Toh Kuning

Toh Kuning – Alas Kawitan 6

Meskipun seorang prajurit telah roboh, lurah prajurit itu masih mencoba mencegah terjadinya pertempuran yang lebih luas.

Ia berseru, “Jangan serang kami! Jangan coba menghalangi kami melakukan tugas!”

Tetapi pada saat itu ia harus meloncat surut menghindari sabetan pedang yang menyambar keningnya. Dan kemudian para prajurit Kediri harus mengangkat senjata untuk mempertahankan diri. Mereka tidak dapat membiarkan para penyamun itu menebas leher mereka  tanpa perlawanan. Perintah pemimpin mereka sebenarnya telah jelas bahwa mereka sedang mencoba untuk berbicara, tetapi ketika senjata-senjata telanjang telah riuh berkelebat maka tidak ada pilihan lagi selain bertahan. Dan itu berarti bertempur hingga darah terakhir keluar dari tubuh mereka!

“Hai orang-orang padesan! Berhentilah menyerang para prajurit!” teriak Toh Kuning yang menjadi resah dengan peristiwa yang tiba-tiba terjadi.

“Aku tidak peduli denganmu, anak muda! Kau datang untuk bermalam dengan kami, dan besok pagi kita akan merampas pedagang kaya seperti yang kau katakan pada pemimpin kami. Dan tentu saja Ki Ranu Welang tidak akan membiarkanmu hidup tenang jika kau membela para prajurit Kediri!” orang bertubuh kurus membalas seruan Toh Kuning.

“Benarkah itu anak muda?” seru lurah prajurit tidak percaya.

Di bawah desing dan sambaran senjata, ia berkata, ”Aku menyesal telah mendengarkanmu, anak muda. Aku benar-benar terpedaya oleh sikap manismu, maka sebaiknya kau persiapkan diri untuk menghabiskan sisa waktu di tepi telaga ini!”

Lurah prajurit itu lantas mengibaskan pedang pada Toh Kuning yang masih mencoba untuk menjelaskan persoalan. Sebenarnya Toh Kuning enggan untuk bertempur melawan prajurit Kediri, namun ia teringat Ken Arok dan rencana yang telah mereka susun.

“Aku tidak mungkin menyimpang kesepakatan dengan Ki Ranu Welang. Aku tidak mungkin dapat mengecewakan Ken Arok,” pikir Toh Kuning yang lantas membalas serangan lurah prajurit dengan setengah hati.

Sambil berloncatan menyerang Toh Kuning, lurah prajurit itu nampak benar-benar kesal dan berkata lantang,” Anak muda, kau akan menyesali keputusanmu dengan membela orang-orang Ki Ranu Welang. Mahesa Wunelang pasti memberimu kesempatan jika kau mundur dari kekacauan ini!”

Lurah prajurit mempunyai kesimpulan sementara jika kedudukan pasukannya akan menjadi baik apabila ia dapat menghadapi orang bertubuh kurus, namun ia ragu-ragu karena Toh Kuning selalu menghalangi pergerakannya mendekati prajurit lainnya. Pada saat itu pengikut Ki Ranu Welang berkelahi dengan garang sambil mengeluarkan kata-kata kasar. Benturan itu membuka mata prajurit Kediri bahwa kawanan yang mereka hadapi ternyata mampu menggunakan senjata dengan baik. Bahkan lurah prajurit itu sendiri kagum dengan keteraturan kawanan Ki Ranu Welang saat menerapkan siasat yang diteriakkan oleh orang bertubuh kurus.

Meskipun jumlah prajurit Kediri lebih sedikit daripada lawannya, tetapi mereka adalah orang-orang yang setiap hari selalu berlatih perang dengan berbagai siasat dan susunan gelar. Dengan begitu, sekalipun kawanan penyamun mampu bertempur berpasangan namun prajurit Kediri dapat mengimbanginya dengan gelar perang yang terus menerus berubah sesuai perintah pimpinan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *