Bondan – Bara di Borobudur 10

Di masa lalu, ketika peperangan yang terjadi di Sumur Welut telah berlalu, sekelompok orang dalam jumlah yang cukup banyak bergerak menjauhi kotaraja. Iring-iringan ini merupakan pasukan yang masih setia pada Lembu Sora dan Gajah Biru. Beberapa kali usaha dilakukan oleh pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Nagapati untuk menuntut keadilan bagi kedua panglima mereka. Kedua orang ini adalah panglima perang yang tangguh dan mumpuni dalam gelar perang. Tanpa pembelaan dan penyelidikan, kedua panglima itu dijatuhi hukuman mati secara mengenaskan di halaman istana.

Sebenarnya mereka telah menjadi korban dari satu  kekuatan yang cukup kuat dan membayangi Ra Dyan Wijaya di lingkungan keraton. Akan tetapi, pada akhirnya kelompok pasukan yang sebenarnya sangat kuat itu dapat dihalau keluar dari kotaraja. Karena wawasan dan kebesaran hati Ki Patih Mpu Nambi akhirnya mereka dapat diarahkan menuju Pajang yang dipimpin oleh keluarga dekat Ra Dyan Wijaya.

Perjalanan panjang yang telah mereka lalui akhirnya membawa mereka tiba di luar batas kota Pajang. Ki Tumenggung Nagapati memerintahkan untuk membuka perkemahan di sebelah utara sebuah hutan kecil yang berjarak ratusan patok dari batas kota Pajang. Meskipun begitu, beberapa orang diantara mereka terpaksa tidak dapat melanjutkan perjalanan dan akhirnya terpaksa tinggal di beberapa pedukuhan yang mereka lewati.

Beberapa hari setelah mereka tinggal di perkemahan, Ki Tumenggung Nagapati memutuskan untuk memasuki kota Pajang dengan disertai dua orang pengawal. Ki Nagapati berencana untuk bertemu dengan Angling Dhyaksa yang menjadi Bhre Pajang.

Saat pasar temawon, Ki Tumenggung Nagapati bersama kedua pengawalnya telah berada di gerbang kota. Seorang penjaga bergegas keluar dari gardu penjagaan dan memberi tanda untuk berhenti. Ketiga orang dari kotaraja itu menarik kekang kuda dan mendekat ke gardu jaga.  Kemudian penjaga mengetahui bahwa ketiga orang yang mendekat gardu jaga adalah prajurit Majapahit. Ki Tumenggung Nagapati memang datang dengan pakaian seorang tumenggung, begitu pula kedua pengawalnya yang berpakaian prajurit. Tanda-tanda keprajuritan yang melekat pada pakaian mereka telah dikenali dengan baik oleh penjaga perbatasan.

Seperti yang biasa terjadi ketika seorang prajurit melaksanakan tugasnya, maka prajurit penjaga itu bertanya kepada Ki Tumenggung dan segala yang terikat dengan kedatangannya itu.

“Ki Tumenggung Nagapati, silahkan masuk! Sementara teman saya akan memanggil pemimpin kami yang sedang berada di dekat regol kadipaten, Ki Tumenggung dapat menyesuaikan diri di tempat ini,” berkata penjaga itu sambil mempersilahkan mereka menunggu di dalam gardu penjagaan.

Ki Nagapati menganggukkan kepala, ”Terima kasih.”

Ia menoleh kepada dua pengawalnya lalu, ”Marilah, kalian juga menunggu bersamaku di dalam.”

Ki Nagapati memasuki gardu jaga yang di dalamnya ada sebuah ruang kecil yang cukup untuk tempat istirahat. Di atas sebuah meja terdapat beberapa makanan yang berbungkus daun pisang.

“Silahkan Ki Tumenggung,” berkata seorang penjaga yang menyusul di belakang Ki Nagapati dengan membawa wedang jahe hangat.

“Terima kasih,” Ki Nagapati menyandarkan punggungnya dan duduk di ujung kiri dalam ruangan itu. Ketiga orang yang datang dari luar perbatasan Pajang pun menjulurkan tangan meminum air jahe yang hangat. Rasa penat yang sedikit mendera ketiganya segera tergantikan dengan kesegaran dalam tubuh dan mengalir dalam darah mereka.

Tinggalkan Balasan