidak mendengar ucapan Ki Swandanu. Dada Bondan bergemuruh seperti dilanda angin puting beliung.

Lalu Bondan berkata, ”Jika demikian, saya akan menyusul Gumilang di Watu Golong dan membawa beberapa ratus pasukan berkuda menuju Pajang.”

“Bondan, lakukan pengamatan dalam dirimu. Kau tidak dapat serta merta menyerbu pasukan Ki Tumenggung Nagapati. Sementara kita belum memahami letak persoalan yang sebenarnya,” berkata Nyi Retno sambil menggelengkan kepala perlahan. Desir lembut kata-kata bibinya seperti menyiramkan air sejuk dalam hati Bondan.

Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, dan menghela panjang sambil berkata,” Baiklah,”.

Nyi Retno meneruskan ucapannya,”Bukankah masa yang telah ditentukan oleh beberapa orang di Pajang telah berjarak begitu dekat dengan hari ini, Bondan?”

“Engkau akan membuat satu tiang pancang yang sangat penting dan mungkin akan merubah jalan hidup,” Ki Hanggapati berkata lirih.

Seperti tidak mendengar ucapan dua orang tadi, Bondan  menoleh ke arah Ki Swandanu dan berkata, ”Maafkan aku paman. Silahkan Paman Swandanu melajutkan uraian-uraian yang akan disampaikan.”

“Tidak mengapa, Ngger. Aku pernah muda sepertimu, bahkan aku pula yang menjadi satu dari sekian banyak orang tua yang berada di dekatmu semenjak kecil,” tersenyum Ki Swandanu seraya memegang tangan Bondan yang telah terkepal. Kepala Bondan tertunduk dalam-dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *