Toh Kuning

Toh Kuning – Alas Kawitan 3

Toh Kuning menaiki sebuah bukit yang jarang ditumbuhi pohon dan ketika ia telah berada di atasnya maka ia dapat melihat cahaya yang berasal dari iring-iringan prajurit yang meronda di beberapa tempat. “Perondaan yang cukup rapat dan sulit ditembus. Aku dapat bersembunyi di antara rerimbun semak dan mungkin aku dapat mengambil jarak yang cukup dekat dengan mereka.”

Setelah memperkirakan waktu yang ada, Toh Kuning melesat turun mendekati sebuah gardu penjagaan. Satu dua prajurit bersenjata dan kuda yang tertambat  menjadi bahan bagi Toh Kuning untuk memperkirakan kecepatan prajurit dalam menempuh perjalanan menuju Alas Kawitan.

“Mahesa Wunelang benar-benar memerintahkan pasukannya untuk bersiaga penuh,” desis Toh Kuning dalam hati. “Ia telah berhitung dengan segala akibat dan mungkin kerugian yang timbul apabila ia sedikit memberi kelapangan. Tentu saja, kelonggaran adalah jalan kami untuk menjadi orang yang kenyang.” Ia beringsut surut dan meninggalkan Jalur Banengan menuju Alas Kawitan.

Pohon-pohon yang tumbuh di Alas Kawitan merupakan pohon yang khusus ditanam untuk keperluan persenjataan. Anak panah dan tombak banyak menggunakan batang kayu yang tumbuh di Alas Kawitan, karena itu pihak kerajaan telah mengukur jarak antar pohon dan menyiapkan bangunan-bangunan sebagai gudang persediaan.

Jarak Jalur Banengan sebenarnya cukup jauh dari Alas Kawitan, tetapi Toh Kuning menempuh jalan pintas. Jika seseorang berkuda ketika matahari terbit dengan kencang tanpa henti, maka biasanya ia akan tiba di tepi Alas Kawitan saat sinar matahari mulai menggatalkan kulit. Tetapi lembah dan jurang yang memisahkan kedua tempat itu adalah daerah jelajah Toh Kuning, maka tanpa kesulitan Toh Kuning telah berada di dekat telaga. Ia memilih tempat itu karena tepi telaga adalah satu-satunya jalan yang dijadikan tanah singgah bagi para pedagang. Air yang bening dan sedikit rimbun dedaunan pohon-pohon yang tinggi menjadikan tempat itu begitu asri bagi mereka yang mengalami penat dan lelah.

Toh Kuning berjalan dengan hati-hati mendekati sekelompok orang yang telah saling berhadapan di dekat sebuah api unggun.

“Celaka!” desis Toh Kuning lalu merendahkan tubuhnya dan bersembunyi di balik rerimbun semak.

“Siapakah Ki Sanak sekalian?” bertanya seorang prajurit yang sepertinya berpangkat lebih tinggi dari yang lain.

“Kami serombongan orang yang akan pergi ke Jenggala,” jawab seorang bertubuh kurus dan berbibir tebal.

“Aku pernah melihat orang itu di rumah Ki Ranu Welang,” Toh Kuning berkata dalam hatinya ketika ia keluar dari tempatnya bersembunyi dan berusaha mendekati kerumunan orang di dekat telaga. Ia memutuskan untuk menampilkan diri. Sedikit rasa percaya diri dan keyakinan pada ilmu yang dikuasainya telah mendorong Toh Kuning berbuat berani.

“Ki Sanak datang dari mana?” prajurit itu bertanya lagi.

“Kami berasal dari Tumapel.”

“Kalian bukan orang Tumapel,” potong prajurit itu.

Derai tawa terdengar dari kelompok Ki Ranu Welang. Orang kurus itu kemudian membuka bibirnya,“ Apakah kepentingan kalian, Ki Sanak?”

“Kami adalah prajurit Kediri. Seharusnya kalian tahu jika Alas Kawitan adalah tempat terlarang untuk bermalam,” jawab prajurit itu. Kembali pengikut Ki Ranu Welang tertawa mendengar jawaban dari prajurit Kediri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *