Fiksi

Dr. Bagas – Mafia 1, Novel

Mafia Pemilihan Walikota

Kota Surabaya jadi salah satu kota metropolitan termaju pembangunannya senusantara. Tapi sejalan dengan pertumbuhan ekonominya yang pesat tingkat kejahatan yang tinggi membayangi warga kota belakangan ini. Serbuan urbanisasi dan pasar bebas dunia membuat kota ini tidak pernah tidur.

“Code Blue..Code Blue,” teriak petugas medis 119
menurunkan pasien dari dalam ambulans di rumah sakit pusat rujukan. Dengan
sigap petugas jaga IGD pun berespon menerima pasien dalam keadaan
berdarah-darah dan mendorongnya ke ruangan gawat darurat.

“Orangnya dibegal, kami temukan di jalan dalam keadaan
tidak sadar,” kata petugas medis 119 pengantar pasien kepada dokter jaga
yang menerimanya.

Praktis dalam beberapa tahun belakangan ini rumah sakit itu
kebanjiran korban tindak kejahatan. Tak cuma petugas medis yang sibuk
menyelamatkan nyawa korban, pihak kepolisian pun dibuat tak bisa tidur nyenyak
di malam hari menguber para pelaku tindak kriminal.

“Pasien buruk. Siapkan kamar operasi segera!”
perintah seorang pria berseragam biru-biru, mengawasi monitor tanda-tanda vital
pasiennya. Berapa kali ia menarik nafas dalam perhatikan kondisi pasiennya yang
memperihatinkan. Pria itu tak lain adalah dokter Bagas, dokter bedah yang
bertugas jaga.

Pikiran dokter itu pun melayang ke masa lalu dimana adiknya
sempat menjadi korban pembegalan. Tragis benar nasib adiknya itu sewaktu pulang
kuliah motornya dirampas dan dia sendiri meninggal ditikam karena melawan para
begal.

*****

Di sebuah bangunan kusam, bekas bengkel tak jauh dari
Surabaya, sejumlah orang bersenang-senang, mengadakan pesta kecil.

“Hak..hak..hak. Lumayan pendapatan kita bulan
ini,” kata seorang pria tambun brewokan pada sekumpulan orang, sumringah
dengan tawa khasnya yang aneh. Dari tingkahnya berdiri di depan sejumlah orang
yang asyik berleha-leha menandakan pria tersebut pimpinannya. Pria itu
mengeluarkan sejumlah uang yang masih terbandrol rapih dari dalam koper.

Ucok Codet, demikian namanya karena ada bekas luka memanjang
di pipinya, namun di kalangan geng motor akrab dipanggil Kapten Ucok. Sebelum
membentuk geng motor dirinya sempat menjadi anggota militer tapi dikeluarkan
karena banyak melakukan pelanggaran. Sakit hati didepak dari militer, iapun
membentuk geng motor namun dibalik geng motor, Ucok Codet berbisnis narkoba.

Geng motor Barock bentukan Ucok sangat disegani, disamping
punya rasa solidaritas tinggi dan sering memenangi balapan liar juga tidak
segan menghabisi lawan hingga tewas. Tak urung banyak geng motor kecil yang berafiliasi
di bawah perlindungan Barock. Tapi tidak berarti berlindung di bawah Barock
gratis, karena tiap bulan para geng motor harus menyetorkan upeti sebagai tanda
loyalitas.

“Ahi, Ente kalo punya fulus sebanyak ini mau
diapakan,” kata Ucok Codet kepada seorang pria yang sedang asik memainkan
gadget.

“Kalo ana, kawin lagi lah Bang. Bosan kalo cuman punya
istri tiga.”

“Hak.hak.hak. Memang bahlul Ente. Hobinya kawin
aja,” tukas Ucok sambil melempar tiga gepok uang kertas ke arah Ahi yang
langsung ditangkap pria itu, senang.

“Kalo sampean pegang duit sebanyak ini mau diapakan,
Jungkrik?” tanya Ucok sama seorang pria kurus yang sibuk membersihkan
belati kesayangannya.

“Hmm..apa ya. Nganu, mau naikkan orang tua ke
haji,” ucap laki-laki itu polos tanpa bergeming memandang pisau belatinya.

“Hmm..ternyata Sampean anak berbakti juga ya. Ya sudah ini kutambahin bonus tapi titip doa ke orang tuamu ya, agar usaha kita lancar,” kata Ucok memberikan lima gepok uang kertas ke Jungkrik yang disambut tanpa ekspresi.

Untuk memesan Dr. Bagas, silahkan hubungi (Klik nama di bawah ini) :

Telp/WA : Didie

(ditayangkan sesuai isi novel atas seizin penulis, Didie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *