Kidung Wit Asem

Liris : Sayap Patah Burung Nuri

Aku merasakan dingin yang tadi menyelimutiku mulai berganti sedikit hangat.
Sepi. Tak terdengar lagi keramaian seperti semalam. Seperti di pelabuhan.
Aku mendengar debur ombak lalu hening.

Aku tak bisa melihat sekelingku . Gelap.
Mereka menutupi tempat ini dengan kain hitam.
Aku hanya merasakan , mereka membawaku dari satu tempat ke tempat lainnya.

Aku tidak tahu, akan kemana mereka membawaku.
Suara mesin mobil samar terdengar.
Selebihnya suara dua orang berbicara.
Sehari semalam, dalam gelap.
Lalu makanan apa ini?
Potongan buah berwarna merah membusuk.

Kalau saja aku tak mengingat Ndaru, tak sudi aku menyentuhnya!

Aku sendirian. Lelah mencoba melarikan diri dari kawat tebal yang mengurungku.

Kejadian kemarin siang membuat hidupku berhenti .
Tiba-tiba saja aku terpisah dari Ndaru, bagian dari jiwaku. Rumah kami. Surga kami.
Bayangan kematian mendekatiku.
Seolah sebentar lagi aku menuju kepunahan.

Oh Dewa.. lindungi aku , Ndaru dan telur bakal anak kami!

******

Siang itu sungguh cerah , sebelum aku tertangkap para pemburu tak berhati.
Langit biru menyeruak di balik pepohonan sekitar kami.
Aku sedang berdua menikmati buah matoa bersama Ndaru di kediaman kami yang damai dan sejuk.

Di hutan perawan, udara sejuk, dan gemericik air terjun. Sungai meliukkan jalan. Memanjakan kehidupan penghuni hutan lainnya . Begitu pula dengan aku dan Ndaru.
Kami, sepasang Nuri yang bahagia.

Kami berkejaran , lalu berhenti di dahan pohon matoa.
Berdua bertengger sambil sesekali saling menyuapkan buah matoa kesukaan kami

Saat asyik bercengkerama, tiba-tiba saja tubuhku terjerat tali.
Tali perangkap yang kuat membelitku.
Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diri.
Ndaru berteriak saat tubuhku meliuk berusaha lepas dari jeratan. Betinaku panik.
Paruhnya berulang mematuk tali yang terpatri di dahan .

Tak lama, serombongan mahluk bernama manusia itu mendekatiku.

“Ndaru, menjauhlah…” bisikku

Ndaru mengepak sayap hitamnya. Terbang menjauh .

Salah satu dari mereka tertawa.

“Rejeki besar..! Akhirnya bisa juga kita dapatkan black lory cantik ini..”

Mahluk bernama manusia itu menyeringai menatapku.
Kulitnya gelap , tubuh besar, lengannya berbulu .

Ia menyentuh tubuhku, mencengkeram kuat.
Tangannya yang lain melepaskan jeratan tali.
Aku kembali meronta. Paruh bengkokku terbekap, pemusnah mahluk hutan itu menenggelamkanku dalam genggam tangan besarnya.
Tubuhku terlalu kecil untuk melakukan perlawanan ini.
Aku tak akan sanggup.

Keji!

Mereka memasukkanku dalam tempat yang mereka katakan sangkar.
Kotak berjeruji rapat yang semakin mencabik gerak bebasku.
Perasaanku makin getir.

Berulang kali aku mencari celah, berharap bisa melepaskan diri.

Aku hanya bisa menatap tajam pada manusia itu.
Gerak-geriknya membuatku menahan dendam.

Tetapi..

Oh Dewa!!

Di pundaknya tergantung senapan laras panjang.
Aku kehilangan keberanian, namun berusaha menenangkan diri.
Jika aku terus berontak, mungkin ia nekat mengacungkan benda itu ke tubuhku.

“Pergilah Ndaru..! Pergi sejauh mungkin..!”
aku mengingatkan Ndaru yang masih berada di sekitar pepohonan . Mengintip dengan perasaan cemas. Raut wajahnya begitu sedih.

“Black..! Bertahanlah.. aku akan meminta pertolongan ayah. aku akan berdoa untukmu..!”

Ndaru mengepakkan sayapnya segera setelah aku memberi peringatan padanya.

“Pergilah sayang…! Jaga anak-anak kita dengan baik…!”

Ndaru menjauh. Di antara pohon yang satu ke pohon lain.

Setitik air jatuh di antara dedaunan.
Air mata pasrah. Tidak rela namun tak kuasa menggeliat demi kebebasan.

Aku tahu ia betina yang cerdas dan kuat.
Ia akan menjaga calon anak-anak kami, meski aku tak dapat mengerami mereka.

Ndaru, aku mungkin tidak akan pernah kembali. Untuk melihatmu dan anak-anak kita adalah sebuah harapan yang kelam. Seperti pekatnya sisi gelap dari rembulan.

Mungkin kita tak akan mampu mengulang kebersamaan sambil mematuk pohon sagu. Atau menikmati gelora nyanyian dahan hutan perawan.

Aku mungkin tak akan pernah kembali, namun Ndaru akan mengajari anak-anakku terbang lebih tinggi.
Lebih kuat dan cerdas dari aku, ayahnya.

 

Dipersembahkan oleh Frida Damayanti dalam senandung Burung Nuri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *