Toh Kuning

Toh Kuning – Alas Kawitan 10

“Kau tidak akan lama bertahan , anak muda!” kata lurah prajurit sambil menjulurkan pedang ke bagian leher Toh Kuning.

Bibir Toh Kuning memerlihatkan senyum yang aneh tetapi ia tidak mengatakan sesuatu, kawan karib Ken Arok ini hanya menatap dingin pada lawannya. Ketika ujung pedang prajurit Kediri telah sejengkal berjarak dari lehernya, Toh Kuning mengayunkan tubuh ke samping, menghindar dari tusukan pedang yang tiba-tiba berubah arah dengan menebas menyilang. Toh Kuning mengikuti perubahan gerak lawannya, ia memiringkan tubuh sekaligus melepaskan serangan balasan dengan kerisnya yang menyusup lambung lurah prajurit yang terbuka. Namun lurah prajurit kemudian menjatuhkan diri dengan bergulingan lalu bangkit dan memutar pedangnya menyambar dada Toh Kuning.

Para pengikut Ki Ranu Welang bergerak mendekati lingkaran perkelahian Toh Kuning. Mereka berdiri mengelilingi dua orang yang mulai meningkatkan perkelahian dan sesekali bersorak-sorak ketika lurah prajurit meloncat surut atau jatuh bergulingan.

Lurah prajurit memahami jika ia tidak akan dapat hidup sekalipun dari Toh Kuning. Ia meloncat jauh ke belakang dan menyusun ulang tata geraknya. Ia telah membuat keputusan terakhir. Pedangnya kini mulai dilambari tenaga inti dan tangan kirinya tampak mengeras. Tiba-tiba ia meloncat jauh menerjang Toh Kuning dengan sangat cepat. Sangat sulit bagi mata biasa untuk melihat kecepatan gerak lurah prajurit yang telah siap mengadu tenaga inti dengan Toh Kuning. Namun Toh Kuning mempunyai pemikiran lain. Seringkali orang tidak dapat menebak jalan pikirannya, termasuk para pengikut Ki Ranu Welang. 

“Aku tidak akan membunuhmu, Ki Lurah,” kata Toh Kuning dalam hatinya.

Ia memutuskan untuk bertindak sangat keras sehingga seolah-olah lurah prajurit itu mati terbunuh di tangannya. Otak Toh Kuning berputar cepat mengingat setiap urat dan jalan darah yang dapat menyebabkan seseorang menjadi pingsan namun tidak dapat mati. Ia tidak ingin pengikut Ki Ranu Welang mengetahui apabila ia membiarkan lurah prajurit itu tetap hidup. Dengan suatu alasan maka Toh Kuning masih merasa mempunyai kepentingan terhadap Ki Ranu Welang.

Dasar-dasar ilmu pengobatan yang diajarkan oleh gurunya mulai melintas dalam ingatan Toh Kuning. Ia merencanakan sesuatu yang dianggapnya penting untuk ditunjukkan.

Kini ia dengan cepat mulai membalas serangan lurah prajurit. Bahkan Toh Kuning pun sesekali membenturkan tenaga ketika dua kepalan bertemu, kadang mereka berdua juga mengadu kedua siku dan lengan. Tanpa disadari oleh lurah prajurit, Toh Kuning meningkatkan tenaganya selapis lebih tinggi. Namun begitu lurah prajurit sebenarnya mempunyai dugaan apabila anak muda yang bertarung dengannya itu memang mempunyai tingkatan yang tinggi. Betapa ia setiap kali mencoba melakukan perubahan, maka Toh Kuning selalu dapat menghadangnya atau mampu membaca gerakannya sehingga lurah prajurit sering menemukan jalan buntu.

Walau demikian, lurah prajurit itu tetap mempunyai keyakinan jika ia dapat mengalahkan Toh Kuning. Dan pada saat ia telah merasa pada puncak tenaga inti yang dimilikinya dan mulai mengadu bagian tubuhnya, lurah prajurit merasa terkejut karena Toh Kuning masih dapat mengimbanginya. Bahkan sekarang lurah prajurit mengalami kesemutan dan tangannya bergetar hebat kala beradu senjata dengan Toh Kuning.

Toh Kuning yang kemudian meningkatkan kecepatan serangannya dan ujung kerisnya seolah mejadi puluhan jumlahnya. Tiba-tiba tanpa disadari oleh lurah prajurit, satu goresan pendek telah mengoyak kulitnya. Lurah prajurit berteriak marah dan serangannya semakin lama semakin tidak menentu arahnya. Menyadari usahanya untuk memancing amarah lurah prajurit telah membuahkan hasil, Toh Kuning meloncat surut jauh beberapa langkah. Ia memersiapkan diri untuk melakukan rancangan serang selanjutnya. Tubuh Toh Kuning berloncatan ke banyak arah dengan kecepatan yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *