Bondan – Bara di Borobudur 12

“Ki Ragapadma, aku mempunyai penalaran yang sama denganmu. Akan tetapi aku tidak dapat berbuat lebih jauh mengingat Ki Nagapati juga mempunyai jasa besar dalam membantu Sri Kertarajasa Jayawardhana.”

“Bukan Ki Nagapati, saya tidak berkata dengan sebuah nama sebagai acuan. Tuanku! Lembu Sora tidak dapat dihubungkan dengan Ki Nagapati.” Raut wajah Ki Ragapadma sedikit mengeras. Rona merah yang melintas di wajahnya sedikit disamarkan dengan keadaan keraton yang tidak begitu terang. Dengan begitu, Bhre Pajang tidak mengetahui perubahan wajah yang terjadi pada salah satu tumenggung terkuat di Pajang.

“Dan aku tidak dapat begitu saja menganggapnya akan menyerang Pajang, Ki Tumenggung. Sementara ini aku akan menemuinya,” Sri Batara bangkit dari tempat duduknya dan beranjak masuk ke bagian belakang keraton.

Demikianlah ketika Bhre Pajang meninggalkan ruangan, Ki Ragapadma bergegas menuju satu bangunan yang tempatnya bekerja. Bangunan itu berukuran tidak terlalu besar dan terletak di luar dinding halaman keraton. Tanpa setahu Ki Ragapadma, Bhre Pajang memanggil seorang pelayan khusus.

“Perintahkan Ki Banyak Abang untuk segera menemuiku di dalam bilik. Kau harus laporkan kesediaannya kepadaku sebelum matahari tenggelam.”

“Baik, Sri Bhatara.”

Pelayan khusus itu segera pergi mengambil kudanya dan memacu kuda cepat-cepat ke arah selatan.

“Apa yang sebenarnya menjadi tujuan Ki Nagapati datang ke Pajang dengan begitu banyak pengikut? Aku mengetahui jika permintaannya telah ditolak oleh kakang Jayanegara. Apakah mungkin dia akan mengajakku bergabung dengannya dan menduduki kotaraja?” desis Bhre Pajang dalam hati. Dalam pada itu, di lingkungan keraton telah hadir dua orang asing yang berasal dari daratan Tiongkok.

Terdengar derit pintu yang perlahan didorong dari luar. Seorang perempuan setengah baya memasuki bilik sambil menuangkan wedang sere sejenak setelah ia duduk tak jauh dari Bhre Pajang.

“Kakang, serba sedikit aku mendengar kedatangan sepasukan besar dari kotaraja. Bahaya apalagi yang akan mengancam wilayah ini?” tanya perempuan yang rambutnya tergelung rapi ke belakang. Sepasang konde terselip diantara gelungan rambutnya. Alis matanya yang tipis semakin memberi kesan ketajaman nalar yang dimilikinya.

“Ki Nagapati!” jawab Bhre Pajang pendek.

“Ki Nagapati? Untuk apa ia datang dengan kuda-kuda yang sangat banyak?” desah perlahan Nyi Wardhani yang sepertinya hanya dapat ia dengar sendiri.

Sambil menarik nafas panjang, ia berkata, ”Kakang, apakah tak sebaiknya Kakang mengirim petugas sandi ke perkemahan mereka?”

“Aku telah memanggil Ki Banyak Abang. Sebelum malam tiba, ia akan segera memasuki ruangan ini. Nyi Wardhani, bukankah kau telah menjadi istriku sejak lama?”

“Apa yang sedang kau pikirkan, Kakang?” bertanya Nyi Wardhani yang kemudian bangkit berdiri mendekati suaminya.

“Duduklah,” berkata Bhre Pajang lalu, ”Aku ingin bertemu dengan Resi Gajahyana. Agaknya aku membutuhkan keluasan wawasan dan ketajaman panggraita yang tertanam dalam dirinya.”

“Tentang Ki Nagapati?”

Tinggalkan Balasan