Lanjutan Api di Bukit Menoreh

KKG – Jati Anom Obong 33

Mpu Wisanata turut merasakan perbedaan dari lingkar perkelahian yang berada tidak jauh darinya. Sudut mata lelaki yang dulu pernah bergabung dengan Ki Saba Lintang ini menangkap pergerakan luar biasa dari Sayoga. Maka, kemudian orang-orang yang terlibat dalam pertempuran itu secara tidak sengaja menarik napas panjang bersamaan.

Ya, mereka berharap Sayoga dapat menahan keseimbangan  atau setidaknya memberi kesempatan bagi mereka untuk membekuk dua orang yang tidak bertanggung jawab ini.

Pada saat itu, Mpu Wisanata masih terlibat dalam sengitnya pertarungan melawan Ki Malawi yang telah mengeluarkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Namun belum seorang pun baik Mpu Wisanata maupun Ki Malawi yang bertarung dengan senjata, meskipun demikian, mereka bukan lagi berkelahi dalam lapis penjajagan. Sekujur tubuh mereka telah dialiri kekuatan-kekuatan yang dapat meledak setiap saat.

Keduanya sama-sama merasakan rasa nyeri yang menyusup cepat melalui pembuluh darah setiap kali kekuatan besar mereka beradu. Ki Malawi mengakui dalam hatinya, bahwa pertemuan mereka dengan Sayoga harus diakui sebagai awal dari hambatan besar. Ia dan Ki Sarjuma tidak menduga jika keonaran di pedukuhan induk dan sekitarnya mendapat tanggapan cepat dari Ki Gede Menoreh.

“Perkelahian ini seharusnya tidak ada,” berkata Ki Malawi dalam dirinya, “apalagi kekuatan lelaki muda itu benar-benar berada di luar kewajaran.” Sudut mata Ki Malawi mengerling sejenak ke arah perkelahian rekannya, Ki Sarjuma.

Debar khawatir sempat mendarat pada alas jantung Ki Malawi. Sekilas ia menebar pandang dan empat pengawal Menoreh masih bersiaga pada kedudukan masing-masing.

Keadaan yang sama juga dirasakan oleh para pengawal Menoreh. Mereka bukan termasuk orang-orang yang berilmu tinggi maka setiap penilaian hanya berdasarkan kejadian yang berlangsung di hadapan mereka. Pengawal Tanah Perdikan Menoreh ini menjadi saksi perubahan Sayoga yang kini berada dalam suasana yang sulit dimengerti. Seorang pemuda yang hanya sesaat bergaul dengan penduduk Menoreh kini telah bertaruh nyawa untuk sebuah alasan yang mungkin baru mereka dengar setelah perkelahian usai, jika Sayoga masih hidup.

Angin berhembus sedikit kencang dari pegunungan Menoreh.

Kematangan Sayoga belum sepenuhnya teruji dalam perkelahian itu, tetapi ia ditempa oleh hal lain yang tidak kalah menggetarkan dari lancipnya ujung pedang. Sayoga berada di bawah bimbingan orang tuanya sendiri maka kematangan batin Sayoga menjadi penentu. Wawasan yang dibagikan oleh Ki Wijil sedikit banyak mempengaruhi cara berkelahi anak muda dari Kedawung ini.

Pedang kayu telah kembali berada dalam genggamnya. Tatap mata Sayoga mendadak berubah menjadi dingin dan wajahnya membeku. Sayoga mencoba melarutkan dirinya, ia berusaha menyesuaikan diri dengan suasana mengerikan yang memancar kuat dari Ki Sarjuma. Dalam pikiran Sayoga, ia berharap keadaan membaik jika ia tenggelam dalam kengerian yang ditebar oleh Ki Sarjuma.

Bagi Sayoga, Ki Sarjuma adalah lawan yang mempunyai tataran lebih tinggi jika dibandingkan dengan Ki Jagabaya, teman ayahnya. Meski begitu ia tidak merasa jerih atau gentar.

Sayoga menerjang Ki Sarjuma dengan putaran senjata yang lebih dahsyat!

Ujung pedang Sayoga, meski terbuat dari kayu, namun mampu mengeluarkan suara berdecit keras. Ia berkelahi dengan sangat hebat seperti tidak ada lagi hari esok. Dan memang itulah yang dirasakan oleh Sayoga. Ia memaksa dirinya untuk berjuang lebih keras walaupun kedua matanya tidak akan pernah lagi menatap mentari pagi, selamanya.  

Maka yang dihadapi oleh Ki Sarjuma adalah ia tidak dapat mendekati Sayoga meski sejengkal. Semua celah pertahanan Sayoga telah terbungkus rapat oleh gulungan pedang kayu. Dan setiap kali pukulan Ki Sarjuma tertolak batang pedang maka Ki Sarjuma merasakan getar yang hebat. Ia semakin menderita rasa perih yang menyakitkan.

“Apakah Menoreh memang selalu menyimpan sebuah rahasia hingga tidak pernah berhenti memunculkan orang muda berilmu tinggi?” keluh Ki Sarjuma yang lambat laun tak lagi bergerak secara aneh.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *