Bondan – Bara di Borobudur 11

Sejenak mereka berdiam diri dalam angan masing-masing, kemudian seorang yang bertubuh agak gemuk memasuki ruangan. Sambil membungkuk hormat, katanya,” Ki Tumenggung Nagapati, saya belum mendapatkan kesempatan untuk mengatakan kepentingan Ki Tumenggung. Agaknya baru menjelang senja kesempatan itu akan tiba.”

Ia mengenalkan dirinya sebagai lurah prajurit yang sedang berjaga, ”Saya adalah Ki Lurah Wanabaya.”

Ki Nagapati membalas dengan senyuman dan sedikit terangguk, ia berkata,” Baik Ki Lurah. Aku mengerti  dan aku akan menunggu kesempatan itu datang. Dan dalam masa itu, izinkan kami bertiga berdiam diri di dalam ruangan ini untuk sekedar mengurangi rasa lelah.”

Serba sedikit keempat orang prajurit Majapahit itu bertukar kata. Ki Lurah Wanabaya tampak menaruh perhatian cukup besar terhadap perkembangan yang terjadi di kotaraja.

Dalam pada itu, seorang pelayan khusus yang bertugas di dalam istana Pajang telah menghadap Bhre Pajang di keraton yang cukup besar. Beberapa tiang kayu penyangga atap ruangan berukir sangat halus dan menggambarkan keadaan Pajang di masa lalu. Bhre Pajang duduk bersandar pada kursi kayu berukuran besar. Bagian atas sandaran kursi terukir burung garuda dan seekor naga yang dipahat sangat halus. Ia menatap tajam pelayannya dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh pelayan khusus istana.

“Sri Bhatara, Ki Tumenggung Nagapati telah memasuki wilayah Pajang. Saat ini ia berada beberapa puluh tombak dari dinding perbatasan kota. Sejumlah besar orang pengikutnya juga turut menyertai kedatangannya di Pajang,” kata pelayan.

“Apa maksudmu dengan orang yang mengikutinya? Apakah mereka itu sekelompok prajurit?” bertanya Bhre Pajang.

“Sebagian besar memang prajurit, Tuanku. Namun Ki Tumenggung Nagapati juga mengatakan jika ada sejumlah kecil wanita serta anak-anak yang berada di dalam pengikutnya.”

“Lalu, apakah Ki Nagapati mengatakan tentang sesuatu kepadamu? Aku maksudkan adalah Ki Nagapati akan menyerang Pajang, apakah kau melihat kemungkinan itu?”

“Saya tidak melihat Ki Nagapati dalam keadaan akan memaksakan keinginannya di Pajang. Ia mengatakan jika hanya ingin bertemu dengan Sri Bhatara.”

Bhre Pajang terdiam sesaat. Sejenak ia melepaskan kemungkinan-kemungkinan yang akan dilakukan oleh Ki Nagapati. Tubuhnya beringsut sejengkal, ia menoleh ke arah Ki Tumenggung Ragapadma yang berada tak jauh darinya seakan meminta pendapat Ki Tumenggung Ragapadma. Agaknya Ki Ragapadma  sendiri juga belum mempunyai pendapat yang sekiranya dapat mengurai kepentingan Ki Nagapati.

Lalu katanya,”Baiklah, katakan kepada Ki Nagapatih jika aku akan menemuinya menjelang tengah malam nanti.”

Pelayan khusus itu kemudian meminta diri dan bergegas keluar dari keraton.

Sepeninggal pelayan khusus itu, Ki Ragapadma bangkit berdiri lalu,” Sri Bhatara, kita tidak dapat begitu saja menerima seorang pengecut seperti Ki Nagapati di tlatah Pajang. Ia dengan sombong telah berani menentang keputusan Sri Kertarajasa Jayawardhana. Kemudian dengan angkuh ia mengepung istana Sri Jayanegara. Lalu sekarang ia berada di wilayah Pajang. Jika bukan untuk menduduki kota ini, apakah ada kemungkinan lain yang sekiranya dapat diterima dengan nalar?”

Tinggalkan Balasan