Kidung Wit Asem

Liris : Pertemuan Jack Sparrow dengan Nawang Wulan

Tikungan Tajam

“Langite peteng dedet, hawane adem banget. Mbok kulo dijak mlebet, kersane tambah anget”

Dia menyanyikan lagu Didi Kempot di depan angkringan Mbah Maridan. Seorang lelaki tampan dengan rambut panjang sepundak. Mahir memainkan bas betot dan bersuara merdu.

“Plong rasane jero dadaku. Rasane mak plong lego atiku. Wis ora nyutnyut sirahku, rasane uwis ora ngelu”

Lagu kedua dia nyanyikan tanpa jeda. Pengunjung angkringan menikmati lagunya. Mereka menggoyangkan kepala, kaki, bahkan ikut menyanyi.

Malam kian larut, semangatnya tetap membara melantunkan lagu campur sari milik Didi Kempot.

“Wis ta cubo, nglaleake jenengmu soko atiku. Satenane aku ora ngapusi. Isih tresno sliramu”

“Mas, punya another song po ra? Don’t campursarian always” Pengunjung dengan mulut penuh dengan sego kucing tiba-tiba bersuara lantang padanya.

“Kulo nembang mawon nggih” jawabnya disertai senyum semanis es teh manis.

“Aja turu sore kaki
Ana dewa nganglang jagad
Nyangking bokor kencanane
Isine donga tetulak
Sandhang kalawan pangan
Yaiku bageyanipun
Wong melek sabar narima”

Semua tercengang mendengarkan

Pria tampan dan nyentrik, bercelak hitam di kedua mata, membuat tatapannya setajam sembilu. Dia adalah Jack Sparrow, bajak laut dari Karibia yang kini bernama Joko Sepiro.

Di ujung malam, nyanyiannya terhenti. Lelah mendera, menghibur pengunjung angkringan tanpa henti. Di sudut bak sampah dia sandarkan tubuh yang melemah. Sebotol air mineral tandas dia habiskan dalam sekejap.

“Kae cah bagus kok ngamen to yo?” Pengunjung lain bernama Sunarti bertanya pada Mbah Maridan.

“Mau tahu aja apa mau tahu banget?” Mbah Maridan menggoda.

“Don’t play with me lah, Mbah. He looks so mesakno, you know” teman Sunarti bernama Suparmi menimpali.

Mbah Maridan bercerita tentangnya. Jack Sparrow alias Joko Sepiro. Bajak laut Karibia yang terdampar di pantai laut selatan. Setelah berhari-hari terombang ambing di lautan.

Black pearl karam setelah menghantam patrick dari bikini bottom yang sedang mengapung bersama Sponge bob. Tak ada yang selamat kecuali sang Kapten. Dia diselamatkan oleh lumba-lumba yang melintas.

Saat itu hatinya hancur, menyadari black pearl telah karam. Dia sebatang kara, menapak di tanah jawa. Mpu Branding menjadikan murid dan membuatnya bertahan saat terpuruk.

“Sakno, yo, mbah” Sunarti mbebes mili mendengar cerita Mba Maridan

“Ayok, ti, kita lets go, mulih” Suparmi melangkah pergi meninggalkan Sunarti yang melongo karena harus membayar semua yang mereka makan.

Joko Sepiro bahagia, malam itu hasil mengamen lebih banyak dari kemarin. Senyum tipisnya tersungging di balik rambutnya yang menutupi wajahnya saat menghitung rupiah hasil bernyanyi.

“Rejeki Muharram, Alhamdulillah” Joko sepiro memasukkan uang ke dalam kantung celananya setelah ia gulung asal-asalan. Tubuhnya lelah, tapi bahagia. Uang di kantung cukup untuk membeli makan dua hari. Untuknya dan Mpu Branding.

Dia berjalan membelah malam. Ingatannya kembali saat membelah badai. Komandonya lantang mengatur awak kapal agar tak digulung ombak. Menyerang dan merampas di atas samudera adalah kesehariannya.

Kini, ia sang Nahkoda tanpa kapal. Menerima jalan di bumi jawa. Bernyanyi demi sesuap nasi. Sebatang kara tanpa ambisi.

“Tomorrow is Suro night, Joko!” Mpu Branding menyambut kedatangan Jack Sparrow sambil menempa keris yang hampir jadi.

“Nggih, Mpu” Jawab Jack sambil merebahkan tubuhnya di atas dipan. Lelahnya membuat dia lelap seketika. Air merembes dari sela bibirnya. Jack ngiler.

“Wake up, Joko. Wis Subuh iki” Mpu Branding membangunkan Jack dari tidurnya dengan lembut. Dia membuka mata, menyeka cairan di sudut bibir.

“Nggih Mpu” Joko Sepiro mlayu menuju sumur di belakang rumah.

Saat matahari mulai beranjak di atas kepala, Jack Sparrow tengah menikmati tiwul sebagai makan paginya. Sejak subuh tadi, Jack tenggelam dengan rutinitas harian bernama kumbahan. Semua dia kerjakan sendiri tanpa keluh dan kesah. Hatinya lapang menerima jalan yang kini ia titi.

“Don’t lali, yo, le. Panjato coconut tree! This day is suro night. We have to ngumbah keris.” Mpu Branding memecah kekhusuan Jack menikmati tiwul. Hampir saja dia tersedak karena kaget.

Tak mampu berkata saat mulutnya penuh makanan, Jack hanya mengangguk. Rambut panjangnya turut bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Beberapa helai rontok, jatuh di atas tiwul yang sedang disantapnya.

Matahari semakin meninggi. Pohon kelapa melambai memanggil Jack untuk segera mendekap, dan memetik buahnya. Seluruh keris pusaka milik Mpu Branding harus dicuci pada malam satu suro. Beban dalam hati muncul saat teringat pedang andalannya dahulu telah berada di dasar laut. Jack Sparrow merasa tak berharga.

Jack memandang pohon kelapa yang akan dipanjatnya. Dia mengambil tali rafia yang tercecer di tanah untuk mengikat rambutnya yang terurai. Seketika, Jack ragu, celak di kedua matanya luput dia ukir. Kepercayaan dirinya luntur.

“Are you wedi, Joko?” Suara Mpu Branding kembali mengejutkannya.

“Mboten, Mpu” Jack Sparrow berbohong.

“Don’t wedi. Say my name in three, gredrik bumi in three too!” bisik Mpu Branding seraya merangkul Jack Sparrow untuk menguatkannya.

Dia melakukan perintah sang guru, Mpu Branding tersenyum melihat muridnya manut meski tampilannya semrawut. Jack manut tanpa sungut.

Jack Sparrow telah berada di atas pohon kelapa. Lima buah kelapa dia petik dan lemparkan ke bawah. Lemparan terakhir hampir mengenai Mpu Branding. Jack merasa bersalah.

Seusai tugas, dia tak lantas turun. Menikmati angin dari tempat tinggi membuat Jack melemparkan pandangan jauh ke tengah laut. Ingatannya tentang Black Pearl kembali hadir. Dia merindu kapal gagahnya.

“Get down, Le” suara Mpu Branding memecah lamunan Jack Sparrow.

“Nggih, Mpu,” jawab Jack lantang dari atas pohon.

Sesaat sebelum turun, pandangan Jack tertambat pada danau sebelah wetan. Tampak ujung pelangi di atasnya. Ada bidadari mandi di sana. Jack terpana.

“Waduh!”

Jack berteriak kesakitan dan hampir terjatuh. Ia memegang kepalanya yang nyeri karena tertimpuk batu Mpu Branding. Dia takut sang mpu marah.

“Get down, now!”

Mpu Branding nampak kesal.menanti Jack Sparrow di atas tanah.

Jack bergegas turun, dia kumpulkan kelapa lalu berlari kecil mengejar sang Mpu yang telah berjalan meninggalkannya. Jack terus terbayang tujuh bidadari yang sedang mandi di danau sebelah wetan. Debar di dada memaksa dirinya segera menghampiri mereka.

Jack memastikan Mpu Branding sedang khusu memandikan benda pusaka. Ia segera menyelinap pergi menuju danau tempat para bidadari mandi.

Dari balik ilalang Jack terus memperhatikan tujuh bidadari yang sedang bersenda gurau. Badannya menghangat, debar jantungnya semakin tak beraturan. Selendang di atas batu jadi incaran. Jack Sparrow menyelinap dalam diam, mengambil selendang nawang wulan. Bidadari tercantik incaran Joko Tarub kini mengisi hati Jack Sparrow.

Selendang dalam genggaman, dekapan Nawang Wulan telah menari di pelupuk mata. Hatinya tak menentu. Terbayang dirinya dan bidadari tercantik mengarungi samudra bagai Jack dan Rose.

Angannya melayang, menggapai masa depan bersama Nawang Wulan. Kembali mendekap ombak di laut lepas. Jack Sparrow tersentak, Gadis pujaannya telah berada di hadapan.

“Kang Mas, do you see my selendang? I can’t fly to khayangan” Nawang Wulan tersenyum manis padanya.

“Selendangmu ada padaku. Kini, engkau milik Joko Sepiro”

Jack Sparrow dan Nawang wulan berjalan bergandeng tangan. Menapaki senja dengan harapan baru. Kisah cinta tanpa noda, terjalin di malam satu suro.

Dari balik batu seorang pria dengan tangan mengepal menahan amarah penuh dendam. Menatap sejoli tanpa kendali. Joko Tarub terkhianati.

“Kurang asem! Joko Sepiro!!! Nek kowe ora duwe sego, ojo mangan konco! Nawang Wulan tak pek bojo!”

 

Bekasi, 13 September 2019
MiLia Maheswari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *