Jati Anom Obong 1-2

Agung Sedayu dan Swandaru pun tak lama kemudian tiba di tepi Kali Progo. Seorang tukang satang yang mengenakan ikat kepala lurik mengawasi mereka dari kejauhan namun ia tak menghampiri dua orang murid Kiai Gringsing itu.

“Sekarang tiba giliranmu,” berkata seorang kawannya.

Lelaki berikat kepala itu menggeleng, katanya, ”Ambillah untukmu. Kau seharusnya mendapat upah tambahan karena istrimu akan melahirkan sebentar lagi.” Dingin wajah lelaki itu sambil terus menatap Agung Sedayu serta Swandaru dengan pandangan beku, Walau pun perhatian Agung Sedayu ada pada ucapan terakhir orang asing itu, namun ia seperti tidak peduli.

Dan kemudian tukang satang pun mendorong rakitnya mendekati dua penunggang kuda yang akan menuju Kademangan Sangkal Putung. Dalam pada itu, Swandaru tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Nyaris saja rakit itu terbalik saat Swandaru begitu saja menghentak lambung kuda menaiki rakit kayu yang dapat memuat beberapa ekor kuda. Namun Agung Sedayu begitu sigap dengan melompat ke bagian yang lain untuk memberi keseimbangan agar tidak berat sebelah. Ia hanya menarik nafas dalam-dalam dan menggeleng melihat perbuatan adik seperguruannya itu.

Setelah kuda Agung Sedayu yang dituntun oleh seorang penumpang yang lain, maka rakit pun mluncur melintasi permukaan air Kali Progo yang terlihat tenang.

“Terima kasih, Ki Sanak,” senyum Agung Sedayu sambil menerima tali kuda.

“Sesuatu yang wajar, Ki Rangga,” sahut orang yang menuntun kudanya. Meskipun terkejut, tetapi Agung Sedayu dapat mengendapkan perasaannya sehingga tidak terlihat keheranan pada raut mukanya.

Lalu, ”Adakah saya pernah bertemu dengan Ki Sanak?” Agung Sedayu bertanya.

“Namaku Ki Prayoga,” jawab lelaki itu mengenalkan diri, ”kita belum pernah bertemu tetapi aku pernah melihat Ki Rangga bersama pasukan khusus melintasi pedukuhan kami ketika Ki Rangga menuju ke pesisir utara.”

Agung Sedayu mengerutkan kening. Perjalanannya ke Demak telah berlalu begitu lama dan lelaki didepannya masih mengingat dirinya dengan baik. Ia mengangguk pelan kemudian, ”Maafkan saya, Ki Prayoga. Saya tidak memperhatikan keadaan sekitar pada saat itu.”

“Ah, lupakan Ki Rangga. Setiap orang mungkin akan mengalami keadaan seperti yang dialami oleh Ki Rangga sendiri karena perhatian Ki Rangga tentu tertuju pada tugas yang sedang diemban,” sambil tersenyum Ki Prayoga berkata.

Percakapan itu memang tidak menarik perhatian Swandaru Geni. Berulang kali terdengar desah dari bibirnya. Agaknya ia tidak dapat bersabar dengan laju rakit yang dirasa olehnya terlalu pelan. Sekali lagi ia menengadahkan wajah. Bagi Swandaru pada saat itu, matahari begitu cepat bersembunyi di balik punggung bukit. Semurat merah telah membayang dari puncak Merapi ketika pandangannya beralih kea rah puncak Merapi.

“Apakah kau begitu lemah sehingga kau tak lagi mampu mendorong rakit ini lebih kuat?” bertanya gusar Swandaru pada tukang satang. Ia pun merebut galah panjang dari tangan tukang satang lalu menggerakkannya dengan tidak sabar untuk mencapai bagian seberang yang berjarak lebih dari setengah perjalanan.

Di dalam perjalanan itu, Ki Prayoga  bertanya pada Agung Sedayu, ”Apakah Ki Rangga masih sering melakukan perjalanan ke Sangkal Putung?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Perhatiannya masih tertuju pada Swandaru yang mengeluarkan kata-kata sedikit kasar pada tukang satang. Kemudian, ”Tidak seperti di masa lalu, Ki Prayoga. Terkadang dapat dikatakan sering, namun juga hingga beberapa waktu lamanya tidak mengunjungi Sangkal Putung.”

“Aku pun tak lagi pernah datang ke tanah yang sebenarnya sangat indah dipandang mata.”

“Daerah yang sangat menyenangkan untuk dijadikan tempat tinggal.”

Ki Prayoga berpaling pada Agung Sedayu. Lalu, ”Bukankah di Tanah Perdikan telah memberi segalanya bagi Ki Rangga?”

Sambil menarik nafas panjang, Agung Sedayu menggetarkan bibirnya, ”Tentu saja. Keberadaan Tanah Perdikan tidak dapat diabaikan begitu saja.”

“Aapakah Ki Rangga berkeinginan untuk kembali ke Sangkal Putung atau mungkin akan menghabiskan masa di Jati Anom?”

“Kita bicara terlalu dalam, Ki Prayoga.”

Ki Prayoga tajam menatap wajah Agung Sedayu untuk sesaat, lalu ia mengalihkan pandangan. Ia tahu bahwa senapati Mataram itu tidak ingin dirinya memasuki wilayah pribadi, tetapi satu hal yang dianggapnya penting memaksanya untuk terus bertanya pada Agung Sedayu.

“Tidak ada salahnya kita mencoba membuat suatu bayangan tentang masa depan, Ki Rangga. Setidaknya itu akan memberi kita panduan agar tetap mampu menatap masa depan. Terlebih aku telah menyaksikan asap hitam kebakaran saat aku berada di sebuah pasar sebelah timur kademangan induk.”

Agung Sedayu menganggukkan kepala, ia dapat menerima alasan Ki Prayoga bahkan ia sendiri telah mempunyai rencana yang belum pernah ia ungkapkan pada Sekar Mirah. Tanpa praduga buruk sekalipun terusik dengan tempat asal Ki Prayoga, Agung Sedayu kemudian bertanya, ”Darimanakah asal Ki Prayoga?”

Ki Prayoga tidak segera menjawab pertanyaan itu. Sedikit ia mengerutkan kening karena ia tidak menduga bila pemimpin pasukan khusus Mataram itu tiba-tiba bertanya.

“Padukuhan Dawang.”

Agung Sedayu menautkan alisnya, lalu, ”Aku ingat tempat itu.” Sebuah peristiwa ketika kelompok kecilnya secara mendadak diserang oleh murid-murid padepokan yang berpihak pada Demak.

Sejenak ia berpikir ulang tentang orang yang berdiri sebelah menyebelah dengannya dan mengaku bernama Ki Prayoga. Tajam ingatan Agung Sedayu seperti mengingatkan bahwa sebenarnya pedukuhan itu terletak cukup jauh dari tempat pertempuran antara pasukannya dengan orang-orang padepokan. Kecurigaan mulai merambati hati Agung Sedayu, namun ketika ia berpaling pada Swandaru maka yang terlihat olehnya adalah adik seperguruannya terlihat sedang berusaha keras mempercepat laju rakit.

Agung Sedayu dapat menangkap getar keraguan dari nada Ki Prayoga, lalu ia berkata lagi, ”Ki Prayoga tentu orang yang mempunyai kemampuan lebih. Saya dan pasukan hanya melintas pedukuhan itu dalam sekali waktu dan itu kami lakukan dengan menggunakan jalur yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa Ki Prayoga bukan orang biasa.”

“Aku tidak berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, Ki Rangga.”

“Mendengar Anda menyebut pasar di Tanah Perdikan, saya tidak melihat Ki Sanak membawa barang untuk diperdagangkan ,” kata Agung Sedayu dengan nada rendah lalu, ”seperti apakah barang yangditawarkan oleh Ki Prayoga pada orang-orang di Kademangan Sangkal Putung?”

“Aku bukan pedagang seperti kebanyakan orang, Ki Rangga.”

Kening Agung Sedayu mengerut. Tetapi ia tidak langsung memandang wajah Ki Prayoga, lalu lawan bicaranya kembali bersuara, ”Aku mempunyai pekerjaan yang panjang untuk diselesaikan.”

Agung Sedayu tidak berkata mengenai tanggapan Ki Prayoga pada saat itu. Untuk beberapa saat kemudian, Ki Prayoga berkata lagi, ”Aku datang ke Tanah Perdikan untuk melihat sebidang pategalan yang menurut kabar sedang mencari penawar tertinggi. Dan apabila kau ingin tahu alasanku datang ke Sangkal Putung, maka aku dapat katakan bahwa aku ingin melihat beberapa kuda yang kabarnya cukup istimewa. Kuda yang hanya dimiliki seseorang berkedudukan tinggi di kademangan itu.”

“Bukankah di Mataram juga banyak kuda yang tegar dan merupakan kuda pilihan, Ki Sanak,” sahut Swandaru yang agaknya tertarik ketika Ki Prayoga menyebut tentang kuda.

“Ia adalah Swandaru,” kata Agung Sedayu yang melihat sorot mata ingin tahu dari Ki Prayoga.

“Benar, Ki Swandaru,” kata Ki Prayoga kemudian, ”Mataram merupakan tempat banyak kuda pilihan tetapi aku masih mempunyai pilihan yang lain di luar Mataram.”

“Dan kau kira itu adalah Sangkal Putung?” tanya Swandaru.

Ki Prayoga menggelengkan kepala, lalu, ”Bukan sebuah perkiraan tetapi kepastian. Awalnya adalah sebuah pertaruhan tetapi setelah Ki Rangga menyebut namamu, maka aku tahu bahwa kuda pilihan yang ada di Sangkal Putung adalah satu kepastian.”

“Aku belum mengerti maksudmu. Mengapa kau berkata bahwa ada satu kepastian di Sangkal Putung tentang kuda?” tanya Swandaru.

Ki Prayoga tersenyum kepada Swandaru. Ia bergeser selangkah lalu, ”Tidak seorang pun dari pecinta kuda yang tidak mendengar nama Ki Swandaru Geni sebagai orang yang hebat tentang kuda selain para pangeran Mataram?”

Hidung Swandaru sedikit mengembang. Lantas katanya ,”Apakah kau mengira bahwa aku akan melepas kuda itu dengan harga yang diluar jangkauanmu?”

“Tidak!” jawab cepat Ki Prayoga. Selangkah maju ia lebih dekat pada Swandaru Geni. Kemudian dengan tenang ia berkata, ”Kami telah mendengar nama Ki Swandaru sejak lama. Bahkan kami pun mengetahui hubungan yang terjadi antara Ki Swandaru dengan Ki Ambara.” Ucapan Ki Prayoga mengagetkan kedua orang murid Kiai Gringsing. Namun sepertinya Ki Prayoga tidak memberi kesempatan pada mereka untuk berpikir lebih panjang, ia terus berkata,”Dan kami juga mengetahui akhir dari perkenalan itu.”

Ki Prayoga berhenti sejenak sambil memandang bergantian dua orang yang berusia lebih muda sedikit darinya. Sekejap kemudian ia kembali menggetarkan bibir, ”Tetapi aku tidak ingin memaksa Ki Swandaru untuk melepas kuda-kuda pilihan yang banyak dibincang  oleh orang-orang Mataram. Tidak!  Justru kepergianku ke Sangkal Putung yang terutama adalah bertujuan untuk mengabarkan bahwa peristiwa besar akan kembali terulang.”

Ki Rangga Agung Sedayu memandang Swandaru yang terlihat sedikit tegang. Dua rahang Swandaru tampak mengeras, namun ia seperti tidak mempedulikan tatap mata kakak seperguruannya. Lalu Agung Sedayu bertanya, ”Sebenarnya saya belum mengerti maksud sebenarnya dari Ki Prayoga. Tetapi jika Ki Prayoga menyinggung nama Ki Ambara lalu berkata tentang sebuah pengulangan dari satu peristiwa besar, apakah ini berarti  Ki Prayoga adalah seorang duta dari mereka yang akan memulai sebuah gerakan?”

Sambil memandang raut wajah Agung Sedayu dengan tatap mata tajam, Ki Prayoga balik bertanya, ”Apakah kalian tidak mendengar orang yang disebut-sebut oleh pengikutnya sebagai Panembahan Tanpa Bayangan?”

“Panembahan?” Alis Agung Sedayu saling bertaut, lalu, ”Hanya ada satu panembahan di Mataram.”

Ki Prayoga lantas bersedekap dan berkata dengan dada sedikit terangkat, ”Aku membawa berita penting dan lebih dahulu menyampaikannya pada kalian lebih cepat dari para petugas sandi Mataram.”

Agung Sedayu belum mempunyai dugaan tentang sosok yang disebut sebagai Panembahan Tanpa Bayangan oleh Ki Prayoga. Pada saat itu, satu pertanyaan tampak membersit dari sorot mata Swandaru, sejenak ia berhenti menggerakkan galah lalu, ”Ki Prayoga, apakah engkau sedang tidak membuat percakapan bohong pada kami?”

“Aku mendengarnya dan berkata itu pada kalian karena aku mendengar bahwa telah terjadi keributan kecil di Mataram,” kata Ki Prayoga seolah tidak mengacuhkan pertanyaan Swandaru Geni.

“Hentikan bicaramu, Ki Prayoga!” geram Swandaru yang merasa seperti dipermainkan oleh Ki Prayoga.

“Aku mengerti apa yang sedang aku bicarakan, anak lelaki Ki Demang Sangkal Putung!” sahut Ki Prayoga yang semakin membuat dada Swandaru makin bergemuruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *