Lanjutan Api di Bukit Menoreh

KKG – Jati Anom Obong 34

Tiba-tiba Ki Sarjuma meloncat surut namun Sayoga tidak mengejarnya. Lelaki muda dari Kedawung ini memilih untuk tetap berada di tempatnya dengan dua kaki sedikit merenggang.

“Sayoga!” seru seorang pengawal yang ternyata masih mengingat wajah Sayoga dengan baik. “Jika kau mau, kita bersama-sama dapat melawan dan mengalahkan orang ini!”

Sayoga sekilas menggerakkan sudut mata ke arah pengawal Menoreh, teriaknya, “Ini perang tanding, paman! Biarlah nyawaku menjadi jawaban atas segala yang terjadi di tempat ini!”

Ki Sarjuma menyeringai lebar dalam kebingungan yag tengah mendera hatinya. Ia dapat menangkap sesuatu yang berbeda dari kata-kata yang diteriakkan Sayoga. Ia mulai memerhitungkan akibat yang mungkin terjadi karena perubahan tata gerak Sayoga yang tiba-tiba menjadi dahsyat. Walau demikian ia masih mempunyai pertimbangan tersendiri. “Satu kemungkinan yang lain adalah anak ini telah putus asa dan benar-benar berniat mati!” katanya dalam hati. “Boleh jadi, ia telah bertekad untuk mati bersama denganku!”

Lawan Sayoga ini belum dapat membuat perkiraan tentang asal kekuatan Sayoga yang sebenarnya muncul ketika Serat Waja dikerahkan sepenuh tenaga yang tersisa. Sayoga beloum mencapai tingkat terbaik pengembangan ilmu Serat Waja tetapi sifat ilmu yang lunak dan lentur telah mengaburkan pengamatan Ki Sarjuma.

Detak jantung Sayoga telah berpacu sedemikian cepat, hal ini disadari olehnya bahwa ia telah berada di ujung pengerahan tenaga inti. Ketegangan perlahan menyelinap masuk ke dalam relung jantung Sayoga.

Pada saat itu, Ki Sarjuma masih berusaha menggunakan siasat yang dimilikinya meski siasat itu belum terbukti membawa hasil dari perkelahian bermula.

“Sayoga, begitukah engkau dipanggil oleh kawan-kawanmu? Aku tahu jika engkau telah mengalami kepayahan yang luar biasa, dan mungkin untuk saat ini ada terselip rasa bangga dalam hatimu bahwa engkau mampu bertahan hidup lebih lama,” kata Ki Sarjuma, “Namun sayang engkau salah memilih lawan. Mungkin kau akan meraih kemenangan dengan mudah jika aku bukan orang yang kau hadapi saat ini. Aku tahu engkau telah mencapai batas tertinggi ilmu yang kau miliki, apakah aku berkata benar?”

Sayoga bergeming.  Kekuatan hatinya justru semakin menggumpal dan siap meledak!

“Mengapa engkau diam, Sayoga? Apakah kau meyimpan keraguan yang berasal dari keyakinan yang runtuh? Kau dapat melihat, lihatlah, aku masih berdiri tegak di depanmu!” Ki Sarjuma masih belum berhenti membongkar keyakinan hati Sayoga. Ia meneruskan kata-kata, “Itu pilihanmu, anak muda. Aku akan senang menunggumu mengerahkan dan mencapai batas akhir dari ilmu yang mungkin telah menjadi kebanggan bagimu. Sungguh, itu sangat menarik untuk mengetahui puncak pengerahan ilmu simpananmu.”

Sayoga bergeser setapak ke samping dengan ujung pedang menyentuh tanah. Selagi Ki Sarjuma berucap kata memancing kebimbangan agar menguasai hatinya, Sayoga telah bersiap membuat gebrakan.

Ki Sarjuma masih mengamati pergerakan Sayoga. Ia enggan berpikir untuk menggunakan senjata. “Memalukan!” ia menggeram ketika lintas pikiran mendadak muncul mmerintahkan agar segera menarik pedang pendek berbatang lebar yang diselipkannya di balik punggung.

Meski keraguan menyeruak dalam hatinya, Ki Sarjuma tetap berkeras untuk meneruskan perkelahian dengan tangan kosong. Ia telah mempunyai dugaan tentang batas akhir kekuatan Sayoga. Meski pengamatannya menjadi kabur karena Sayoga tidak menujukkan kelelahan atau kesakitan, tetapi Ki Sarjuma meyakini jika nyawa Sayoga hanya berjarak sejengkal darinya. Maka dari itu, Ki Sarjuma melambari sepasang tangannya dengan tenaga inti sampai ke ujung setiap jari tangannya. Tenaga inti yang tersimpan dalam dirinya lebih keras dari besi dan batu cadas hitam. Hantaman Ki Sarjuma yang sanggup meluruhkan tebing batu Merbabu melipatgandakan keyakinannya ketika melihat pedang kayu Sayoga.

“Sesaat lagi senjata itu akan lumat tak tersisa dan kau akan merintin menyebut nama ibumu!” lirih suara Ki Sarjuma menggeram. Ia berada di puncak keresahan. Antara marah, bingung, rasa takut menerima kekalahan dan keinginan membunuh bercampur aduk dalam hatinya. Ki Sarjuma terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Sayoga, dari seekor kelinci jinak yang siap dimangsa seekor elang tiba-tiba beralih menjadi seekor harimau kelaparan yang siap mencabiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *