0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 18 – Sulit Ditebak!

Dalam sekejap, penglihatan Agung Sedayu seperti menangkap enam lengan bergerak bersamaan. Dua lengan asli Ki Kebo Surongudan masih berada di tengah, sementara pada masing-masing sisi kiri dan kanan muncul sepasang lengan lain milik wujud-wujud samar yang belum sempurna. Semuanya bergerak hampir serempak, menyambar dan menebas dengan kehendak yang berbeda.

Adalah Ki Lurah Sora Sareh yang bertukar tempat dengan Ki Rangga Sanggabaya menjelang tengah malam. Kehadiran pasukan berkuda yang dipimpinnya terasa menjadi nyata bagi perpanjangan siasat Agung Sedayu.

Tentu tidak dapat diukur dengan jumlah karena keahlian sekelompok regu pembunuh pasti berada di atas rata-rata pasukan khusus. Tanpa mengabaikan keyakinan dan kepercayaanya pada pengawal Menoreh, Agung Sedayu meminta Pandan Wangi mengirimkan pengawal berkuda untuk melapis kekuatan pasukan khusus.

Maka pertanyaan dalam pikiran Ki Sora Sareh saat menerima perintah Agung Sedayu akhirnya mendapatkan jawaban.

Ki Lurah Sora Sareh kini benar-benar memegang kembali kendali gelanggang. Aba-aba pendek yang meluncur dari mulutnya terdengar saling bersahutan dengan derap kaki kuda dan dentang senjata. Pasukan berkuda gabungan itu perlahan berubah seperti satu tubuh besar yang bergerak menurut satu kehendak.

Empat orang lawan mereka segera merasakan perubahan itu.

Bila sebelumnya mereka masih mampu memecah perhatian para penunggang dengan serangan-serangan cepat dan loncatan yang membingungkan, maka kini mereka justru seperti sedang diseret masuk ke dalam pusaran gelar yang makin rapat.

Menghindari putaran tombak pasukan khusus akan membawa mereka masuk dalam jerat rantai pengawal Menoreh. Setiap kali mereka menerjang, dua lintasan rantai akan memotong lintasan.

Ki Lurah Sora Sareh sendiri bergerak dari satu sisi ke sisi lain seperti pengikat simpul. Kadang dia melayang turun menghantam lawan dengan tombak pendeknya, pada saat berikutnya lurah Mataram itu telah berada di atas pelana lain sambil memberi aba-aba baru.

Sedikit demi sedikit, kelebihan ilmu empat orang itu mulai kehilangan daya gempur.

Seorang di antaranya akhirnya terpental ketika dihantam dari dua arah berbeda. Orang itu masih sempat berguling dan bangkit, tetapi hujan tombak pendek telah membuatnya tumbang lalu rata dengan tanah.

Yang lain pun tak kalah buruk. Ketika mencoba memukul dari belakang seorang pengawal Menoreh, satu lontaran tombak deras menyambar dari samping. Meski hanya melukai, awalnya, tiga penunggang muncul bersilang meringkusnya dengan belitan rantai lalu menyeretnya ke tepi gelanggang.

Derap kuda berubah semakin keras dan mantap. Lingkaran gelar yang sempat porak-poranda kini bergerak seperti roda besar yang menggiling. Dua lawan yang tersisa mulai menyadari bahwa mereka tidak lagi menghadapi perorangan, tapi melawan kekuatan yang terlatih menghadapi kekacauan medan tempur. Tak butuh waktu lama bagi Ki Lurah Sora Sareh untuk membereskan dua orang tersisa dari kelompok lawan.

Arena Pandan Wangi.

Ki Centhong Slobog rupanya mulai kehilangan ketenangan setiap kali serangannya gagal menembus pertahanan Pandan Wangi. Keadaan jelas terlihat dari ucapannya yang makin kotor dan tidak terkendali.

Meski telinganya panas dan sakit karena kata-kata yang tidak pantas, Pandan Wangi tetap berusaha tenang. Dia memahami  kegelisahan lawannya dengan sangat baik.

Sekali waktu perempuan itu sengaja membuka celah sempit di sisi lambungnya. Keris Ki Centhong Slobog cepat menyambar bagai kilat. Namun sebelum ujung keris menyentuh tubuhnya, pedang di tangan kiri Pandan Wangi tiba-tiba membelit dari arah bawah dengan gerak yang sangat lentur.

“Bangsat!” geram Ki Centhong Slobog sambil meloncat surut. Wajah Ki Centhong Slobog langsung berubah gelap. Benar-benar tidak disangka bahwa di balik paras penuh pesona itu ternyata terdapat keganasan yang tak kalah dengan penunggu hutan utara, pikirnya.

 Kemarahannya melonjak liar. Keris panjangnya berputar semakin cepat, menggaungkan desir tajam yang menusuk telinga. Beberapa batang perdu di sekitar mereka bahkan terpotong padahal tidak tersentuh senjatanya.

Sebaliknya, Pandan Wangi menanggapi itu dengan kemampuan hebatnya melalui kecepatan gerak yang sulit dinalar. Geser kakinya lincah berpindah-pindah. Pedangnya kadang mulai jarang menebas panjang atau memotong silang tapi mampu memaksa Ki Centhong Slobog mengubah arah serangan. Sedikit demi sedikit, keseimbangan pun terguncang dengan getaran halus yang senada dengan sepasang pedang Pandan Wangi.

Perkelahian yang tak kalah menggetarkan juga terjadi di gelanggang Kinasih.

Sadar bawah dirinya seakan dipermainkan oleh lawannya itu, Ki Sanumerta menggeram pendek lalu mencabut pedang, menyerang Kinasih dengan tata gerak yang membadai. Sangar meski tampak tidak beraturan.

Kinasih memperlihatkan ketenangan yang luar biasa meski lawannya kini bersenjata. Dia tidak berteriak curang atau sejenisnya, melainkan tangannya yang menyambar sebatang ranting yang terserak di dekatnya.

Ki Sanumerta tertegun ketika pedang tipisnya hanya menyambar ruang kosong.

“Anak setan!” dia memaki dalam hati.

Kecepatan Kinasih memang tak main-main. Mungkin saking cepatnya, seseorang dapat saja menganggap tubuh Kinasih lebih cepat dari bayangan karena sambil menghindari serangan, Kinasih sempat menyambar sebatang ranting ketika sedang melenting ringan ke samping.

Bagi orang lain, ranting itu mungkin tidak lebih dari kayu rapuh yang akan patah dalam sekali bentur. Namun di tangan Kinasih, segala benda dapat berbeda arti dan fungsi.

Baru saja Ki Sanumerta mengamati keadaan Kinasih dan juga memantapkan kembali kuda-kuda, ranting di tangan Kinasih meluncur cepat mematuk pergelangan tangannya. Ki Sanumerta melompat surut sambil memutar pedang untuk menangkis. Ranting itu memang terpental, tapi Kinasih tidak berhenti menyerang.

Sangat cepat. Jarak waktu yang pendek. Sabetan dan tikaman yang begitu tajam. Mengerikan!

Tidak ada gerakan yang terbuang dari gadis muda itu. Bahkan langkah-langkah kecilnya dapat memaksa Ki Sanumerta terus mengubah keseimbangan tubuhnya.

Benturan terjadi berkali-kali antara ranting dan bilah pedang tapi senjata Kinasih belum patah meski mulai terkelupas.

Ki Sanumerta segera menyadari bahaya yang sesungguhnya. “Gadis ini sulit dijinakkan,” katanya dalam hati.

Memang Kinasih tidak bertarung untuk membenturkan kekuatan tapi dia bertempur dengan cara yang sama sekali tidak terduga. Murid Nyi Banyak Patra ini cukup cerdas membaca setiap gerak lawan lalu cepat membuat penyesuaian tanpa takut sedikit pun. Pada setiap langkah dan ayunan tangan, Kinasih perlahan-lahan dapat menutup hampir semua kesempatan yang terlihat oleh Ki Sanumerta.

Batin Ki Sanumerta alias Mliwis Logrok limbung perlahan ketika melihat semua jalan telah tertutup rapat.

Sementara dua perempuan andalan Menoreh bertempur, Sukra menghadapi tantangan yang berlainan watak.

Ki Warujayeng lantas menyadari bahwa dirinya sedang dipaksa bertempur menurut cara yang dikehendaki Sukra.

“Berbahaya. Aku tidak mungkin mengikutinya,” bisik Ki Warujayeng dalam hati.

Setiap benturan tenaga yang terjadi selalu datang dalam sudut-sudut aneh dan sulit diperhitungkan. Kadang tongkat Sukra menghantam dari atas dengan kekuatan penuh, lalu datang lagi pada saat berikutnya dengan kecepatan rendah menyapu lutut sambil memanfaatkan putaran tubuh yang nyaris mustahil dilakukan tanpa kehilangan keseimbangan.

Bahkan beberapa kali Sukra sengaja membenturkan tongkatnya keras-keras ke tanah hanya untuk memecah perhatian lawan. Ledakan tanah dan batu kecil yang terlontar itu sering muncul bersamaan dengan serangan kaki atau siku yang datang dari arah berbeda.

“Cah gendeng!” geram Ki Warujayeng.

Sukra begitu bersemangat dan senapas dengan kelincahan yang tidak terbayang dalam benak orang-orang yang mengelilingi perkemahan.

Pengawal Menoreh ini sama sekali tidak memberi kesempatan lawannya untuk menata ulang atau mengembangkan gaya bertempur.

Setiap Ki Warujayeng berupaya mengambil jarak untuk menyusun ulang serangan, Sukra datang menghantam dengan putaran-putaran liar yang memaksa benturan tenaga terjadi lagi.

Senjata beradu keras berkali-kali hingga lengan Ki Warujayeng terasa bergetar panjang.

Belum sempat getaran itu lenyap, Sukra kembali menghujani musuhnya dengan badai serangan yang luar biasa acak. Tubuhnya melenting rendah, lalu berputar dengan satu tangan bertumpu pada tanah. Tongkatnya menyambar deras dari arah bawah seperti baling-baling yang lepas kendali.

Ki Warujayeng meloncat surut. Namun Sukra tetap memburu dan lebih cepat.

Tekanan demi tekanan mulai memaksa Ki Warujayeng bekerja lebih keras. Dia sadar sepenuhnya bahwa yang dihadapinya adalah gelombang serangan yang tidak mengenal takut maupun lelah. Bukan anak muda yang pernah mendapat limpahan tenaga cadangan dari Ki Patih Mandaraka, sentuhan Nyi Banyak Patra, latihan bersama Glagah Putih dan terakhir, Kyai Bagaswara.

Seandainya dari awal Ki Warujayeng mengetahui perjalanan kanuragan Sukra, tentu dia tidak akan memandang sebelah mata pada anak muda berbakat itu.

Rahayu

Dalam Penaklukan Panarukan, perang hadir sebagai kerja panjang yang menguras nalar dan nyali. Tidak semua tokoh yakin dengan perintah yang mereka jalankan, tetapi sejarah tetap menuntut selesai. Buku ini cocok bagi pembaca yang ingin melihat penaklukan sebagai beban, bukan pesta.

Di arena sebelah menyebelah dengan Ki Warujayeng yang sedang memutar otak sangat keras, gelisah sedang mendera Jaka Awar-awar. Pemuda yang sepantaran dengan Sayoga atau sedikit lebih tua itu lekas mengusir kegelisahan dengan serangan yang sangat keras. Pedangnya terjulur dengan ganas. Tubuhnya melompat rendah lalu menerjang dengan sabetan pedang yang menyilang deras ke arah leher dan lambung Sayoga sekaligus.

Hebat! Sayoga justru melakukan gerakan yang sukar dimengerti.

Pengawal Menoreh itu tidak meloncat mundur ataupun menangkis penuh. Dia bergeser setengah langkah sambil memiringkan pedang kayunya sejajar dengan lengan. Pedang Jaka Awar-awar pun meluncur menyamping seperti terseret permukaan licin sebelum tenaga benturannya mendadak buyar.

Sebelum Jaka Awar-awar sempat menarik pedang, ujung pedang kayu Sayoga telah menyentuh bahunya dengan bunyi pendek.

Tak keras tapi sanggup membuat separuh tubuh Jaka Awar-awar seolah lumpuh seketika.

Orang itu meloncat surut dengan wajah tidak percaya. Bagaimana sentuhan ringan seperti itu mampu menembus pertahanan tenaganya lalu menghilangkan daya tahannya? Ibliskah dia ini?

Bila Sukra akan terus mengejar dan menekan lawannya, tapi tidak demikian pada Sayoga. Pemuda ini lebih cenderung tetap melakukan pengamatan sehingga seakan dirinya masih tetap seperti sebelumnya. Wajahnya tenang. Bahkan sorot matanya pun tetap dingin ketika mulai lagi memutar pedang kayunya.

Tapi dari keseluruhan cara Sayoga berkelahi tampak jelas ada perubahan yang cukup besar sejak Kyai Bagaswara melakukan sentuhan padanya. Sayoga seperti tidak mempunyai pusat gerak yang tetap.

Dia tidak selalu berada dalam pergerakan yang cepat karena kadang melambat dan seperti ragu-ragu. Tapi sekejap kemudian, tubuhnya sudah bergeser tempat lalu menyerang tanpa didahului kuda-kuda yang kuat.

Hal itulah yang mulai membuat Jaka Awar-awar kehilangan keberanian untuk membenturkan tenaga secara langsung.

Setiap kali kekuatannya dilontarkan penuh, Sayoga selalu menemukan cara aneh untuk membelokkannya, melembutkannya, lalu mengembalikannya dalam bentuk yang berbeda. Seakan-akan pengawal Menoreh itu sedang melumpuhkan lawan dengan cara menghisap tenaga lawan sedikit demi sedikit.

Pertarungan dua kemampuan raksasa benar-benar tergelar di laga Agung Sedayu.

Dalam waktu itu, perubahan yang terjadi pada tubuh Ki Kebo Surongudan itu ternyata tidak mampu mengguncang ketenangan Agung Sedayu. Senapati Mataram tetap menyerang denagn cepat dan bertenaga. Dua tangannya bergerak pendek-pendek, kepalan dan siku bergantian mengisi ruang dalam waktu yang sangat padat.  Sedangkan lutut dan kakinya berulang kali menyusup dari jarak yang nyaris tidak memberi ruang bernapas.

Benturan demi benturan meledak sangat rapat.

Saat salah satu bayangan wujud di sisi kiri Ki Kebo Surongudan meluncur dengan tebasan tangan terbuka yang menyambar lambung, salah satu wujud melepaskan tendangan yang menyasar dagu Sedayu. Dari depan, setinggi dada, Ki Kebo Surongudan menghantam dengan dorongan telapak tangan berlambar tenaga cadangan yang sangat hebat.

Agung Sedayu masih sempat memutar tubuhnya dengan kecepatan tidak terkira!

Kemudian mengayun lengan sangat cepat menahan dorongan dari depan,  sementara siku kanannya menghantam ke samping. Benturan keras meledak lalu serangan dari bayangan wujud itu terpental buyar.

Namun, serangan berikutnya datang bertumpuk, tumpang tindih dan sangat merepotkan.

Agung Sedayu benar-benar seperti sedang menghadapi tiga orang sekaligus padahal dua wujud Ki Kebo Surongudan belum benar-benar terlepas dari tubuh aslinya.

Sejauh itu, serangan dari tubuh asli Ki Kebo Surongudan masih tetap menjadi pusat tekanan utama, tapi dua wujud lain di sisi kiri dan kanannya mulai bergerak semakin jelas dengan kehendak yang berbeda-beda. Yang satu bergerak cepat dan panjang-pendek, memburu sela pertahanan. Sedangkan yang lain justru menghantam deras dengan ayunan maupun sapuan lebar yang memaksa Agung Sedayu terus mengubah pijakan.

Benturan tenaga cadangan semakin sering terjadi! Dan itu berakibat sangat hebat saat debu dan serpihan tanah berhamburan liar di sekitar mereka, terlontar ke segala arah.

Beberapa pengawal yang berada cukup dekat mulai bergerak mundur karena sambaran angin benturan yang terasa menyakitkan kulit. Sejenak mereka berpaling pada kelompok Ki Kebo Surongudan yang terikat batang pohon.

“Apakah mereka juga harus dipindah?” tanya salah seorang pengawal.

Seorang prajurit berkuda memandang sejenak, lalu mengedarkan pandangan. Katanya kemudian, “Marilah, kita tidak bisa membiarkan Ki Tumenggung terganggu dengan adanya korban yang tidak berdaya seperti mereka ini.

Sejumlah pengawal mengangguk. Beberapa prajurit berkuda melompat turun. Mereka pun bekerja sama memindahkan anak buah Ki Kebo Surongudan ke tempat yang lebih jauh dan aman.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.