Toh Kuning

Toh Kuning – Alas Kawitan 2

“Hari telah gelap, kalian dapat bermalam di tempatku. Aku akan perintahkan mereka untuk membersihkan bilik yang akan kalian tempati malam ini,” kata Ki Ranu Welang seraya bangkit berdiri.

“Kami tidak dapat bermalam, Kiai. Meskipun guru tidak melarang kami untuk bermalam di hutan, tetapi kami tidak ingin menambah beban perasaan padanya,” kata Toh Kuning. Ia kemudian melangkah turun dan diikuti oleh Ken Angrok.

Setelah berjalan beberapa langkah, Toh Kuning kemudian membalikkan badannya dan berkata,” Ki Ranu, besok siang akan ada rombongan pedagang yang melintasi Alas Kawitan. Aku harap Kiai dapat mempersiapkan orang-orang agar bersiaga esok hari. Kita berkumpul di dekat sebongkah batu yang terletak di dekat pohon ketapang.” Mereka berdua kemudian berjalan dengan cepat menuju padepokan yang terletak cukup jauh dari rumah Ki Ranu Welang.

Sepeninggal kedua anak muda yang mengajaknya untuk menghadang Mahendra, Ki Ranu Welang melangkah menuju halaman belakang rumahnya. Di atas halaman itu, berdiri sebuah rumah panggung yang memanjang dan bilik-biliknya nampak teratur rapi. Agaknya Ki Ranu Welang adalah orang yang menyukai kebersihan dan termasuk orang yang rapi. Ia kemudian mengumpulkan anak buahnya dan membeberkan rencana Toh Kuning dan Ken Angrok. Anak buah Ki Ranu Welang menyambutnya gembira dengan sorak sorai membahana.

Dalam perjalanan pulang, Toh Kuning memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Ia mengingat kembali pergumulan sebelumnya dengan orang-orang yang ia jumpai dalam hidupnya hingga ia berada di Padepokan Cakra Sungsang dan menjadi murid pilihan Begawan Purna Bidaran. Ia ingin Ken Angrok tidak terlibat terlalu jauh seperti dirinya di masa lampau. Sehingga ketika mereka hampir memasuki regol halaman padepokan, Toh Kuning tiba-tiba menghentikan langkah dan memegang pundak Ken Angrok.

Keduanya kini saling berhadapan.

“Aku akan bermalam di tepi telaga kecil di Alas Kawitan,” kata Toh Kuning pelan.

Ken Angrok mengerutkan dahinya. Katanya,” Itu bukan termasuk rencana yang kau katakan pada Ki Ranu Welang.”

Toh Kuning mengangguk pelan. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata,” Bukankah kau belum percaya sepenuhnya dengan Ki Ranu Welang? Jadi, aku pikir bermalam dengan mereka di tepi telaga akan dapat mempengaruhi jiwa mereka. Selain itu, mungkin aku dapat mengetahui rencana Ki Ranu apabila ia berjalan tidak sesuai kesepakatan.”

Di bawah sinar rembulan yang terang dan langit yang cerah tanpa mendung, Ken Angrok menatap wajah Toh Kuning. Sorot pandang yang hanya diketahui artinya oleh Ken Angrok.

“Ken Angrok, kau telah melakukan pekerjaan yang baik. Kita berdua melakukan pekerjaan yang tidak mudah dilakukan orang lain. Kita selalu membagi hasil rampasan pada orang-orang yang tinggal jauh di pedalaman. Tanpa meninggalkan latihan dan tuntunan guru, kita melakukan dua pekerjaan yang tentu Guru akan bangga bila ia mengetahui pekerjaan itu,” berkata Toh Kuning. Kemudian,” Berapa banyak rumah yang kau bangun kembali dengan kepingan emas yang kita ambil dari para pedagang? Bahkan kau adalah pemuda yang mampu berbuat di luar kewarasan dengan mencuri upeti untuk Sri Baginda Kertajaya.” Lalu Toh Kuning mengulang kisah perjalanan mereka saat bermalam di banjar kabuyutan di daerah Tumapel. Ken Angrok tersenyum ketika ia teringat saat seorang prajurit ronda menangkap basah mereka berdua.

“Apabila kau berkata tentang kebahagiaan, aku tidak mengatakan masa itu adalah satu kebahagiaan,” tanggap Ken Angrok.

Toh Kuning tidak menyahut ucapan sahabatnya. Ia berpaling, menunduk lalu menarik napas panjang,”Kita melakukan  penuh suka cita.”

“Aku tidak membantah.” Ken Angrok melempar senyum padanya.

Keduanya tanpa sadar menengadah ke langit. Kata Ken Angrok,” Malam belum terlalu dalam berjalan. Baiklah, aku kira aku tidak akan dapat mencegahmu untuk bermalam bersama pengikut Ki Ranu Welang. Aku akan katakan pada guru jika kau masih menjalankan lelaku di sungai kecil yang berada di ujung selatan Jalur Banengan.”

Toh Kuning mengangguk kemudian ia memutar badan lalu berlari cepat menembus kegelapan. Ia mengambil jalan yang berbeda dari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *