Bondan – Langit Hitam Majapahit 1

Kisah ini merupakan jilid pertama yang dahulu berjudul Bondan dan Ki Cendhala Geni. 

Setelah melakukan pembenahan isi, Padepokan Witasem meluncurkan ulang melalui penerbit yang berbeda.

Perbaikan ini tidak mengubah banyak bagian, tetapi perbaikan kata dan kalimat serta beberapa tambahan yang tidak menyimpang dari cetakan terdahulu.

********

Awan tipis berarak seperti kabut putih yang perlahan terhembus angin pegunungan. Matahari yang mulai menghangatkan tubuh pun perlahan menanjak langit. Jalan setapak di tepi sungai Brantas itu terlihat lengang dan terkadang tak jemu menerbangkan debu yang tertiup angin.

Seorang lelaki muda yang berperawakan sedang dan tidak begitu berotot terlihat menyusuri jalan setapak yang lengang itu. Tak lama kemudian dia melihat sebuah perahu kayu terguncang hebat di permukaan air yang tenang. Terdengar dentang senjata beradu dan sambaran angin yang begitu kuat berasal dari bilik kecil diatas perahu. Dia lantas melemparkan sebilah kayu seukuran betis orang dewasa ke bagian tengah sungai, lalu melompat dan menjadikannya sebagai jejakan untuk mencapai perahu kayu itu.

Sebatang pedang melesat keluar mengarah padanya sebelum kakinya mencapai bibir perahu. Menyadari bahaya yang mengancam, Bondan Lelana lekas menekuk kaki kirinya dan menggulingkan tubuhnya di udara kemudian mendarat di geladak perahu.

Satu sosok tubuh terpental keluar melewati pintu dan terjerembab jatuh di depan kaki Bondan Lelana. Bersamaan dengan itu, seseorang melompat keluar dari bilik diiringi bentakan menggelegar.

”Enyahlah anak muda!” seru Prana Sampar, seseorang yang bertubuh kecil dengan rambut hitam sebahu dari lereng Gunung Wilis.

Bondan menjawab, ”Tiba-tiba engkau mengusirku, Ki Sanak? Bukan satu kebetulan aku melewati jalan ini lalu melihat kalian berkelahi.”

“Itu bukan urusanmu. Aku minta engkau segera pergi dari sini. Meskipun begitu, aku lihat engkau memiliki ilmu lumayan tinggi. Pergilah!”

“Baiklah aku akan segera pergi. Tapi apakah tidak ada jalan lain selain kekerasan, Ki Sanak?”

“Diam! Apakah engkau ingin aku lemparkan ke sungai ini?”

Sementara itu tubuh yang terjatuh di depan Bondan sedikit beringsut, dan agak sempoyongan dia mencoba untuk berdiri. Tetapi dia menepiskan uluran tangan Bondan yang mencoba membantunya tegak berdiri.

“Minggirlah! Cepat pergi! Aku akan selesaikan urusan ini dengan setan itu,” desis perlahan keluar dari bibirnya.

Bondan, dengan menyimpan rasa penasaran tentang sebab perkelahian, segera menjauh dari kedua orang yang bersabung nyawa. Sebenarnya ia ingin melerai kedua orang yang hampir lupa diri, namun rasa untuk tidak mencampuri urusan orang lain telah mengekangnya. Melihat perkembangan sementara, perkelahian itu memang tidak tampak sebagai pertarungan yang seimbang. Seseorang memang kalah beberapa tingkat dari lawannya. Bondan termangu karena ia telah memperkirakan akhir dari perkelahian ini. Resah merasuki relung hatinya.

Pertarungan yang tidak seimbang! Desah Bondan tak bersuara. Sekilas ia memandang sekeliling. Begitu sepi. Hanya mereka bertiga yang berada di lingkungan sedikit ditumbuhi pepohonan.

Majapahit di bawah Sri Jayanegara adalah kerajaan yang tidak banyak mengalami pergolakan. Namun, di kotaraja masih tersisa bara yang dapat meledak setiap saat. Kematian Lembu Sora dan Gajah Biru menyisakan persoalan yang rawan memicu pertikaian antar kelompok bangsawan. Tetapi sejauh ini, Sang Maharatu Jayanegara masih mampu mengendalikan gejolak yang terjadi di lingkaran dekatnya. Pertarungan kecil di tepi sungai yang disaksikan  Bondan adalah buah dari kepanjangan tangan yang begitu dahsyat dan mampu membayang langit kotaraja.

Tinggalkan Balasan