Pergi

Ketika kesalahan kau tunjukkan ke wajahku.
“Ini semua gara-gara ulahmu!”

Amarah menggelegar, serasa tanganmu menampar.
Aku hanya bisa diam, terperangkap dalam gundah yang berkecamuk.

Mungkin benar ini adalah kesalahanku dulu. Ketika terus patuh pada kehendakmu. Tanpa berontak, hanya bisa menuruti maumu. Keputusan pergi jadi dalih untuk mencari pembenaran.
Penyesalan, yang datang terlambat.

“Setelah semua jelas ini salahku, apa sekarang maumu?”

Pertanyaan sia sia, jawabannya pasti ingin tetap memaksakan kehendak.

“Bersama tanpa lagi ada rasa, hanya semata karena menurutkan hasrat. Itu percuma!”
Gemuruh sampai ke ubun-ubun. Tapi harus aku redam.

“Aku, bukan lagi bonekamu. Dan tidak ingin jadi bayanganmu!”

Setetes hangat mengalir di pipi. Berharap luka ini tidak terbuka lagi.

 

“Tetaplah dalam dekap wanitamu, yang telah kau pilih waktu menduakanku. Pergi, jangan usik aku lagi!”

Lembaran itu telah usai, aku ingin bahagia.

 

Makassar, 24082019

 

Sumber gambar : Pinterest

Tinggalkan Balasan