Umum dan Sejarah

Kenyataan di Balik Kongres Pemoeda 1928

Kenjataan Oenik di Balik Kongres Pemoeda

Kongres kedua diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, dan keputusannya dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Ketua Kongres Pemuda II dipimpin oleh Sugondo Joyopuspito (PPPI) dan wakilnya Joko Marsaid (Jong Java).

Tempat penyelenggaraan kongres mengalami tiga kali perpindahan.

Pada kongres pemuda hari pertama di gedung Katholieke jongelingen Bond (Gedung Pemuda Katolik) yang sekarang berada dalam komplek Sekolah Santa Ursula Jakarta.

Hari kedua di gedung Oost Java Bioscoop (sekarang beralamat di Jl. Medan Merdeka Utara Nomor 14) dan Gedung Indonesisch Huis Kramat, saat ini Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat.

Peta di atas adalah letak Oost Java Bioscoop

Dari gedung sekolah pindah ke bioskop lalu berlanjut ke bangunan milik Sie Koo Liong. Di tempat terakhir inilah, kemudian lahir Sumpah Pemuda.

Berikut bangunan tampak depan :

SOEMPAH PEMOEDA

Pertama  : Kami Poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang  satoe, tanah Indonesia

Kedoea     : Kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia

Ketiga        : Kami poetra dan Poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Belakangan diketahui bahwa orang yang menyediakan tempat di bangunan atau rumah Sie Koo Liong adalah Muhammad Yamin. Fakta menarik lainnya adalah beliau (M. Yamin) ternyata mempunyai tunggakan 2 bulan belum bayar sewa rumah. Beliau adalah salah seorang pemuda yang ngekos di rumah itu.

Gedung itu disewa oleh kebanyakan siswa STOVIA antara lain Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.

Kemudian bangunan itu mengikuti perkembangan zaman. Banyak perubahan yang dilaluinya. Dari rumah tinggal, toko bunga, hotel, disewa Inspektorat Bea Cukai dan akhirnya dibeli pemerintah, lantas ditetapkan sebagai gedung sumpah pemuda atau tepatnya museum sumpah penuda hingga saat ini

Awalnya gedung tersebut bernama Langen Siswo kemudian berubah jadi Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan), memang terkesan alay karena nama Jawa yang diubah menjadi kebarat-baratan.. tapi itulah kreativitas pemuda saat itu.

Banyak istilah yang berubah saat itu, salah satunya adalah Tri Koro Dharmo atau TKD. Tiga kata ini memiliki arti yang tiga tujuan mulia kemudian berubah menjadi Jong Java
Laporan lain menyatakan ada sekitar 700 lebih pemuda pemudi yang menghadiri kongres.

Jadi dapat dibayangkan saudara-saudara, tempat kost M. Yamin yang mungkin segede lapangan basket!

Sekitar 750 orang hadir dalam kegiatan bersejarah tersebut, namun hanya 75 orang yang namanya tercatat. Menurut keterangan yang ada, jumlah pemudi yang hadir lebih banyak dibanding ketika kongres pemuda Indonesia pertama 1926

Dari sekian banyak perempuan yang hadir, tujuh di antaranya bisa ditelusuri ;
Siti Sundari, Emma Poeradiredja, Suwarni Pringgodigdo, Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw, dan Nona Tumbel.

Sayangnya gambar di bawah tidak mampu menampung seluruh peserta kongres.

Keunikan lain yang patut kita ketahui adalah Wage Rudolf Soepratman. Pencipta lagu Indonesia Raya ini meninggal tepat 7 tahun sebelum Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1938.

Kami bertanah air satoe
Berbangsa satoe
Berbahasa satoe
Indonesia

 

Demikian laporan sekilas dari cak Yayak 593 (Dosen Metalurgi UI) untuk Indonesia.

 

Tambahan :

Sejarah lagu Indonesia Raya yang menjadi pengiring Sumpah Pemuda.

“Pak Yo, ayo kita rekam lagu kebangsaan ini untuk diperdengarkan ketika Sumpah Pemuda nanti.”

Itulah yang dikatakan oleh WR Supratman kepada Yo Kim Tjan satu tahun sebelum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. WR Supratman dan Yo Kim Tjan merupakan kawan dari satu kelompok popular orkestra yang sama. Ketika WR Supratman mendapat mandat dari Soekarno untuk membuat lagu kebangsaan yang akan diperdengarkan saat kongres pemuda dilangsungkan nanti, ia segera meminta bantuan Yo Kim Tjan untuk merekam lagu Indonesia Raya yang masih berupa alunan musik tanpa lirik.

Sejarah di atas diceritakan oleh Udaya Halim, pemilik Museum Benteng Heritage di Tangerang. Beliau mendapatkan sejarah ini melalui putri bungsu Yo Kim Tjan, Kartika, pada tahun 2015 setelah melakukan riset selama 3 tahun. Udaya Halim juga memiliki salinan piringan hitam yang tersimpan dan dapat diperdengarkan secara eksklusif di museum miliknya.

Piringan hitam tersebut bukan tidak memiliki dokumen asli. Piringan hitam asli rekaman lagu Indonesia (dulu berjudul Indonesia Raya) tersebut masih disimpan oleh Yo Kim Tjan sampai tahun 1957. Yo Kim Tjan menyimpan piringan hitam asli tersebut sesuai dengan pesan WR Supratman sebelum meninggal tahun 1938.

“Tolong dijaga, Pak Yo. Ini untuk kemerdekaan kita,” wasiat WR Supratman. Sayangnya, piringan hitam asli beserta ratusan salinannya disita oleh Jend A.W.S Mallaby.

Pada tahun 1950, Presiden Soekarno meminta Belanda untuk mengaransemen lagu Indonesia karya WR Supratman menjadi versi mars yang kita nyanyikan saat ini.

Udaya Halim berhasil menemui Kartika, putri Yo Kim Tjan yang masih memegang salinan lagu Indonesia Raya versi keroncong. Ibu Kartika menuturkan, ia dan ayahnya sangat menyayangi salinan lagu tersebut dan membawanya ke mana pun mereka pergi mengungsi. Saat ini, salinan tersebut sudah diperbanyak dan disimpan di Museum Benteng Heritage milik Udaya Halim di Tangerang dan dapat diperdengarkan dengan membuat janji terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *