Toh Kuning

Toh Kuning – Alas Kawitan 8

Pertempuran itu telah kehilangan keseimbangan, dentang senjata beradu mulai melemah seiring dengan tumbangnya prajurit Kediri  satu demi satu.

“Aku kira tidak boleh ada satu orang prajurit pun yang terlihat hidup,” lirih Toh Kuning berkata. Ia merubah keputusan dan harus membunuh perasaannya sendiri.

Jika pada pertemuan awal, Toh Kuning merasa berat dengan adanya kematian, tetapi kini ia melihat sebuah balasan yang tersembunyi.

Satu kematian prajurit Kediri akan menjadi sebab turunnya sebagian besar pengawal keamanan ke setiap jengkal wilayah kerajaan. Dan itu berarti membuat sempit ruang geraknya. Kepala Toh Kuning akan menjadi berimbalan hadiah besar! Satu alasan lain adalah Toh Kuning tidak akan membiarkan Ken Arok terusik. Memutus hidup para prajurit Kediri adalah jalan yang harus ditempuhnya. Ia akan lakukan itu demi keselamatannya sendiri dan Ken Arok.

Kemudian ia berkata lantang, ”Bunuh semua prajurit Kediri!” Perintah Toh Kuning membuat pengikut Ki Ranu Welang lebih ganas mengayunkan senjata. Setiap prajurit yang roboh pasti akan diikuti oleh seruan kemenangan. Jiwa-jiwa para penyamun yang dirundung kegelapan seolah terpuaskan ketika mereka mampu mengakhiri hidup lawan-lawannya.

Beberapa diantara mereka bahkan melakukan perbuatan di luar batas kemanusiaan. Tubuh-tubuh prajurit yang sudah tidak bernyawa pun masih belum lepas dari goresan ujung senjata mereka.  Benar-benar kekejaman yang jauh di luar batas kewajaran!

“Biadab!” lurah prajurit membentak nyaring. Ia melihat perlakuan yang diterima oleh jasad kawan-kawannya. Mereka telah mati, lalu kepuasan apa yang dicari orang-orang ini? Pikirnya.

Darahnya mengalir lebih cepat, jantungnya berdentam lebih kuat. Ia sangat marah dan ingin keluar dari arena pertempuran. Bukan karena takut disiksa atau menerima perlakuan kejam, lurah prajurt tidak sampai hati melihat kawan-kawannya yang nyaris tidak utuh lagi jasadnya.

Walaupun ia seorang diri yang tersisa, akan tetapi ia adalah seorang prajurit Kediri yang dilantik oleh Sri Baginda Raja Kertajaya ketika sang raja ingin membentuk kesatuan khusus untuk  mendukung rencana Ki Lurah Gubah Baleman.

“Aku tidak mempunyai pilihan lagi, Ki Lurah,” berkata pelan Toh Kuning.

Tiba-tiba ia menarik keris dari balik punggungnya kemudian berjungkir balik di atas kepala lurah prajurit. Toh Kuning telah keluar dari garis serang lurah prajurit. Dan kini keduanya kembali berhadapan dengan lutut sedikit menekuk dan mata Toh Kuning terlihat menyala-nyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *