Pangeran Benawa

Penaklukan Panarukan 51

“Kembalilah!” perintah Sultan Trenggana,” Katakan pada Menak Gudra dan Paman Tawang Balun bahwa ketika seseorang telah melangkah memasuki kapal sebenarnya ia telah berpikir jalan untuk pulang.”

“Hamba tidak ingin melebihi kehendak Kanjeng Sultan untuk memberi arti dari ucapan itu.”

“Katakan seperti yang aku katakan padamu.”

Lalu Gagak Panji pun menghaturkan sembah hormat kemudian melangkah keluar meninggalkan bilik khusus yang ditempati oleh Sultan Trenggana. Dalam pada itu, Gagak Panji sudah tak ingin lagi membayangkan segala hal yang mungkin saja terjadi. Walaupun dadanya masih terasa pepat, namun ia tetap berusaha menyingkirkan bayangan buruk. Gagak Panji masih menyimpan secercah harapan bahwa pamannya dapat melihat Blambangan dari segi yang berbeda. Ia bertekad untuk tetap menebar benih asa hingga masa yang telah ditetapkan untuknya telah tiba.

Beberapa langkah dihadapan Gagak Panji terlihat sebuah anak tangga yang diterangi sebuah oncor dengan sinar temaram. Pada saat itu pendengaran Gagak Panji menangkap suara yang ditimbulkan oleh sejumlah orang diatas geladak.

“Aku tidak ingin membunuh siapapun malam ini,” tekad Gagak Panji dalam hatinya. Ia pun dengan ringan menapak satu demi satu anak tangga hingga kemudian ia melihat sejumlah prajurit bersiaga dengan senjata merunduk. Gagak Panji bergeser satu dua langkah maju kemudian ia berhenti dan mengamati sekelilingnya dengan seksama.

“Aku mengenali orang ini,” dari samping kanan seseorang berkata. Gagak Panji memalingkan wajahnya dan alisnya tertaut berusaha mengingat orang yang mengaku mengenalnya.

“Ki Rangga Gagak Panji,” orang itu berkata lagi saat ia telah berdiri berhadapan dengan Gagak Panji.

“Bukankah engkau adalah Ki Lurah Sanggamurti?” saat sedikit cahaya menerpa wajah pemilik suara yang seperti pernah ia dengar sebelumnya.

“Tidak salah, Ki Rangga,” jawab Ki Lurah sambil memberi hormat. Ia memutar tubuhnya dan berkata pada prajurit yang mengelilingi mereka,” Ini adalah Ki Rangga Gagak Panji, seorang prajurit dari Jipang Panolan. Dia adalah orang yang membantu kami melumpuhkan kawanan Bajra Saloka.” Para prajurit menganggukkan kepala tetapi senjata mereka masih merunduk. Sorot mata mereka lekat menatap Ki Rangga Gagak Panji.

“Maafkan sikap mereka, Ki Rangga,” berkata Ki Lurah Sanggamurti.

“Tidak mengapa,” Gagak Panji menenangkan hati lurah prajurit Lasem itu lalu,” Apakah ini perintah Kanjeng Sultan untuk menangkapku?”

“Tidak! Ini adalah kehendak kami untuk memberitahumu bahwa prajurit Demak berada dalam keadaan siaga tinggi,” sahut seorang prajurit. Ki Lurah Sanggamurit melambaikan tangan memintanya untuk diam.

“Aku tidak pernah menghendaki ini terjadi, Ki Rangga,” lirih Ki Lurah berkata.

“Meskipun kita semua tidak menginginkan pertempuran tetapi ini adalah tugas kita sebagai seorang prajurit. Dan Ki Lurah Sanggamurti adalah prajurit Lasem,” kata Gagak Panji.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *