Pangeran Benawa

Penaklukan Panarukan 52

“Mungkin ini adalah kelemahan kami karena Ki Rangga berada di pihak yang berbeda dengan kami,” Ki Lurah Sanggamurti menggelengkan kepala.

“Tidak, Ki Lurah,” sahut Ki Rangga Gagak Panji,” Demak memiliki banyak senopati yang mempunyai kelebihan diatasku.”

“Bukan masalah ketinggian ilmu yang aku maksudkan,” Ki Lurah menarik nafas panjang lantas,”Tetapi kemampuan untuk menjaga semangat para prajurit agar tetap menyala dalam kedudukan yang mustahil untuk menang. Aku telah banyak mendengar kemampuan Ki Rangga dalam menangani prajurit.”

“Dan esok pagi kita akan bertemu sebagai lawan,” Gagak Panji mendongakkan wajahnya,” Pertemuan yang tidak akan aku jalani dengan hati gembira sekalipun aku keluar sebagai pemenang.”

“Aku kira kita semua berada dalam keadaan yang sama,” berkata Ki Lurah Sanggamurti.

Pandang mata Gagak Panji menerawang jauh menembus gelap yang menutupi seluruh permukaan laut. Hembus kencang angin malam membuat rambutnya yang panjang dan tergerai lepas itu berkibar-kibar. Rahang Gagak Panji terlihat mengeras. Kemudian ia berkata,” Peperangan adalah sebuah mimpi buruk bagi siapa saja yang mengalaminya. Bila kau pernah mendampingi Sultan Trenggana dalam banyak pertempuran, tentu kau mengerti arti sebuah kehilangan.”

“Ki Rangga berkata benar,” sahut Ki Lurah Sanggamurti.

Temaram merah mengembang di ufuk timur. Bibir Gagak Panji bergetar tetapi tidak ada suara yang ia perdengarkan. Namun suara Gagak Panji mendesah pelan. Ia bersenandung bersama rasa yang menghunjam jantungnya.

“Samudera ini bukanlah air mata dewa

Ia menjadi tempat mengadu para penjala ikan

Penjala yang terhempas membentur karang

Penjala yang tersapu pusaran topan

Sabar lire momot kuwat nandhang panggoda

Sakabehing tirto segoro tan ngowahi sakehing coba

Pepadang bakale tumeka”

Kemudian ia berpaling pada Ki Lurah Sanggamurti dan para prajurit, lalu,” Nah, waktuku telah tiba. Aku minta diri pada kalian semua dan apa yang kita bicarakan malam ini dan yang kalian dengarkan dariku, aku harap kalian segera melupakannya. Esok pagi kita akan bertemu sebagai lawan dan kita tidak akan dapat melepaskan diri dari keharusan untuk saling membunuh.” Gagak Panji berkata dengan suara penuh getar yang mengiris jantung prajurit yang mendengarnya. Ilmu Gagak Panji telah mereka dengar tetapi mereka lebih takut pada kemungkinan bahwa mereka akan bertemu dan bertempur dengan kerabat dan keluarga sendiri. Namun mereka mengerti pesan Gagak Panji bahwa kelapangan akan datang menjemput mereka.

Ki Lurah Sanggamurti dan para prajurit pun memandang tubuh Gagak Panji yang telah terjun ke laut setelah melompati bibir kapal. Perahu pun tak bergoyang ketika Gagak Panji mendaratkan kakinya pada buritan perahunya. Dengan menempelkan ujung dayung pada lambung kapal Sultan Trenggana lalu menggunakkannya sebagai pijakan untuk mendorong perahunya. Sedemikian hebat tenaga inti Gagak Panji hingga menjadikan perahu melaju sangat cepat dan seolah seperti tidak menyentuh air laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *