Kidung Wit Asem

Liris : Pengakuan

Karya dari sejumlah emak yang tenang di Kelas Pengenalan Liris 22-29 Mei 2019.

======

Kain lusuhku semakin kumal seiring lalai yang kian menjulang saat usia di titik penghabisan. Lelah ia terkulai di bawah sekerat daging yang masih bertanya.

Aku memandang hitam yang tergambar ketika terpejam. Ingin meraih-Nya dalam buram namun burung ababil menjauhkanku dengan pemukul yang terbuat dari batu api.

Aku terhempas!

Wajah bersimbah air mata. Mengaburkan segenap penjuru. Aku kehilangan arah. Berharap ada secercah pengampunan di penantian panjang.

Nyatanya diri belum sepenuhnya pasrah. Masih dalam balutan resah yang tak berujung. Menggapai asa menjadi keniscayaan dengan cahaya-Mu.

Aku menyerah!
Tidak! Aku tidak akan menyerah dan takluk pada dosa-dosaku terdahulu.

Dalam kelam aku terpejam. Memutar ulang rekam jejak penuh debu. Lirih, hatiku menangis pilu.

Menangis dalam keheningan malam. Memunajadkan keinginan. Merayap dalam doa, mohon pengampunan.

Wahai … Sang Pemilik Surga, belai kasih-Mu, mampu redakan amarahku. Di saat tangan tak mampu lagi menggenggam, kupasrahkan sejuta harapan di garis takdir-Mu. Aku yang berlumur dosa ini, pasrah!

Pada lumuran dosa yang membalur tubuhku, aku malu bersimpuh. Karena sesungguhnya aku iblis itu. Nafsu dan syahwatku telah membunuh nurani ku.

Pernah terbersit untuk berhenti, memberi jeda pada jiwa yang meronta. Tapi akulah iblis itu. Enggan sudah memenjarakan ku. Aku takut ketemu Sang Maha Tahu, enggan meninggalkan nikmat dunia. Ampuni aku, rintihku putus asa.

Aku penat dengan angkara yang mencabik pengakuan akan hadir-Mu. Berapa lama lagi aku harus bertahan dalam gelap untuk menanti cahaya-Mu datang membelaiku.

Aku rapuh, segeralah angkat aku pada sisi-Mu sehingga tak lagi kurasakan pedihnya mencuci dosa dan bertahan dalam ketidakberdayaan.

Wahai Sang Maha Penyembuh. Saat kepalaku terasa membesar hampir meledak. Pandangan mata kabur. Tidak bisa mengenali apapun di depan mata. Aku pasrahkan semuanya dalam kuasaMu. Menanti keajaiban. Aku tundukkan kepala. Menengadahkan tangan hanya kepadaMu.

Kepadamu Sang Pemberi Harap. Ketika cairan merah terus mengalir dari lubang hidung. Badan gemetar. Memeluk kedua lutut. Aku mohon jangan biarkan kekasih kecilku melihat airmata dan kesedihan. Aku akan jalani semuanya. Ijinkan aku menemani dia. Hingga tercapai semua mimpi.

Duhh Gusti, penguasa semesta
Lihatlah,
tangisan darah terus mengalir dari setiap goresan luka .
Memerahkan tetesan air yang kubasuhkan pada kaki padma-Mu

Wajah bersimbah dosa, mengaburkan segenap penjuru.
Aku kehilangan arah menuju pulang.
Nyawaku mengigil sekarat
Berharap sedikit cahaya di pelukan terakhir dari-Mu
Agar lapang jalanku

Wahai Sang Pemberi Kehidupan….
Engkaulah yang telah meniupkan roh kepadaku. Engkaulah penguasa jasadku. Aku bersumpah, aku akan membangun jiwa yang berlumuran dosa dengan istighfar.

Takbir akan kumandangkan. Harapan yang berpuing akan kurajut hanya untuk mencari rida-Mu.

Sekali lagi, Izinkan aku untuk menyebut nama-Mu….

Di sunyi malam Kau memeluk
Aku lantunkan doa-doa terbungkus kain lusuh.
Memohon dalam hening
Berbisik pada-Mu untuk jalan yang terang

Luka dan tangis tertuang dalam tangkup lentikku
Nodaku, dalam rendah hati mohon ampunan
Aku bersandar pada sujud di lantak-Mu

Wahai Sang Matahari Kehidupan.
Di tengah gersang padang kehidupan, aku menemukan curah kasih-Mu.
Memuaskan dahagaku akan pengampunan. Yang tak pantas aku dapatkan.

Jalan salah yang telah aku tempuh. Menjerumuskan dalam kubang lumpur pekat.
Membuatku jauh dan semakin jauh dari-Mu.
Bimbing aku, agar kembali ke jalan-Mu.

Aku berjalan dalam kegelapan, menerabas batas takdir yang Dia titahkan.
Pongahku meruntuhkan keberadaanNya dari ketiadaanku. Aku yang berdiri tegak, kini tertunduk , rejam menggoresku dalam renta.
Aku yang hampa, tanpa dayaNya aku bukan apa.

Dosa resahku telah beranak-pinak. Kegelisahan kian memuncak, mengitari arah tanpa tahu menuju. Wahai Engkau Pemilik Jiwa, kini kulangitkan pinta memohon belas kasih-Mu.
Rangkul aku dalam dekap-Mu menuju kedamaian abadi

Sebenarnya, aku malu mengadu.
Aku malu meminta.
Perintah-Mu saja aku jalankan setengah hati
Bagaimana mungkin aku merengek rengek tak tahu diri?
Namun Kau bilang Kau akan semakin marah bila aku tak mendekat.
Maka di sinilah aku, meratap dengan seluruh keborokanku.

Pada Kau yang kupanggil Kekasih, izinkan aku bertanya, “Kenapa hariku berselimut jelaga? Sedangkan Kau tahu, aku juga ingin seperti mereka. Putih. Bersih. Bercahaya.”

Lihat! Jelaga itu semakin tebal. Pekat menggumpal. Sekerat daging yang Kau beri perlahan menghitam.

Kelam.

Legam.

Aku tertikam!

“Ampuni aku! Tuntun aku di jalanMu!”

Aku, seonggok sampah dunia yang berlumpur. Menutup wajah penuh malu. Mengiba pada-Mu.
Takut!
Gelisah!
Cemas!
Andai lautan dosa ini belum terampuni. Wahai tempatku menyembah, beri aku ampun-Mu!

Kau yang disebut Maha.
Izinkan aku mengejar hadir-Mu. Menikmati hadirat-Mu dalam kelemahanku.

Ya, Engkau.

Di bawah naungan-Mu aku bertelut. Memanjatkan pengakuan atas segala dosa.

Ya, hanya padaMu ada ketenangan.

Kau yang selalu aku sebut dalam doa. Saat malam-malam hening di kala orang terlelap. Tak bosan aku meminta ampunan. Tak lelah aku bermohon atas segala pinta.
“Kabulkanlah!” meski pinta ini hanyalah desah di malam kelam.
Aku malu!

Mengucapkan pinta, karena dosaku sebanyak bintang yang Kau cipta.

Aku, perempuan berkerudung jingga. Dengan berjuta dosa. Terpekur, memandang malam. Apakah Dia sudi menemuiku? Aku rindu pada-Nya.

Kekasihku.

Jiwaku tak tenang.

Berharap dalam ketakutan. Memohon dalam kecemasan. Apakah pantas aku menyebut-Nya kekasih? Jika lebih banyak luka yang ku toreh. Dusta. Melupakan.

Sungguh, aku gelisah!

Aku kotor!

Bahkan kain yang membalut ini menjadi saksi.
Betapa aku palsu!
Munafik!
Kufur nikmat!
Pendusta yang bersembunyi dalam senyum dan selalu berkata, “Aku baik-baik saja!”

Duh, Gustiii!
Pada-Mu, hanya pada-Mu ada kejujuranku!
Lindungi aku!
Kuatkan aku!
Tunjukkan jalan yang lurus!
Tuntun aku!
Dekap aku!

Dalam sujud, aku kembali terkapar. Ingin membujur kaku tapi tak mampu.

Aku sandarkan luka pada agungMu.
Ampuni aku.

=====

Matur nuwun Mak Alin.. Turut tampil dengan gombal terbaik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *