Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 3 – Jejak Kyai Gringsing Membawa Mereka ke Menoreh

Suasana di ruang dalam kediaman Ki Gede Menoreh terasa begitu berat seolah dinding-dinding dan tiang penyanggah ikut memikirkan undangan bernada maut itu.

Ki Gede duduk di atas amben besar, wajahnya tampak lebih tua dari beberapa hari yang lalu. Di hadapannya, Agung Sedayu duduk dengan kepala agak menunduk, sementara Ki Jayaraga berada di sisi lain dengan sikap yang tetap tenang.

Pandan Wangi berada di tempat yang berjarak selangkah dari lingkaran itu.

Kinasih masuk sambil membawakan minuman hangat, segera meletakkan nampan dengan gerakan yang sangat halus. Dia hendak bergerak mundur tapi Pandan Wangi menahannya: meminta gadis itu duduk di sampingnya.

Dalam percakapan itu, Agung Sedayu menyampaikan banyak hal, terutama permintaan maaf karena keterlambatan pasukan khusus mengambil tindakan.

“Pasukan khusus tidak sepenuhnya salah atau bahkan tidak dapat disalahkan, terutama Anda, Ki Tumenggung,” kata Ki Gede. “Yang berada di lereng Kendil pun juga belum lama berada di sana. Ada waktu yang harus digunakan karena, tentu saja, kita tidak boleh gegabah lalu ceroboh mengambil keputusan.”

“Terima kasih, Ki Gede,” sahut Agung Sedayu rendah.

Ki Gede lantas mengatakan pendapatnya tentang perkembangan di lereng Kendil dan juga sedikit perihal mengenai perbaikan di Dusun Benda.

Sejenak suasana menjadi sunyi.

“Wangi,” suara Ki Gede terdengar rendah. “Pasar dan gardu jaga sudah lebih berisik daripada barak pasukan khusus. Kabar tentang Pancuran Watu Item sudah terdengar dan beredar luas.”

Pandan Wangi mengangguk pelan tapi tidak mengucapkan kata-kata.

Suasana sedikit berubah dan menurut Kinasih, itu adalah waktu baginya untuk mengundurkan diri. Dia pun sudah mendengar banyak perkataan orang yang dimaksud Ki Gede. Lima jarinya berada di atas paha Pandan Wangi: tanda izin untuk tidak turut dalam pembicaraan

Pandan Wangi mengangguk sambil mengusapkan tangan di atas jari-jari Kinasih.

Setiap orang menjaga perkataan karena yang dihadapi adalah Ki Gede Menoreh, mertua Swandaru. Bagaimana mungkin mereka bertutur kata terlebih dulu sebelum mempunyai gambaran perasaan beliau?

“Saya tidak mempunyai pilihan,” kata Pandan Wangi tak lama setelah Kinasih beranjak menuju dapur.

Ki Gede mengangguk, lalu berucap, “Aku tahu. Aku dapat mengerti, tapi mengapa kau jawab terbuka?”

Pandan Wangi menarik napas panjang. “Sikap dan kata-kata yang diucapkan membuat saya yakin bahwa saya sudah tidak ada lagi di dalam hati atau pikirannya.”

Hela napas pendek terdengar dari Pandan Wangi, lanjutnya, “Yang saya berikan pun bukan dari pemikiran matang. Tiba-tiba saja terucap. Tempat dan waktu, itu keluar tanpa pertimbangan walau sedikit.”

“Semua sudah terjadi,” kata Ki Gede perlahan kemudian pandang matanya beredar.

Saat menatap Agung Sedayu, dia berucap, ”Apakah Angger pernah membayangkan benturan masa lalu itu terulang lagi?”

“Seandainya muncul bayangan itu, saya selalu berharap tidak terulang,” kata Agung Sedayu. “Dalam segala keadaan, Swandaru adalah adik seperguruan saya dan itu tidak akan dapat lepas selamanya.”

“Apakah Angger sudah dapat perkiraan seandainya Sekar Mirah bertanya?” Ki Gede bertanya lagi.

Agung Sedayu menunduk sebentar. Pertanyaan yang sulit karena sulit baginya untuk meraba pandangan maupun perasan istrinya, sedangkan mereka tidak berdampingan saat itu.

Dengan sangat berhati-hati, Agung Sedayu kemudian berkata, “Sekar Mirah tentu akan mendengar seluruhnya. Dan mungkin pada saat kami bertemu ketika saya pulang ke Sangkal Putung, segalanya dapat dibicarakan agar menjadi terang.”

Tiba-tiba Ki Jayaraga mengeluh lirih. Meski bukan kata-kata tapi seruannya yang tertahan membuat orang-orang langsung menoleh padanya.

“Oh, tidak, tidak,” kata Ki Jayaraga cepat. “tiba-tiba saya terbayang Ki Demang Sangkal Putung lalu mengembalikan itu pada saya pribadi, bagaimana saya menerima kenyataan ini? Saya sulit untuk berpikir jika berada dalam kedudukan Ki Demang.”

Ki Gede memandang keluar, lalu berkata, “Saya dapat mengerti, Kyai. Perkara ini tidak dapat dibatasi dengan kanuragan saja atau segalanya akan menipis pada akhirnya. Tapi bila segalanya sudah terjadi, ketika sudah tidak ada jalan yang dapat digunakan untuk membatalkan, kita hanya dapat menjalani sambil menunggu yang akan terjadi nantinya.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk seakan sedang bicara sendiri di dalam pikirannya. Tapi, setelah itu, dia menegakkan punggung, kemudian berbicara, “Pertarungan Watu Item juga menyangkut harga diri wilayah. Tentu ada kebanggaan yang juga dibarengi kecemasan. Itu adalah dua keadaan yang hampir pasti ada. Mungkin juga akan mempengaruhi cara orang-orang memandang Ki Gede dan keluarga. Terlalu banyak pengorbanan dan terlalu mahal jika Watu Item dikatakan sebagai pertaruhan.”

“Saya tidak keberatan dengan itu semua, Kyai,” kata Pandan Wangi. “Masa lalu, sudahlah, saya tidak mengungkit lagi tapi bukan untuk maaf yang dilupakan. Saat ini, saya hanya berpikiran sederhana: baiklah, jika kelepasan bicara itu pada akhirnya justru menjadi jalan yang terbaik, terutama bagi saya sendiri.”

Ki Gede bergeser sedikit dari duduknya semula. “Saya kira bila kita tenggelam karena persoalan ini, tentu bukan sesuatu yang baik. Urusan esok hati bukan sebatas siapa yang menjadi pemenang. Karena mungkin saja persoalan ini bukan lagi milik keluarga Ki Gede, tapi semua orang.”

Sejenak Ki Gede menghentikan ucapan, mereguk sedikit wedang sereh, kemudian meneruskan, “Maksud saya, Swandaru dan Angger Sedayu bukan orang yang hanya dimiliki Menoreh saja tapi juga Mataram dan Sangkal Putung. Mereka berjalan dan bergerak di bawah bayangan Kyai Gringsing dan nama besar Perguruan Windujati. Angger berdua ini akan mendatangi Pancuran Watu Item sebagai orang yang mempunyai kedudukan berlapis. Angger Sedayu dapat dianggap sebagai lambang kekuatan pasukan khusus, bisa dianggap sebagai pengadil dari Mataram karena kesalahan Swandaru atau mungkin keadaan yang tidak terpikirkan oleh saya.

“Demikian juga Swandaru, orang dapat menempatkan dirinya seperti beginilah ketika Mataram berbaik dan longgar. Atau juga, Swandaru mewakili kebanggaan Sangkal Putung sebagai satu-satunya yang mapan ilmu kanuragan. Tentu saja dan pasti, semua itu ada di dalam pikiran kebanyakan orang.”

Ki Jayaraga mengangguk pelan. “Jika saya mendengarkan Ki Gede, mengikuti pendapat Ki Gede, apa yang sebaiknya saya lakukan?”

Pertanyaan Ki Jayaraga seakan membetot Agung Sedayu dan Pandan Wangi bahwa besar kemungkinan Tanah Perdikan akan didatangi banyak orang. Bagaimana mereka tidak memikirkan itu?

Desir langka seseorang kembali terdengar dari arah dapur.

Kinasih menapak masuk dengan senampan nasi hangat, ikan patin dan sepiring sayuran. Di belakangnya kemudian seoren gperempuan setengah baya juga membawa sedikit hidangan tambahan serta kendi berisi air bening.

Ketegangan luruh barang sejenak ketika  Ki Gede mempersilakan semua orang segera menikmati makan siang itu.

Di sela-sela kenikmatan itu, Ki Gede menyempatkan untuk bertanya pada Agung Sedayu. “Bagaimana dengan tahanan perang?”

Agung Sedayu meletakkan daun jati ke atas tikar, lalu menjawab, “Sebagian menyatakan diri rela untuk ditahan di barak sebagai pekerja.”

Ki Gede mengerutkan kening. Ki Jayaraga, Pandan Wangi dan Kinasih mengembangkan senyum setelah terkejut barang sejenak.

“Rela ditahan di barak sebagai pekerja? Bagaimana saya dapat membayangkan itu?” Ki Gede bertanya dengan wajah sungguh-sungguh.

“Mungkin setelah melihat sejumlah teman mereka menyertai sebagian pasukan yang ditempatkan di medan kerja baru, orang-orang itu kemudian meminta Ki Sanggabaya untuk memperpanjang waktu,” terang Agung Sedayu. “Mereka bersedia  mencarikan kayu bakar, berburu,memasak dan pekerjaan lain tapi tetap diizinkan tinggal di sekitar atau di dalam barak.”

“Oh,” seru Ki Gede lalu menderaikan tawa kecil.

“Jadi, ruang tahanan itu sekarang diisi oleh orang-orang yang berbeda?” Kali ini Ki Jayaraga yang bertanya.

Kinasih pun tak ketinggalan. Dia bertanya seandainya para tahanan itu tinggal di dalam. Apakah tempat atau ruangan yang ada masih cukup untuk memuat?

Agung Sedayu mengangguk untuk dua pertanyaan itu lalu bergantian memberi penjelasan.

Kepada guru Glagah Putih itu, Agung Sedayu menjelaskan bahwa ada sejumlah orang yang turut keluar untuk bertempur atas perintah Sunan Agung, maka pengurangan pun menjadi keniscayaan di barak. Keterangan Agung Sedayu disambut anggukan kepala yang mantap dari Ki Jayaraga.

Sementara pada Kinasih, pemimpin pasukan khusus itu menerangkan singkat bahwa selain bangunan baru dapat digunakan, tapi ada ruang kosong yang juga ditinggalkan prajurit karena tugas baru.

Atas izin Agung Sedayu, Ki Rangga Sanggabaya pun memutuskan bahwa yang tetap tinggal pun tak lebih dari sepuluh orang saja.

Demikianlah keterangan Agung Sedayu mengenai keadaan di dalam barak serba sedikit memberi pengalaman baru pada orang-orang di sekitarnya.

Selanjutnya, mereka berkabar tentang keadaan di Kepatihan dan Keraton. Tapi semuanya itu hampir terhubung dengan sepak  terjang Ki Wedoro Anom dan riak yang ditinggalkannya.

Dari arah utara, sejumlah orang tampak berjalan tenang memasuki Dusun Ringinlarik. Tampaknya mereka adalah pejalan jauh. Mungkin sudah berhari-hari atau berpekan-pekan dari tempat terakhir singgah.

Ketika tiba di depan kedai, salah seorang mengusulkan agar  mereka berhenti sebentar. Dia juga mengatakan hari pun sudah menjelang senja. Maka, mereka pun masuk ke dalam kedai lalu menanyakan sesuatu yang sulit dijawab pemilik kedai.

“Ki Sanak seluruhnya, apakan bukan dari sekitar sini atau pesisir utara?”

“Sebenarnya kami dari banyak tempat, Ki Sanak,” jawab salah satu orang yang bercambang. Sepintas wajahnya kasar tapi nada bicaranya sangat jauh dari kesan lahiriah.

“Kalau aku dari sekitar lereng Sumbing, tapi karena sejak kecil sudah ikut pamanku berdagang dan berkeliling, jadi yah terpengaruh juga dengan orang-orang lain daerah,” katanya sambil tertawa lalu menambahkan, “Akhirnya pamanku menetap di lereng Gunung Gede.”

Suasana mendadak menjadi janggal. Betapa pemilik kedai juga heran karena obrolan tiba-tiba mengalir lancar sampai seseorang menanyakan keadaan lelaki tua, lelaki yang mungkin tidak banyak orang mengingatnya.

“Apakah  Ki Sanak pernah mendengar nama Kyai Gringsing?” tanya orang itu yang kemudian mengenalkan diri sebagai Ki Winih Jambe. Usianya sedikit lebih banyak dari Agung Sedayu tapi terkesan tidak terpaut terlampau jauh. Mungkin sekitar lima puluh sampai lima puluh pertengahan.

Pemilik kedai mengerutkan kening. Dia berpikir keras, berusaha mengingat semua nama yang pernah didengarnya.

“Maaf, Ki Winih,” kata pemilik kedai sambil menggeleng. “Saya tidak begitu mengenal tapi pernah mendengar nama muridnya.”

“Oh, benarkah? Itu kabar gembira bagi kami semua,” ucap Ki Winih Jambe yang kemudian tersenyum lebar. Demikian pula orang-orang yang duduk di sekitarnya.

“Iya, iya, bagaimana Ki Agung Sedayu itu sekarang?” tanya seorang lagi dengan nada yang menyiratkan bahwa dia seolah sudah mengenal Agung Sedayu atau Kyai Gringsing cukup lama. Betul, lelaki itu berkisah sedikit tentang sebuah tempat yang pernah disinggahinya dengan Kyai Gringsing yang saat itu mengembara ditemani muridnya, Agung Sedayu.

“Tentu murid Kyai Gringsing itu sudah jadi lelaki kuat sekarang,” timpal seorang lain yang duduk di dekat jendela.

Pemilik kedai pun tampak senang dengan tanggapan orang-orang asing yang banyak membeli di kedainya.

Cukup lama mereka bertukar kata, membicarakan banyak kebiasaan dan kadang diselingi tawa yang benar-benar lepas. Merasa perbekalan sudah memadai untuk melanjutkan perjalanan, mereka pun keluar dengan cara yang wajar. Menyelesaikan semua kewajiban dan kesan yang sangat baik bagi pemilik kedai.

Sepuluh langkah dari halaman kedai, seseorang mendekati Ki Winih Jambe.

Kata lelaki berikat kepala itu, “Apakah Kyai tetap menyampaikan tantangan pada murid Kyai Gringsing?”

Ki Winih Jambe mengangkat bahu. Dia pun menjawab, “Kita sudah berada di sini sambil tetap berharap Agung Sedayu adalah murid yang tangguh. Jika tidak, kita harus membunuhnya tanpa perlu alasan.”

Seseorang yang berjalan di samping Ki Winih Jambe berkata, “Kakek guru kita, Empu Pinang Aring tidak kalah dalam pertarungan melawan Kyai Gringsing. Dikabarkan beliau menyerah demi keselamatan pengikutnya yang setia.”

Ki Winih Jambe mengangguk sambil berkata pelan, “Tetaplah kalian waspada. Aku kira Tanah Perdikan tidak hanya ada Sedayu seorang saja.”

“Kami mendengar, Guru,” sahut tegas anak muda yang berjalan sedikit di belakang Ki Winih Jambe.

Selanjutnya sesuai rencana Ki Winih Jambe, mereka akan mendirikan perkemahan untuk sementara waktu hingga mendapatkan tempat yang layak untuk ditinggali sementara waktu.

Rahayu

Bagi sederek yang ingin mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan atau Toh Kuning”, dapat dilakukan dengan kontribusi Rp75.000 per judul.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di [SINI].

Matur nuwun

Pada waktu yang hampir bersamaan dengan keberadaan Ki Winih Jambe dan pengikutnya di sekitar Dusun Ringinlarik, pertemuan di rumah Ki Gede Menoreh pun berakhir saat bayangan benda sudah sama panjang dengan yang asli.

Agung Sedayu menuntun kuda perlahan berdampingan dengan Ki Jayaraga di atas jalan yang menghubungkan rumahnya dengan kediaman Ki Gede Menoreh.

“Apakah Angger akan ke barak menyelesaikan sedikit kewajiban?” tanya Ki Jayaraga.

Agung Sedayu menghembuskan napas pendek, mengangguk kemudian berkata, “Saya masih belum dapat tenang sebelum Ki Wedoro Anom diketahui keberadaannya.”

Ki Jayaraga menghentikan langkah. Sorot matanya tajam memandang permukaan jalan. Katanya, “Seberapa berat yang harus ditanggung barak seandainya dia tidak ditemukan?”

“Tidak ada, Kyai,” jawab Agung Sedayu.

Dengan kening berkerut, Ki Jayaraga mengalihkan pandangan pada Agung Sedayu. “Mengapa begitu?”

“Pada dasarnya barak belum kekurangan orang. Mataram tidak akan menghukum barak dengan hilangnya seorang rangga,” kata Agung Sedayu. “Setiap penugasan selalu tujuan awal, dan Kyai paham arah pergerakannya kemudian.”

Ki Jayaraga terkenang salah satu muridnya yang pernah pula mencapai kedudukan sebagai tumenggung. Sejenak dia merenung lalu berucap, “Ki Tumenggung Prabadaru, mungkin dia adalah cermin yang tepat bagi saya untuk melihat masalah ini secara keseluruhan, Ngger. Angger benar bahwa awal belum tentu menjadi cermin dari sebuah akhir karena perjalanan dapat saja berubah tanpa rencana atau angan-angan. Saya kira ada benarnya Mataram tidak menyalahkan sebuah kesatuan hanya karena satu orang yang—mungkin—memang dan sudah memilih jalannya sendiri di luar perintah resmi.”

“Seperti itulah yang menjadi harapan kami semua, Kyai,” sahut Agung Sedayu.

Demikianlah lantas mereka  berpisah di persimpangan. Satu arah menuju rumah Agung Sedayu, arah yang lain mengarah ke barak pasukan khusus.

Sepanjang perjalanan menuju barak pasukan khusus, suasana di sekitarnya sebenarnya tidak ada perubahan yang berarti. Sawah-sawah masih membentang, dan orang-orang masih menyapa dengan sikap yang sama. Namun, bagi Agung Sedayu, dia merasa sedang berkuda di bawah langit yang berbeda.

Pikirannya tidak terkekang pada Ki Wedoro Anom maupun pada tantangan duel di Pancuran Watu Item. Agung Sedayu  merenung jauh ke belakang, membayangkan wajah gurunya

Pemimpin pasukan khusus itu bertanya-tanya dalam hati, bagaimana sikap gurunya seandainya beliau masih hidup menyaksikan keretakan ini? Apakah Kyai Gringsing merasa gagal karena dua murid utamanya justru menggunakan ilmu warisannya untuk harga diri?

Bukan hasil yang sedang dia pikirkan. Di hadapan banyak mata, pertarungan itu tidak lagi menjadi urusan dua orang. Setiap gerak akan dimaknai lain oleh setiap mata yang memandang. Hasil akhir akan memberi Tanah Perdikan sebuah warna yang belum dapat dipastikan.

Dalam waktu yang pendek itu, Agung Sedayu mulai merasakan sesuatu yang mengusik ketenangannya—sebuah kemungkinan yang tidak pernah dia pertimbangkan sebelumnya.

Setibanya di barak, seorang prajurit mengambil alih kendali kuda dan Agung Sedayu terus menapak jalan di bawah gerbang. saat melintasi lapangan timur, Ki Rangga Sanggabaya tampak memberi pengarahan di depan para prajurit yang sedang ditempa dengan keterampilan tambahan sebagai syarat menjadi pasukan khusus. Mereka kini telah memasuki tahap akhir; sebulan lagi, ujian penentuan menanti sebelum masing-masing ditempatkan sesuai kebutuhan Mataram.

Agung Sedayu berhenti dengan mata tetap lurus melihat arah lapangan. Sesuatu sedang dipikirkan mendalam olehnya. Sejenak kemudian dia melangkah ke arah bilik rawat Ki Sor Dondong.

Dia melangkah masuk perlahan ke dalam bilik yang terbuka lebar itu. Bau ramuan masih terasa di udara. Ki Sor Dondong tampak terbaring, tetapi tidak lagi telentang. Tubuhnya telah miring ke samping. Itu adalah perkembangan lagi.

Agung Sedayu mendekat, memperhatikan dengan saksama perubahan itu, mengangguk lalu duduk di sisi pembaringan.

Tangannya terulur, melakukan beberapa sentuhan pada titik-titik yang dapat mempercepat pemulihan. Jemarinya mengurut sambil menekan perlahan.

Ki Sor Dondong menarik napas lebih dalam dari sebelumnya. Dia merasakan ada dorongan tenaga masuk ke dalam, tubuhnya bergetar kecil, lalu perlahan mengikuti arah tekanan itu.

“Segeralah pulih, Kyai, kata Agung Sedayu lalu bangkit, beranjak keluar meninggalkan bilik Ki Sor Dondong.

Kisah Terkait

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 2 – Ki Wira Sentanu Tidak Sendiri Ketika Agung Sedayu Menjadi Sasaran Dendam

kibanjarasman

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 1 – Ancaman Baru Mengguncang Tanah Perdikan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.