Lanjutan Api di Bukit Menoreh

KKG – Jati Anom Obong 32

Sesekali keduanya terpental beberapa langkah ke belakang setiap kali saling membenturkan tenaga. Pada satu kesempatan, tubuh Sayoga melenting dan berputar beberapa kali di udara, ia meluncur deras ke arah Ki Sarjuma seperti harimau menerkam mangsa tetapi dengan sigap lawannya meloncat ke samping sambil melepas satu pukulan keras menghantam bagian kepala Sayoga. Lelaki muda dari Kedawung itu menarik lengan menghadang laju pukulan Ki Sarjuma namun akibatnya adalah tubuh Sayoga terlontar seperti batu besar yang meluncur dari puncak tebing. Ia bergulingan di atas tanah berlumpur namun dengan cepat ia bangkit dan berdiri tegak dengan kaki merenggang depan belakang.

Perkelahian itu berhenti sejenak. Sayoga terlihat sedang mengatur napasnya yang memburu, jantungnya berdebar kencang setelah benturan sangat keras itu ternyata mampu mengguncang isi dadanya. Ki Sarjuma pun telah merunduk, bersiap melepas gebrakan yang mungkin lebih dahsyat dari sebelumnya.

“Bagaimana ia dapat bertahan dari pukulan tadi?” Ki Sarjuma menahan geram. Meskipun ia terkejut melihat daya tahan Sayoga namun rasa gusar lebih memenuhi isi hatinya. “Mungkinkah ia telah melakukan mesu diri semacam tapa pendem?”

Napas Sayoga mulai teratur, ia menata ulang seluruh keadaan dalam dirinya. Pada waktu itu, ia merasakan kepalanya seperti membentur sebuah batu hitam meski pukulan itu tidak secara langsung mengenai sasaran, tetapi gema tenaga inti Ki Sarjuma sanggup menembus tirai tebal yang ada.  Sekejap ia mengingat dasar-dasar ajaran ayahnya, Ki Wijil, bahwa sebatang kayu berukuran lingkar dua depa akan hanyut oleh arus lambat sealiran air maka Sayoga seperti menemukan jati dirinya kembali.

Ia memutuskan untuk menghadapi Ki Sarjuma dengan cara yang berlainan dari sebelumnya. Kecepatan tidak harus dilawan dengan kecepatan, kekuatan pun lebur dalam kelembutan. Pikir Sayoga.

Dari penampilan wadag, Ki Sarjuma seperti tidak mengalami guncangan yang berarti meski di balik itu, ia harus mengakui lebih jauh bahwa ilmu Sayoga telah menggedor bagian-bagian penting tubuhnya. Sendi-sendi di sepanjang tangan yang ia pukulkan serasa kesemutan dan bergetar. Bahkan ia sempat berpikir bahwa tangannya telah terpisah karena sempat mengalami mati rasa meski untuk beberapa kejap mata.

Di bagian lain, Empu Wisanata masih bertarung dengan kuat melawan Ki Malawi. Mereka masih terlibat dalam pergulatan yang sangat seru. Keduanya saling menyerang, berloncatan seperti terbang di udara meski belum menggunakan tenaga inti untuk menambah daya rusak serangan masing-masing.

“Aku tidak dapat menunda urusan ini lebih lama lagi! Cukup sampai di sini!” desis Ki Malawi. Lalu dengan cara mengagumkan, ia telah mendorong kekuatannya menanjak lebih tinggi. Ki Malawi tidak mengurangi tekanan atau meloncat mundur untuk sekadar mengambil masa persiapan, ia mengalirkan seluruh ilmunya ke seluruh kaki dan tangannya pada saat ia masih harus melayani gebrakan demi gebrakan musuhnya.

Kini kejutan beralih pada Mpu Wisanata. Ia tidak habis pikir dengan kemampuan Ki Malawi yang tiba-tiba seperti dikelilingi oleh udara panas yang silih berganti dengan hawa dingin.

Demi mengimbangi tingkatan Ki Malawi, maka Mpu Wisanata pun menurunkan aliran serang. Tetapi pada saat yang bersamaan ia meningkatkan daya tahan tubuhnya agar terlindungi dari udara panas dan dingin yang keluar dari setiap kibasan gerak Ki Malawi.

Sementara Ki Sarjuma masih beradu mata dengan Sayoga, empat pengawal Menoreh mulai menjauhi garis perkelahian mereka. Para pengawal yang dikirimkan Ki Gede itu saling bertukar pandang, mereka sedikit mengingat sosok Agung Sedayu sebagai anak muda berilmu tinggi saat masih seusia sama dengan Sayoga.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *