Jati Anom Obong 3-4

Selangkah maju ia lebih dekat pada Swandaru Geni. Kemudian dengan tenang ia berkata,”Aku memang seorang pedagang. Banyak wilayah Mataram telah aku datangi. Keributan kecil yang baru aku katakan pada kalian mungkin memang sengaja tidak dikabarkan secara luas oleh Ki Patih Mandaraka.”

Sejenak ia berpaling pada Agung Sedayu yang tampak menyimak ucapannya penuh perhatian. “Sungguh ini bukan kata-kata bohong yang sengaja aku tiupkan pada kalian. Dan jika kalian memang tidak atau mungkin belum mengetahuinya, percayalah bahwa sebenarnya pemimpin kalian di Mataram tengah berbuat yang terbaik,” lanjut Ki Prayoga. Setelah menarik nafas panjang, Ki Prayoga meneruskan, ”Tentu kalian dapat menghubungkan peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan dengan keributan di Mataram.”

“Aku tidak peduli dengan apa yang telah terjadi di Mataram,” tandas Swandaru, ”Katakan jika kau mengetahui orang yang mampu mencegah keributan lebih luas!”

“Seorang berpangkat tumenggung,” kata Ki Prayoga, ”aku mendengarnya dari seorang senapati.”

“Ini menjadi menarik, Swandaru,” tiba-tiba Agung Sedayu membuka suara.

“Tidak ada yang lebih menarik dibandingkan Kademangan Sangkal Putung!” sorot mata Swandaru tajam memandang Ki Prayoga.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, “Sedikit bersikap tenang akan membuat segalanya menjadi benderang.”

“Tidak mungkin ada ketenangan selagi belum terlihat keadaan di pedukuhan induk,” sahut Swandaru tanpa mengalihkan pandangannya, lantas ia berkata, ”Ki Prayoga, sebenarnya kau telah membuatku benar-benar hampir tak dapat mengendalikan diri. Bila kau belum tenggelam di Kali Progo, itu karena aku segan pada kakak seperguruanku.” Seperti melepas rasa kesalnya, Swandaru kembali mendorong galah agar rakit melaju lebih cepat.

“Ki Prayoga,” kata Agung Sedayu,”Anda telah mendatangi Tanah Perdikan dan sudah barang tentu Anda juga telah mengenal saya sebagai pemimpin pasukan khusus Mataram.” Ia berhenti sejenak.

“Seperti itulah kenyatannya, Ki Rangga,” sahut Ki Prayoga.

Agung Sedayu meneruskan ucapannya, ”Dan kabar yang Anda katakana pada kami tentu menjadi pertanyaan, terutama bagi saya. Selain itu Anda juga telah mengatakan bahwa ada kemungkinan para pemimpin Mataram dengan sengaja menyimpan berita keributan itu dengan alasan yang masuk akal. Lalu siapakah sebenarnya Ki Prayoga sendiri? Saya ingatkan bahwa berita itu Anda dapatkan dari seorang senopati.”

“Aku tidak mengurangi sedikit pun dari apa yang aku ketahui.”

“Tidak pula menambah,” kata Agung Sedayu dengan sikap tubuh seolah ingin memastikan bahwa ia tidak berhadapan dengan orang yang salah.

“Tidak pula menambah.”

“Baiklah,” Agung Sedayu bergeser setapak, ”Saya dapat percaya Anda untuk sementara waktu. Dan kepercayaan itu bukan tanpa alasan karena seperti yang Anda katakan bahwa kebakaran yang menimpa Tanah Perdikan sebenarnya dapat dihubungkan dengan keributan yang terjadi di kotaraja.” Agung Sedayu menempatkan kewaspadaan menghadapi orang yang baru  dikenalnya tetapi telah memberinya berita yang mengejutkan.

“Lebih tepatnya adalah serangan kecil.”

“Tidak ada perbedaan di antara keduanya,” sahut Swandaru.

“Ada perbedaan, Ki Swandaru,” Ki Prayoga mengubah sikapnya terhadap Swandaru Geni. Swandaru kembali mendorong rakit sembari melirik pada tukang satang yang diam berdiri di ujung rakit.

Sebelum Ki Prayoga membuka mulutnya kembali, Agung Sedayu cepat memotong, ”Tidak perlu Anda menggurui adik saya. Saya akan mengatakan padanya jika memandang perlu. Tetapi untuk sementara ini, Anda dapat menjelaskan tentang sosok yang disebut banyak orang sebagai Panembahan Tanpa Bayangan.”

“Tidak banyak yang aku ketahui tentang orang itu,” Ki Prayoga berkata. “Tetapi teman-temanku yang banyak melakukan perjalanan dari utara ke selatan banyak yang mengatakan apabila sejumlah orang  telah berkumpul pada satu tempat.”

“Tanah lapang?”

“Tidak,” jawab Ki Prayoga, ”Bukan tanah lapang. Mereka lebih memilih untuk berbaur dalam satu pedukuhan dan membangun dinding yang mengelilingi pedukuhan itu dari pohon kelapa.”

“Apakah teman-teman Anda tidak mempunyai keterangan yang lebih mendalam lagi?”

“Tidak ada, Ki Rangga,” Ki Prayoga menarik nafas dalam dalam lalu, ”Pedukuhan itu begitu tertutup jika dilihat dari luar, tetapi sekelompok orang terlihat berulang kali keluar masuk atau terkadang melakukan kegiatan di sekitar pedukuhan kecil itu.”

Agung Sedayu telah mempunyai bayangan tentang kemungkinan orang-orang  di pedukuhan itu akan berkembang. Tetapi ia tidak mengungkap jalan pikirannya pada Ki Prayoga meskipun Ki Prayoga memberi kesan baik. Sebagai seorang prajurit dan mempunyai kedudukan istimewa, Agung Sedayu kemudian berketetapan hati untuk pergi menuju Mataram apabila permasalahan di Sangkal Putung telah dapat dikenali.  memi memang penyamun sejak lama.

Rakit tidak lama lagi akan segera tiba di sisi lain Kai Progo. Swandaru menarik nafas lega dan ia menyerahkan galah pada tukang satang serta beberapa keping logam pembayaran.Tiba-tiba beberapa pisau kecil meluncur deras ke arah rakit yang diatasnya ada Agung Sedayu dan Swandaru. Serangan mendadak ini mengejutkan dua orang Mataram. Yang terjadi kemudian adalah Agung Sedayu yang melihat serangan meluncur cepat padanya segera memukul lambung kudanya agar melompat ke dalam air. Sementara ia sendiri menelungkup rata di atas lantai rakit. Swandaru cepat menarik tukang satang untuk duduk merendah sementara ia meraih galah panjang menutup tubuhnya dari lontaran belati yang nyaris tidak terlihat karena hari telah beranjak gelap.

***

Pada saat Tanah Perdikan Menoreh tengah dilanda kebakaran dan Sangkal Putung dalam keadaan kosong, Sayoga harus meladeni dua orang pengikut Raden Atmandaru yang berilmu tinggi. Sayoga berloncatan mengelak serangan yang trengginas dan mengurungnya dari segala penjuru.

Ki Sarjuma tidak memberi kesempatan pada lelaki muda yang mendekap ilmu Serat Waja untuk membalas serangan, bahkan ia seperti tidak memberi kesempatan Sayoga untuk bernapas. Sementara Ki Malawi dengan lincah dan cekatan  menutup setiap celah yang ditinggalkan oleh kawannya, maka dengan demikian Sayoga benar-benar dalam keadaan bahaya.

“Aku tidak mungkin akan membiarkanmu hidup, anak muda!” kata Ki Sarjuma dengan kaki terjulur mengarah pada lambung Sarjiwa. Sarjiwa menggeliat cepat seraya memutar lengannya untuk menepis punggung tangan  Ki Malawi.

“Pemimpin kami telah mengajarkan pada kami arti sebuah kerja sama,” sahut Ki Malawi. “Panembahan kami memberi kami perkenan untuk merampas harta setiap orang yang menentang kami. Bahkan kami pun diizinkan untuk mengambil perempuan yang telah bersuami. Tidak ada larangan dari pemimpin kami.”

“Bahkan kami berdua terkadang mendapat hadiah berupa wanita muda dari Panembahan, bukan begitu Ki Malawi?” derai tawa Ki Sarjuma menjadikan kulit Sayoga meremang.

Sebagai seorang anak yang tumbuh berkembang dalam pengajaran Ki Wijil, Sarjiwa banyak menyerap pengertian tentang hubungan dengan orang lain. Pengertian mengenai budi pekerti pun disampaikan oleh Nyi Wijil tanpa melewatkan satu contoh yang baik dan buruk.  Bahkan dalam benturan besar melawan orang-orang Perguruan Kedung Jati, Sayoga secara sadar telah melepaskan seorang lawannya hanya karena senjata lawannya terlepas dari genggaman. Pada saat itu, ia segera beralih menyerang seorang putut yang sedang terlibat dalam pengeroyokan salah seorang senapati dari pasukan Untara.

Di tengah gempuran tanpa henti dari dua orang lawannya, Sayoga telah membuat satu keputusan penting bahwa ia tidak boleh memberi kelonggaran pada mereka berdua. Menurutnya, kebebasan dua orang dalam berbuat telah berada di luar batas nilai kewajaran.  Maka ketika Ki Malawi meloncat dengan tendangan yang berputar-putar, Sayoga cepat membalas dengan kaki yang terayun lurus menggedor dada Ki Malawi.

Tetapi tendangan Sayoga tidak mengenai sasaran, bahkan dada Sayoga nyaris tersentuh lengan Ki Sarjuma yang  menyambar cepat ketika pertahanan Sayoga terbuka lebar. Tak ada pilihan lain bagi Sayoga selain menjatuhkan diri dan bergulingan menjauh. Meskipun keseimbangan belum dapat tergapai sepenuhnya, namun sejauh itu Sayoga masih mampu melindungi tubuhnya dari sentuhan-sentuhan Ki Sarjuma dan Ki Malawai. Sayoga melompat bangun lantas cepat memperbaiki keadaannya dan siap untuk melanjutkan perkelahian.

“Kau mempunyai ilmu yang memadai, anak muda,” berkata Ki Sarjuma,”Kau mungkin akan lebih lama bertahan dari perkiraanku. Tetapi, kau wajib untuk tahu, bahwa kau tidak akan pernah mampu merangkak hingga batas Tanah Perdikan.”

Dengan tangan bersilang di depan perut, Sayoga berkata, ”Ini bukan masalah tentang kedatanganku di Tanah Perdikan.”

Ki Malawi mengerutkan kening. Tanyanya, ”Lalu tentang apa?”

“Sepertinya aku harus berkata kasar padamu, orang tua.”

Ki Malawi tergelak karena ucapan Sayoga. “Mengumpatlah selagi lidahmu belum keluh, anak muda!”

Menyadari kedudukannya yang tidak leluasa, Sayoga menarik tongkat pendek yang berbentuk seperti pedang dari pinggangnya.

“Setan!” Sayoga menerjang Ki Malawi sambil memutar pedang kayunya. Dengan senjata yang unik, Sayoga mencoba melepaskan diri dari tekanan dua orang pengeroyoknya. Tetapi lawan Sayoga bukan orang yang mudah untuk dikuasai, mereka mengimbangi serangan Sayoga dengan gerak tubuh yang begitu cepat. Sebenarnya Sayoga belum beranjak dari olah gerak yang mendasar dari apa yang diajarkan oleh ayahnya, Ki Wijil, namun pedang kayu Sayoga ternyata mampu mempengaruhi jalannya perkelahian yang tidak seimbang dari segi jumlah dan ilmu.

“Kita membuang waktu terlalu lama, Ki Malawi!” seru Ki Sarjuma yang kesulitan untuk mendekati Sayoga.

“Aku serahkan padamu, Ki!” sahut Ki Malawi seraya meloncat surut menghindari tebasan mendatar pedang kayu Sayoga. Mereka berdua nyaris bersamaan bergeser mundur dan meloloskan senjata masing-masing.

“Sebenarnya aku sangat menyayangkan bila kau harus berakhir pada usia muda, dasar dungu!” Ki Malawi menutup ucapannya dengan bentakan panjang menerkam Sayoga dengan putaran rantai yang bermata trisula.

Ki Sarjuma berlari kecil memutari Sayoga lalu menyerang bagian belakangnya dengan sepasang belati berhulu kepala naga. Desing belati panjang segera memenuhi ruang udara di lingkar pertarungan. Sementara lecut rantai Ki Malawi sekali-kali memekakkan telinga dan mulai menganggu pusat perhatian Sayoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *