Toh Kuning

Toh Kuning – Alas Kawitan 11

Orang bertubuh kurus yang memimpin pengikut Ki Ranu Welang pun merasa sulit mengikuti bayangan gerak Toh Kuning. Sementara lurah prajurit kemudian sadar jika lawannya telah berhasil menggedor pertahanannya yang terakhir.

Namun ia terlambat untuk memperbaiki kedudukan, Toh Kuning yang berloncatan ke sana kemari berhasil menggapai tubuh lurah prajurit dengan dua tiga pukulah . kemudian dalam satu gebrakan dahsyat, Toh Kuning berhasil memukul jatuh pedang lurah prajurit dan bersamaan dengan itu Toh Kuning melepaskan kerisnya. Ia ingin memberi kesan pada pengikut Ki Ranu Welang bahwa senjata mereka berdua telah lepas dari genggaman karena benturan.

“Mereka tidak boleh menganggap rendah prajurit Kediri. Sekalipun lurah ini kalah dan mati tetapi pengikut ranu Welang tetap harus menimbang kemapuan prajurit Kediri,” Toh Kuning mendesis pelan.

Tiba-tiba tangan kiri Toh Kuning yang terkepal telah menghantam bagian dada lurah prajurit, sementara jari tangan kanan mencekik leher lurah prajurit dengan kuat.

“Kau!” desah lurah prajurit dengan mata membeliak.

“Ilmu yang tidak sebanding denganku. Jangan pernah berharap dapat mengalahkanku, Ki Lurah,” lantang Toh Kuning berkata-kata kemudian ia mendorong jatuh tubuh lurah prajurit.

Dengan pandangan mata yang tajam, Toh Kuning memperhatikan tubuh lurah prajurit yang tergolek lemas dibawah kakinya.

“Aku berhasil,” ia berseru.

Kemudian Toh Kuning menoleh sekeliling lantas berkata pada pengikut Ki Ranu Welang, ”Tidak ada prajurit Kediri yang tersisa untuk hidup. Marilah! Aku minta kalian untuk membersihkan tempat ini dari mayat-mayat prajurit yang malang ini. Aku akan mengubur jasad Ki Lurah agak jauh dari sini.”

“Mengapa kau lakukan itu, Toh Kuning?” orang bertubuh kurus itu bertanya dengan dahi berkerut dalam.

“Supaya kawan-kawan mereka yang menjumpai mayat-mayat ini mempunyai pikiran jika lurah prajurit telah melarikan diri,” Toh Kuning memberi jawaban sambil memanggul tubuh lemas lurah prajurit lalu berjalan meninggalkan mereka.

Orang-orang yang mendengarnya kemudian menganggukkan kepala. Seorang diantara mereka berkata, ”Kau berpikiran bagus, anak muda!”

“Itulah gunanya teman,” jawab Toh Kuning sekenanya dengan suara lantang.

Maka pengikut Ki Ranu Welang segera bekerja sama menyingkirkan mayat-mayat prajurit Kediri itu di balik rerumputan yang tumbuh tinggi di tepi telaga, sementara Toh Kuning mengubur tubuh lurah prajurit dengan menyisakan sebuah lubang yang dapat digunakan untuk bernafas.

Selanjutnya mereka pun bergeser ke tempat lain namun masih mengikuti petunjuk Toh Kuning. Satu iring-iringan yang tidak begitu panjang telah terlihat oleh seorang pengamat. Dengan cepat ia berlari menghampiri Toh Kuning yang duduk bersembuyi dibalik sebongkah batu besar bersama orang bertubuh kurus.

“Aku melihat satu rombongan dengan pedati dan kereta kuda,” lapor pengamat itu dengan nafas terengah-engah pada orang bertubuh kurus.

“Marilah!” sahut orang itu lantas bangkit berdiri dan berjalan cepat mengikuti Toh Kuning yang ternyata lebih cepat beberapa langkah di depannya.

Sejenak kemudian mereka telah menyebar di sebuah tikungan yang lebar. Untuk masa yang agak lama, ketika matahari mendaki puncak langit, dari kejauhan terlihat tiga ekor burung terbang di atas pepohonan yang berada di tepi Alas Kawitan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *