Langit Hitam Majapahit

Bondan – Langit Hitam Majapahit 4

Bondan tidak menyahut.  Ia sadar sepenuhnya bahwa orang yang sedang menyerangnya ini benar-benar ingin menghabisi dirinya. Dan jika melihat luka di dada Wiratama maka jelas terlihat kekuatan sesungguhnya dari penyerangnya ini. Namun begitu Bondan belum memutuskan untuk melawan atau segera melepaskan diri dari perkelahian. Meski akhirnya, untuk sementara ini, ia ingin menjajaki kemampuan bertarung dari pembunuh Wiratama ini. Bodan tidak dapat melawan rasa ingin tahunya yang cukup besar. Ia tampak ingin bermain-main dengan bahaya yang ada pada sosok yang bernama Prana Sampar.

Ketika itu, Bondan yang sudah menduga arah serangan lantas menggeser tubuh. Prana Sampar sedikit terkejut dengan kecepatan Bondan namun hal itu semakin menjadikan dirinya murka. Prana Sampar dengan cepat meningkatkan lapis kemampuannya. Ia mengerahkan hampir seluruh kemampuannya untuk menerjang Bondan.

Keris Sampar tiba-tiba seperti datang dari segala arah serta memiliki mata pada bagian lancipnya dan memburu Bondan yang berloncatan lincah menghindari serangan. Tetapi arus serangan Prana Sampar semakin deras dan kuat, maka dengan terpaksa Bondan memutuskan untuk meladeni serangan Prana Sampar.  Murid Resi Gajahyana ini tidak mempunyai pilihan untuk menjaga agar dirinya tidak tersayat dengan keris yang mematuk seperti ular liar yang ganas.

Suara letupan kecil terngiang di
telinga Sampar. Terkejut dengan serangan balik dari Bondan menjadikan Prana
Sampar nyaris kehilangan ketenangan. Rasa kaget yang luar biasa akibat kekuatan
yang keluar dari letupan ikat kepala menjadikan Sampar gelap mata. Ia merasa
malu pada dirinya sendiri yang telah meremehkan kemampuan lelaki muda yang
tidak dikenalnya itu. Kini semakin besar hasrat Prana Sampar untuk menghabisi Bondan.

Sebaliknya ketenangan justru lebih besar ada dalam diri Bondan ketika menghindari serangannya. Murid Resi Gajahyana ini benar-benar mampu menempatkan diri dalam benturan pertamanya semenjak meninggalkan Pajang. Ia dapat membaca tata berkelahi Prana Sampar, bahkan Bondan mampu membuat perkiraan tentang gerakan susulan yang akan dilancarkan oleh lawannya.

Caci maki dan kata-kata kesar kerap terlontar dari mulut Prana Sampar. Sangat berisik, begitu yang dipikirkan oleh anak muda dari Pajang yang menjadi lawannya. Tetapi kesabaran Resi Gajahyana dan kehidupan padepokan, tanpa disadari oleh Bondan, memberi dampak yang luar biasa bagi pengendalian dirinya. Bondan tidak mudah terpancing oleh setiap ulah yang dilakukan Prana Sampar.

Sampar memutar badannya serta menggetarkan keris seperti angin puyuh. Pada saat itu Bondan merasakan dorongan angin yang begitu kuat dari putaran keris Sampar,

“Tidak mungkin selamanya dapat menghadapi orang ini dengna tangan kosong!” ia berkata pada dirinya sendiri. Maka Bondan secara cepat menggeleparkan ikat kepalanya. Ia mulai menangkis dan sesekali membalas dengan kibasan udengnya.

Sedikit merendahkan tubuh untuk
menghindari terjangan keris Sampar, Bondan segera membalikkan tubuhnya dengan
melecutkan udengnya mematuk dada Sampar.. Menyadari perubahan itu, Sampar
menekuk tubuhnya ke belakang. Bagian atas yang terbuka segera dimanfaatkan
Bondan untuk melancarkan tendangan dengan tangan sebagai tumpuan.

Terdengar benturan keras ketika
Prana Sampar masih mampu menolakkan tendangan Bondan.

Karena pada awalnya Bondan merasa
tidak ada masalah dengan lawannya itu, ia mulai memikirkan cara untuk melepaskan
diri dari serangan Sampar.

”Ki Sanak, siapapun dirimu, aku
sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku hanya pengelana yang akan
pergi ke kotaraja,” kata Bondan sambil meningkatkan serangan dengan ikat
kepalanya disertai dengan pukulan yang bertubi-tubi yang datang seperti gulungan
ombak di lautan. Bondan memutuskan untuk membalas serangan sambil menimbang
kemungkinan untuk melepaskan diri dari Prana Sampar.

Tidak menyangka tentang kemampuan Bondan akhirnya mendorong Sampar melompat surut beberapa langkah. Gelombang serangan yang datang bertubi-tubi telah dirasakan olehnya sebagai awal dari perkelahian yang sengit.

Aku harus mempersiapkan diri, pikir Prana Sampar.

Di luar dugaan, Bondan meloncat surut, menjauhi lingkar perkelahian. “Baiklah, terima kasih Ki Sanak! Semoga engkau mendapat ketenangan,” seru Bondan sambil meninggalkan perkelahian melompati rerimbun semak dan berlari cepat menuju Trowulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *