Fiksi

Dr. Bagas – Mafia 2, Novel

“Kalo aku pegang duit banyak;, kujadikan modal bayar
suara pemilih Bang siapa tau jadi kepala daerah,” tiba-tiba Jacky anak
buahnya celetuk buka suara.

“Eh, apa katamu? Jadi kepala daerah?”

Ucok memegang dagu dan mengelus brewoknya seperti berpikir.

“Hak.hak.hak. Idemu cemerlang, pintar banget Kamu.
Enggak rugi aku punya anak buah seperti Sampean,” kata Ucok kembali
mengambil gepokan duit dari kedua anak buahnya yang baru diberi.

“Loh Bang duit kita?” protes Ahi.

“Ente puasa dulu punya bini empat yak. Anggap saja
abangmu ini punya hutang. Ntar kalo jadi kepala daerah, kucarikan bini sepuluh
buat ente,” kata Ucok terkekeh.

“Eh Jungkrik, orang tuamu didaftarin haji aja dulu.
Duit tunainya belakangan aja ya,” lanjut Ucok kembali memasukkan gepokan
duit ke dalam koper dibawah tatapan bingung anak buahnya.

“Kampret!” umpat Ahi, angan-angannya memiliki
istri baru lenyap.

Akibat ucapan Jacky, mereka batal menerima bonus selama
sebulan. Ahi menyambit kepala Jacky dengan bungkusan makanan, sayang
lemparannya tidak tepat sasaran. Sadar jadi target amukan teman, Jacky beringsut
mendekati Ucok cari perlindungan.

“Jacky!”

“Siap Bang!”

“Aturkan pertemuan aku sama Bang Junet. Kudengar dia
mencalonkan diri jadi gubernur jawa timur sebentar ini,” kata Ucok sama
anak buahnya sambil mengeluarkan laptop dari tas ransel.

“Oh ya sepertinya kita sudah harus punya ruang kerja
yang lebih bagus dari ruangan ini. Suruh Kido carikan gadis cantik dan menarik
jadi sekretarisku,” lanjut orang nomor satu di Baroks itu, bersemangat.

Uang yang melimpah, tidak ada yang tidak mungkin didapatkan
lelaki brewok ini. Ucok sangat licin seperti ular, meski menjalankan bisnis di
dunia gelap bertahun lamanya tapi hingga kini ia dan bisnisnya tak pernah
tersentuh oleh hukum. Itu lantaran pintarnya lelaki ini memainkan duit dengan
menyuap pihak-pihak tertentu. Selain itu juga lelaki ini dikenal gemar beramal,
dengan memberi bantuan ke sejumlah organisasi sosial sehingga kerajaan
bisnisnya semakin besar.

Malam belum terlalu larut, Kido yang hendak berkumpul di
markas Barock di tengah jalan motornya dihadang seseorang. Penerangan jalan
yang temaram membuat ia kesulitan mengenali wajah orang di depannya yang berjas
hitam dan bertopeng.

“Hoy..bosan hidup ya menghalangi jalanku!” gertak
Kido sambil memainkan gas motornya meraung-raung.

Sosok misterius yang menghalangi jalan tidak bergeming.
Hanya mengeluarkan sebuah ponsel dari saku dan menekannya. Tiba-tiba terdengar
nada dering handphone dari bawah sadel motor.

“Kriingggg…..kriingggg…kriinggg.”

Bukan main terkejutnya Kido, ternyata motor yang baru saja
dirampas itu di dalam sadel terdapat handphone pemiliknya. Lelaki itu gusar
aksinya terendus lewat GPS milik ponsel korban. Marah ketahuan, ia pun turun
dari motor dan menghunuskan belati mendekati sosok misterius yang
menghadangnya.

“Bangsat, Sampean tidak tau berhadapan dengan siapa
ya!” kata Kido mengancam dan memain-mainkan belatinya.

Tapi sebelum lelaki itu melangkah lebih dekat, sebuah
sepritan jarum dari sosok misterius terlebih dahulu melumpuhkannya. Dalam
hitungan sekejap tubuhnya ambruk ke jalan, pikiran berputar-putar kemudian
pingsan.

Entah pingsan berapa lama, tahu-tahu lelaki itu sadar sudah
berada dalam sel penjara. Polisi menemukannya tak jauh dari kantor polisi dalam
kondisi terikat di samping motor dan sebuah telepon genggam di sakunya dengan pesan
singkat ditujukan kepada kepala kepolisian.

“PEMBEGAL!,” demikian tulisan singkat yang melekat
di tubuh geng motor itu. Mereka yang menemukan begal di dekat kantornya itu
tentu saja terkejut dan bertanya-tanya. Siapa orang yang berani meringkus dan
mengirimkannya ke kantor polisi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *