Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu Terperdaya 2

“Dan kau ingin membalas dendam untuk kematian mereka bertiga?”

“Bukankah itu wajar? Kalian orang-orang Menoreh, terutama engkau Agung Sedayu, telah mempermalukan perkumpulanku. Mereka bertiga adalah orang yang mempunyai pengaruh besar di pesisir utara. Kehadiran mereka dalam perkumpulanku telah membuat perkumpulan kami lebih disegani dan ditakuti oleh perkumpulan lainnya,” kata lelaki itu kemudian berjalan dua tiga langkah lebih dekat dengan Agung Sedayu.

“Kau telah berhadapan denganku, lalu apa rencanamu selanjutnya?” Agung Sedayu bertanya seolah-olah belum mengerti maksud kedatangan lelaki asing di halaman rumahnya.

Lelaki itu tertawa keras dan sengaja melambari suaranya dengan tenaga cadangan sehingga membuat atap rumah bergetar dan daun-daun kering berterbangan. Suara tawa yang berkepanjangan itu segera menghimpit dada Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Akan tetapi keduanya adalah orang-orang yang telah ditempa berbagai ujian dalam olah kanuragan sehingga keduanya meningkatkan daya tahan tubuhnya secara perlahan. Jantung Sekar Mirah berdentang keras, ia tidak menerima perlakuan kasar tamu yang tidak diundang itu akan tetapi ia melihat Agung Sedayu memberinya tanda untuk menahan diri. Maka dengna begitu, Sekar Mirah membentengi tubuhnya dengan tenaga cadangan yang disalurkannya ke bagian dada dan menutup indra pendengaran.

loading...

Seperti tidak terjadi apa-apa, dengan tenang Agung Sedayu berkata, ”Kematian dalam perang tanding adalah akibat yang semestinya terjadi apabila memang dilakukan hingga tuntas. Maka dengan demikian, aku sama sekali tidak bersalah, Ki Sanak.”

Lelaki itu meningkatkan serangannya dengan menambah lapisan tenaga cadangan. Tiba-tiba ia membentak nyaring lalu, ”Sebenarnya dengan menerima tantangan mereka bertiga itu telah menjadikanmu bersalah, Agung Sedayu.” Ia melangkah surut beberapa langkah lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

Agung Sedayu mengerutkan dahinya,”Apakah kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan itu? Lalu apakah aku harus menolak tantangan mereka bertiga? Sementara itu mereka berkeliaran dan mulai menimbulkan keresahan di lingkungan ini dengan berbuat jahat. Dan sekarang kau salahkan aku? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu, Ki Sanak.”

“Aku tahu kau akan menghindar dari segala tuduhan dariku. Dan saat ini aku sudah memberimu peringatan dan aku dapat melihat jika kalian berdua adalah keluarga yang tangguh. Namun permainan yang aku lakukan barusan tidak memberi arti aku tidak menuntut tebusan darimu,” kata tamu asing itu.

“Sebenarnya aku berharap jika kedatanganmu dapat dibicarakan dengan baik-baik. Dengan alasan yang tidak dapat aku pahami tiba-tiba kau memberi peringatan,” Agung Sedayu masih menahan dirinya untuk tidak berkata-kata kasar pada orang yang berjarak beberapa langkah di hadapannnya.

“Aku telah mendengar sepak terjangmu, Ki Rangga. Kau sama sekali tidak mempunyai belas kasihan pada lawan-lawanmu. Kau dengan sekehendakmu sendiri memisahkan orang dari apa yang ia cintai dan ia miliki,” kata lelaki yang masih belum memperkenalkan dirinya.

Agung Sedayu tertawa pelan. Lalu katanya,” Ki Sanak, aku baru sadar jika kau mungkin termasuk orang yang bertabiat aneh. Kau tanpa diundang tiba-tiba memasuki halaman kami dan menyerang kami dengan suara buruk didengar sebelum kami tahu nama atau julukanmu.”

Wajah lelaki itu memerah seperti udang rebus. Ia mengangkat tangannya, ”Orang biasa memanggilku Ki Garu Wesi. Dan seperti biasa apabila orang telah mendengar julukanku dari mulutku sendiri, maka orang itu akan mati tidak berapa lagi. Termasuk engkau, Agung Sedayu. Dan mungkin beberapa orang yang hidup bersamamu di Tanah Menoreh akan menyesal mempunyai tetangga sepertimu. Ketahuilah, aku telah menempatkan beberapa orang di luar bagian lingkungan ini. Kau dapat memerintahkan beberapa prajuritmu untuk membuktikan kebenaran ucapanku.”

Ki Garu Wesi menatap tajam wajah Agung Sedayu dan keduanya kini terlibat dalam suasana tegang. Ki Garu Wesi telah mendengar kekuatan ilmu yang terpancar dari sorot mata Agung Sedayu dan kehebatan Sekar Mirah dengan tombak pendek yang mirip dengan milik Macan Kepatihan. Namun agaknya ia telah membuat perhitungan yang cukup kala beradu pandang dengan Agung Sedayu.

“Baiklah,” kata Ki Garu Wesi kemudian, ”aku minta kau bersiap. Dan jika kau merasa perlu bantuan pasukan khusus Mataram, maka kau boleh menurunkan mereka dalam waktu yang tidak lama lagi. Sampai jumpa!”

Wedaran Terkait

Agung Sedayu Terperdaya 9

kibanjarasman

Agung Sedayu Terperdaya 8

kibanjarasman

Agung Sedayu Terperdaya 7

kibanjarasman

Agung Sedayu Terperdaya 6

kibanjarasman

Agung Sedayu Terperdaya 5

kibanjarasman

Agung Sedayu Terperdaya 40

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.