Langit Hitam Majapahit

Bondan – Langit Hitam Majapahit 6

Sambil berusaha menarik sebuah kesimpulan, Bondan berjalan lebih cepat. Di depan sebuah rumah berhalaman luas dan berjajar beberapa tonggak kayu berujung pelita dari minyak jarak. Perlahan ia melewati regol halaman dan melintasi lapangan rumput yang berada di bagian depan.

Tenang ia mengetuk pintu, sesat kemudian terdengar langkah kaki bergegas membuka pintu.

“Siapa?” terdengar suara seorang lelaki dari dalam ruangan.

”Bondan,” jawab Bondan dalam kehangatan.

Lelaki muda seusia Bondan yang membuka pintu itu sedikit terkejut.

”Ah, akhirnya kau menginjakkan kaki kembali ke rumah ini,” Tersenyum lebar lelaki muda ketika melihat paras yang tak asing baginya. Dua orang bersaudara  ini lantas berpelukan.  Kerinduan menemukan jalan keluar setelah sekian lama terpisah karena Bondan harus pindah ke Pajang.

Kemudian, “Di manakah Gumilang?” Bondan bertanya.

“Gumilang bermalam di rumah paman Benawa,” jawab Sela Anggara. Bondan mengangguk-angguk. Kemudian mereka saling bercerita tentang babak-babak kehidupan yang memberi kesan mendalam di hati mereka. Tak jarang terdengar gelak tawa keduanya saat mengingat masa kecil yang pernah mereka lalui bersama. Akhirnya tanpa mereka sadar fajar pun menampakkan diri di ufuk Trowulan.

Sela Anggara membuka pintu bilik yang diketuk pelan. Seorang pelayan mengantarkan minuman hangat bagi mereka berdua.

“Kakang, ada apakah di Trowulan saat ini? Setiap orang menatapku curiga,” Bondan bertanya kemudian sambil meletakkan cawan.

”Beberapa hari yang lalu terjadi sebuah pembunuhan. Belum diketahui siapa pembunuhnya tetapi tentunya kematian seorang balamantri dengan cara yang mengerikan tentu mengguncang istana,” suara Sela Anggara terdengar sangat pelan. Seolah ia khawatir terdengar oleh dinding-dinding yang bisa saja bertelinga.

”Aku mendengar kabar bahwa pembunuhan itu dilakukan dari jarak yang cukup jauh. Sebatang paku tertancap di leher Mantri Rukmasara. Tubuhnya ditemukan dalam keadaan sudah membiru dan mulut yang berbusa,” Sela Anggara melanjutkan penjelasannya. “Terlebih lagi pembunuhan terjadi ketika keadaan di istana sedang menghangat.”

Bondan mengerutkan keningnya dengan mata memandang sungguh-sungguh. Kemudian, ”Apa maksud dari keadaan menghangat itu?”

Sela Anggara menghindari tatapan mata Bondan, namun kemudian terdengar ia menjawab, ”Orang-orang di sekitar Sri Jayanegara mulai menggerakkan tangan. Gejolak-gejolak pun terlihat di permukaan. Namun aku tidak dapat menuduh atau menyebut nama satu demi satu. Karena semua itu masih terselubung dalam mendung gelap.”

Bondan merenungi jawaban Sela Anggara. Hingga kemudian pengasuh mereka di masa kecil mendekati lalu meminta mereka agar segera beristirahat. Kedua anak muda ini lantas tersenyum dan mengenang kasih Nyai Malini saat mengasuh keduanya di masa kecil. Lantas mereka berdua mohon diri memasuki bilik masing-masing untuk beristirahat.

Ketika matahari mulai menggelincirkan diri ke barat, Bondan yang merasa sudah cukup beristirahat segera keluar dari rumah bibinya. Ia menuju rumah Ken Banawa untuk mengajak Gumilang Prakoso yang mahir dalam mengenali senjata, Bondan berencana melihat dari dekat kediaman Mantri Rukmasara.

Sambil mengayunkan kaki di sela-sela orang berlalu lalang, kedua anak muda ini berbincang dengan sungguh-sungguh mengenai pembunuhan Mantri Rukmasara beserta putrinya. Gumilang menduga bahwa latar belakang pembunuhan itu adalah karena Mantri Rukmasara menolak tuduhan mencuri hasil panen raya sekitar empat kali kemunculan bulan sabit yang berlalu.

Pelan Gumilang berkisah, “Lalu sang mantri meminta bantuan Ki Curik Kemba, seorang tokoh yang disegani di Karangploso, untuk membungkam mulut orang suruhannya. Aku mendengar bahwa sangat sedikit orang yang mampu mengalahkan Ki Curik Kemba yang terkenal dengan pukulan tangan kosong. Menurut orang-orang, hantaman Ki Curik Kemba ini sanggup memecahkan batu karang dan melubangi besi yang tebal. Tetapi ia bernasib buruk. Ki Curik Kemba yang justru terbunuh dalam pertarungan di kaki bukit yang terletak di luar Kademangan Wringin Anom oleh seseorang yang tidak dikenal.”

“Aku mendengar ada nama perempuan yang disebutkan ketika pertarungan beberapa waktu lalu di tepi Sungai Berantas,” desah Bondan.

Gumilang bergumam, ”Andini. Apakah itu nama perempuan yang kau dengar?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *