Toh Kuning – Alas Kawitan 5

“Ki Lurah, aku mohon kepadamu dengan permintaan yang benar-benar berasal dari hatiku,” berkata Toh Kuning mencoba merayu lurah prajurit. Ia menangkup kedua telapak tangannya, “Ki Lurah, tentu akan menjadi perbuatan yang baik jika Ki Lurah memberi perintah anak buahmu untuk membiarkan kawan-kawanku ini tetap bermalam di tepi telaga. Kami bukanlah orang jahat dan bukan orang yang mampu membela diri. Kami membawa senjata hanya untuk menjaga diri, bukan untuk kepentingan yang lain.”

“Anak muda, usaha keras dan sikapmu memang tidak menyinggung kami. Tetapi tugas kami adalah menjadikan apa yang telah diperintahkan raja untuk dipatuhi semua orang,” berkata lurah prajurit namun kali ini ia meminta pasukannya untuk tidak bersikap siaga.

Toh Kuning mengerutkan keningnya. Ia berpikir keras untuk menghindarkan benturan keras di antara mereka. Kemudian ia melangkah lebih dekat,  dengan sungguh-sungguh ia berkata,” Ki Lurah, mungkin ada baiknya jika kalian bermalam bersama kami di tempat ini. Aku berpendapat seperti itu agar tidak ada prasangka buruk pada kalian.”

“Kau memang cerdik. Kami sama sekali tidak berburuk sangka, kami hanya menjalankan kewajiban dari pemimpin kami,” kata lurah prajurit.

“Tidak adakah rasa iba dalam hatimu, Ki Lurah?” Toh Kuning menyatakan kesedihan melalui wajahnya, saat itu ia menundukkan kepala usai berbicara.

Lurah prajurit menatap dengan tajam wajah Toh Kuning. “ Anak muda, aku minta kalian dapat membantu kami yang sedang berusaha menjalankan tugas,” kata lurah prajurit. Ia merenung sejenak. Kemudian, ”Baiklah, kami akan mengantarkan kalian ke gardu penjagaan terdekat. Aku harap kalian tidak salah mengerti bahwa kami semata-mata hanya menjalankan tugas. Namun kami juga mempunyai perasaan maka dari itu kami akan mengawal kalian ke gardu jaga.”

Toh Kuning termenung sesaat. Namun tiba-tiba orang bertubuh kurus itu berteriak memberi perintah pada kawan-kawannya untuk menyerang prajurit-prajurit Kediri. Seorang pengikut Ki Ranu Welang dengan cekatan melempar belati pendek dan mengenai dada seorang prajurit yang akan memukul  kentongan kecil yang dibawanya. Ketika prajurit yang lain berusaha mengambil kentongan yang terjatuh untuk membunyikan tanda bahaya, maka seorang dari penyamun bergerak lebih cepat menghadangnya. Sekejap kemudian kedua orang itu telah terlibat dalam perkelahian seru.

Tinggalkan Balasan