Langit Hitam Majapahit

Bondan – Langit Hitam Majapahit 5

”Sipat
keketan!
Anak
ingusan sepertimu telah mencampuri urusan orang dan sekarang kabur dari
perkelahian? Berhenti!”

Sampar mencoba mengejar namun kini ia telah menyadari bahwa anak muda yang dikejarnya bukan pemuda biasa. Prana Sampar yang bernafsu untuk membunuh Bondan pun tiba-tiba disergap keraguan.Meski begitu, ia mempunyai pikiran buruk apabila Bondan menjadi sumber berita tentang tersiarnya kabar pembunuhan Wiratama.

Tidak mudah mengalahkannya tetapi ia harus dihentikan dengan segala cara! Tekad Prana Sampar menggumpal di hatinya.

Ia tidak membatalkan niat, tangannya berkelebat cepat melontarkan beberapa paku besi yang kemudian meluncur deras di belakang punggung Bondan. Tetapi murid Resi Gajahyana ini hampir menghilang dari pandangan mata. Dalam waktu singkat, pemuda ini telah menjauh dari tatap mata pemburunya sekalipun Sampar telah mengerahkan tenaganya untuk mengejar Bondan.

Kehilangan buruan menjadi sebab bagi Sampar untuk merasa semakin gusar di penghujung hari. Berulang-ulang ia menendang kerikil dan ranting yang melintang di jalan. Ia memutuskan untuk mengasingkan diri di satu tempat yang jauh dari jangkauan prajurit Majapahit.

***

Serabut merah menggelayut di langit senja Trowulan. Beberapa rumah mulai memperlihatkan gemerlap pelita kecil. Malu-malu debu jalanan menyapa setiap derap langkah yang melintasinya. Bondan mengayun langkah kaki ke rumah salah satu kerabatnya, Nyi Retna Ayu Indrawati, perempuan tangguh yang menjadi kepercayaan Mpu Nambi  Wanita yang berusia lebih daru setengah baya ini juga merupakan kakak dari ayah Bondan.

Dalam ayun langkahnya, Bondan terkenang kejadian sebelumnya. Ia merasa bersalah karena kematian Wiratama di tepi Sungai Brantas. Dalam benaknya, terhimpun pikiran bahwa jika ia tadi bergerak lebih cepat untuk melerai perkelahian maka tentu saja korban akan dapat dihindari.

Sebenarnya ia berada dalam kebimbangan antara benar dan salah. Namun Bondan membenarkan keputusannya untuk tidak mencampuri urusan orang-orang yang tidak dikenalnya.

Salah satu pertimbangannya untuk tidak turut dalam perkelahian adalah pakaian yang dikenakan oleh Wiratama. Saat pertarungan terjadi, Wiratama tengah mengenakan pakaian berlambang khusus. Sebuah lambang yang menjadi tanda  bahwa ia adalah prajurit yang sedang melaksanakan tugas. Maka setiap bantuan yang diberikan Bondan pada saat perkelahian berlangsung dapat saja menjadikan prajurit itu terhina. Dan jika ia tidak membantu pun mungkin perasaan itu akan selamanya ada.

“Ah sudahlah, kejadian telah
berlalu dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk menghidupkan mayat tadi. Dan
aku juga tidak tahu sama sekali dalam urusan apakah akhirnya prajurit itu
terbunuh,” gumam Bondan dalam hatinya dengan penyesalan. Sekalipun masih merasa
sulit mengenyahkan ingatan tentang perkelahian siang tadi, Bondan yakin bahwa
ia akan melewati kesulitan ini.

Satu-satunya penyesalan yang
masih membekas cukup dalam di hati Bondan adalah ia tidak dapat merawat jasad
Wiratama. Seorang prajurit tidak pantas ditinggalkan begitu saja di sebuah
tanah lapang, pikir Bondan. Apalagi jika ia sedang menjalankan tanggung
jawabnya.

“Oh, tidak! Aku berharap bayangan itu cepat beralih pergi dari mataku!” Bondan mendesah gusar dengan kepala terkepal dan pelan memukul kepalanya.

Gerbang utama kotaraja telah ia lalui. Malam itu Bondan memperhatikan bahwa ada sesuatu yang aneh di ibu kota Majapahit. Sejumlah mata menaruh curiga kepadanya, satu bentuk pandangan mata yang tak pernah ia jumpai ketika melewatkan masa kecilnya di ibu kota kerajaan untuk beberapa waktu. Bondan mendapati satu keanehan yang lain bahwa banyak sekali penjaga yang melakukan ronda pada awal malam. Para prajurit peronda berkeliling menyusur jalanan ibu kota dalam tenggang yang cukup rapat. Persenjataan lengkap terlihat melekat erat di sekujur tubuh mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *