Toh Kuning

Toh Kuning – Alas Kawitan 7

Perkelahian semakin sengit. Orang-orang yang berada di dalam lingkaran maut mulai bersimbah darah, meski belum ada yang tumbang.

Setiap orang mempunyai tujuan yang berbeda walaupun mereka terikat pada satu kelompok yang sama. Ada prajurit yang bertempur mati-matian untuk kenaikan pangkat dan nama baik, ada pula yang berkelahi karena ingin mempertahankan hidup, ada pula yang mengangkat senjatanya demi keamanan bersama.

Begitu pula yang terjadi di dalam kelompok Ki Ranu Welang. Meskipun mereka semua adalah orang-orang yang seringkali berbuat jahat, namun tindakan mereka juga diawali dengan tujuan yang berbeda. Diantara mereka, ada yang berbuat jahat karena menginginkan kemuliaan. Ia mengukur keberhasilan berdasarkan hasil yang ia peroleh. Ada juga penyamun yang berbuat jahat karena ia tidak memiliki keterampilan lain selain merampas dan membunuh.

Maka, dengan demikian, perkelahian orang-orang itu mempunyai tujuan akhir yang berbeda satu sama lain. Mereka berhadapan untuk saling mengalahkan. Memperjuangkan kepentingan masing-masing dan keyakinan yang mereka sebagai kebenaran tertinggi

Sementara itu, Toh Kuning berkelahi menghadapi lurah prajurit dengan perasaan gamang. Pada dasarnya ia telah yakin dan percaya jika para prajurit itu bukanlah musuh sebenarnya, selain itu Toh Kuning juga tidak ingin membunuh walau terpaksa. Tetapi kenyataan yang ia hadapi pada malam itu membuatnya harus segera mengambil keputusan berat.

“Oh, andai saja perkelahian ini dapat dihindari,” keluh Toh Kuning dalam hatinya. Kegamangan yang melanda hati Toh Kuning membuatnya lengah hingga pada satu kesempatan ia harus berkelahi dengan lambung yang tergores pedang.

“Mengapa kau menjadi ragu-ragu, anak muda?” lurah prajurit itu bertanya.

“Kalian bukanlah orang-orang yang pantas untuk dibunuh!” Toh Kuning menjatuhkan tubuhnya dan bergulingan menjauh dari kejaran pedang lurah prajurit.

“Maka keluarkanlah senjatamu atau kau akan ditinggalkan sebagai mayat tidak dikenal di hutan ini.”  Lurah prajurit menutup bibirnya dan mencecar Toh Kuning dengan ujung pedang yang seolah berjumlah belasan. Satu rangkaian gerak yang sangat cepat dan benar-benar merepotkan saudara seperguruan Ken Arok ini.

Menyadari keadaannya yang kian terdesak, Toh Kuning menambah kecepatannya selapis demi selapis mengimbangi lurah prajurit yang semakin kuat dan cepat.

Namun dalam waktu yang sama, lurah prajurit ini semakin dekat membawa kematian bagi Toh Kuning. Tubuh lurah prajurit telah terbungkus rapat oleh gulungan pedang. Ia harus secepatnya mengakhiri perlawanan Toh Kuning yang sekali-kali melancarkan serangan balasan. Lurah prajurit beberapa kali melirik kawan-kawannya dan ia mulai gelisah karena para pengikut Ki Ranu Welang secara meyakinkan mampu menguasai keadaan.

Meskipun prajurit Kediri cukup lincah dan cekatan dalam menempatkan diri untuk bertempur berpasangan namun tekanan demi tekanan terus menerus dilakukan pengikut Ki Ranu Welang. Sehingga sedikit demi sedikit pertahanan prajurit Kediri menjadi mengendur dan terbuka, berulang kali lurah prajurit meneriakkan perintah untuk mengubah cara bertempur namun lawannya selalu dapat mengurung mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *