Kidung Wit Asem

Liris : Butha Cakil

Butha Cakil namaku. Aku memang dari bangsa raksasa. Cara hidupku nyleneh, bebas tanpa aturan. Sebab seperti itulah cara aku dibesarkan. Tapi sebagai prajurit aku adalah yang terbaik di antara yang terbaik. Jika raja berkata, “Perang!” Maka aku akan berada di garis depan bersiap dengan segenap jiwa raga. Mati aku sama sekali tak takut! Itu keistimewaan diriku.

Jika kau ingin mengenalku, lihat ke dalam dirimu. Aku hidup dan mengalir di dalam darahmu. Aku adalah setiap yang manusia inginkan. Tapi setelah didapatkan aku mampu membuatmu lupa diri, seperti yang terjadi pada Arjuna. Memilikiku adalah sebuah tanggung jawab berat. Aku adalah kebebasan.

Aku arti kebebasan sejati. Sebab aku lahir dari sebuah nafsu yang dibebaskan.
Liar! Tak kenal malu dan takut!
Dari hasrat kotor milik Arjuna yang dipaksakan kepada wanita yang melahirkanku, Dewi Anggraeni. Dan hadirku tak pernah diinginkan, sungguh menyakitkan. Membuatku terbelenggu dendam. Itu sangat menyiksa.

Kalian lihat!
Ketika sebuah kebebasan tak terkendali maka lahirlah diriku. Sebuah hasil yang tak diinginkan. Ini bukan salahku. Kalian tak berhak menghujat diriku, aku hanya menjalani garis hidupku.

Semua menjadikan setiap tarikan napasku adalah dendam kesumat. Setiap kedip mata adalah rasa sakit hati. Dendam adalah kekuatan sehingga aku tak takut mati. Lagi pula aku sudah mati dalam hidupku ketika kelahiranku tak diinginkan.

Dengan hati pedih aku susuri hidupku yang penuh kebebasan. Kebebasan yang tak terkendali. Aku membunuh, merampok, merampas kebahagiaan orang lain demi bisa menyambung hidup. Sungguh, aku benci kebebasan macam ini!

Meski aku makhluk terbuang tapi pada penguasa aku tunduk. Untuk raja aku siap korbankan nyawa. Ya, itulah aku Butha Cakil. Sebuah kebebasan yang ingin memberikan sebuah kebaikan. Menjadi prajurit pilihan adalah jalan terbaik.

Aku lahir dari kebebasan.
Hidup secara liar.
Namun demikian, aku ingin menorehkan sebuah kebaikan.

“Salahkah? Terserah kalian mau berpikir apapun.”

Tapi aku ingin merdeka dari dendam dan rasa sakit hati ini.

“Ke mana aku cari merdeka itu?”

Mungkin di garis depan pertempuran saat aku melawan Arjuna nanti aku akan menemukan jawabnya. Bebas dari rasa dendam dan sakit ini dengan membunuh Arjuna, atau mati dengan cara ksatria. Itulah kebebasanku. Itu kemerdekaan Butha Cakil.

Aku Butha Cakil, hadir untuk mengingatkan Indonesia agar mampu bebas dari kemerdekaan yang terkadang bablas. Semoga Indonesia tak akan seperti Arjuna.

#DirgahayuIndonesia
#KepakSayapAngsa
#PadepokanWitAsem
#MeyAmeida
#RoniRisdianto
#LirisKemerdekaanRI
#ProsaLiris

 

Ditulis oleh Mey Ameida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *