Lanjutan Api di Bukit Menoreh

KKG – Jati Anom Obong 24

Dua orang dengan susah payah masih berusaha mengalahkan Swandaru. Rekan mereka tergolek di atas tanah, tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menggeliat kesakitan. Ki Suladra benar-benargusar dengan keadaan yang berubah dengan seketika. Ia tidak menyangka apabila ledakan yang berasal dari lingkar perkelahian Agung Sedayu sanggup mencapai tempat mereka berkelahi. Bahkan akibat benturan dua tenaga itu mampu membuat kelompoknya porak poranda.

“Setahuku hanya Panembahan Tanpa Bayangan yang sanggup melakukan perbuatan ajaib ini, tetapi murid Kiai Gringsing pun mampu mencapai tingkat yang sama. Mungkin mereka berada di lapisan yang sama. Jika Agung Sedayu mampu mengeluarkan tenaga seperti itu, lalu bagaimana dengan adik seperguruannya? Persetan! Aku telah banyak mendengar tentang kemampuan Swandaru Geni. Dan aku harus percaya dengan apa yang dikatakan orang tentangnya!” Ki Suladra membangkitkan rasa percaya dirinya. Sebenarnya ia dapat melihat kedudukan Swandaru dengan jeli. Dalam pengamatannya, keadaan Swandaru tidak lebih baik darinya. Meski Swandaru tidak terlihat kesulitan menjaga keseimbangan, tetapi Ki Suladra yakin sepenuh hati bahwa lawannya sedang berusaha memulihkan bagian dalam tubuhnya.

“Menyingkirlah! Rawat teman-teman kita, aku akan selesaikan pertarungan dengan caraku sendiri.” Ki Suladra memberi isyarat pada kawannya yang masih sanggup berkelahi untuk menepi.

“Tetapi bukan ini yang diinginkan Panembahan, Ki Suladra!” sahut kawan Ki Suladra dengan wajah ingin menentang. Orang ini ingin tetap menjalankan siasat yang telah ditetapkanoleh junjungannya, mengeroyok Swandaru.

“Diamlah dan patuhi aku! Sebaiknya kau tetap hidup agar ada yang melaporkan padanya tentang usaha kita,” Ki Suladra membentak. Sambil mengamati Ki Suladra yang bersungut-sungut, kawannya berubah pikiran. Sepertinya ia setuju dengan Ki Suladra bahwa harus ada yang tetap hidup di antara mereka, maka ia meloncatkeluar dari lingkaran lalu menghampiri rekan-rekannya satu demi satu untuk membantu penyembuhan.

“Kini kau bertarung sendirian, Ki Suladara. Eh, benarkan namamu adalah Ki Suladra? Aku mendengarnya menyebut namamu dengan kata-kata itu.” Swandaru menggoyang-goyangkan kepala.

“Tidak ada yang salah dengan namaku tetapi ada yang salah denganmu.” Ki Suladra mundur setapak. Ia sedikit merendahkan tubuh dan sedikit condong menghadap ke samping. Kedua tangannya mengepal dan sepertinya ia akan melakukan serangan.

Swandaru terbahak. Ia tidak menutup mulutnya karena Swandaru ingin mengguncang jiwa Ki Suladra dengan pancingan dari bahasa tubuhnya. “Sebut saja kesalahanku! Lihatlah, kawan-kawanmu telah terkapar dan untuk berdiri pun mereka tak sanggup. Kamu, seandainya dapat mengalahkanku, masih akan menghadapi kakang Agung Sedayu.”

“Permasalahanku terbesar adalah mulut besarmu, anak manja! Agung Sedayu adalah persoalan kecil yang rela berbaris untuk dipanggil maju. Ia sama denganmu, kalian berdua adalah anak-anak manja yang salah diasuh oleh gurumu dan raja Mataram. Mereka semua telah mati, dan sekarang kalian akan menghadapi ujian sesunggunhnya.”

Swandaru Geni merasa sangat gusar. Ia benar-benar marah mendengar Ki Suladra menyebut nama gurunya dan Panembahan Senopati dengan nada mengejek. Mendadak Swandaru memutar cambuk dan meledakkan ujungnya di udara. Tidak ada dentum suara ledakan, tidak ada getaran yang memukul gendang telinga tetapi orang yang menyaksikan akan terkejut! Ujung cambuk Swandaru tiba-tiba berubah menjadi sumber angin. Lecut sandal pancing yang dilakukannya menghasilkan angin yang berderu kencang. Benar! Swandaru telah berhasil meningkatkan kemampuannya selapis lebih tinggi dari masa hidup gurunya. Angin yang berasal dari lecut cambuknya sanggup menggoyang dedaunan pohon-pohon yang berjarak dekat dengannya.

Kini Ki Suladra yang tertawa keras-keras! Ia berkata lantang,”Anak manja, jika kau berpikir dengan tenagamu itu dapat mengalahkanku, maka kau salah besar. Yang baru saja kau lakukan adalah sebuah permainan hiburan yang ada di banyak pasar malam.Terimalah! Itu upayaku menghargai kerja kerasmu.” Ki Suladra melemparkan sekeping logam dengan lambaran tenaga yang tidak biasa. Kepingan itu deras meluncur dan mengeluarkan desing yang tajam.

Swandaru mengumpatnya! Tetapi ia bergeming, ujung cambuknya melesat menyambut kedatangan keping logam itu di udara. Ketepatan Swandaru memang luar biasa. Ia sanggup memecah kepingan itu menjadi dua dalam keadaan gelap. Tidak ada suara yang dihasilkan ketika dua benda itu bertubrukan.

Baik Swandaru maupun Ki Suladra menjadi terkejut!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *