Jati Anom Obong 32-33

Sesekali keduanya terpental beberapa langkah ke belakang setiap kali saling membenturkan tenaga. Pada satu kesempatan, tubuh Sayoga melenting dan berputar beberapa kali di udara, ia meluncur deras ke arah Ki Sarjuma seperti harimau menerkam mangsa tetapi dengan sigap lawannya meloncat ke samping sambil melepas satu pukulan keras menghantam bagian kepala Sayoga. Lelaki muda dari Kedawung itu menarik lengan menghadang laju pukulan Ki Sarjuma namun akibatnya adalah tubuh Sayoga terlontar seperti batu besar yang meluncur dari puncak tebing. Ia bergulingan di atas tanah berlumpur namun dengan cepat ia bangkit dan berdiri tegak dengan kaki merenggang depan belakang.

Perkelahian itu berhenti sejenak. Sayoga terlihat sedang mengatur napasnya yang memburu, jantungnya berdebar kencang setelah benturan sangat keras itu ternyata mampu mengguncang isi dadanya. Ki Sarjuma pun telah merunduk, bersiap melepas gebrakan yang mungkin lebih dahsyat dari sebelumnya.

“Bagaimana ia dapat bertahan dari pukulan tadi?” Ki Sarjuma menahan geram. Meskipun ia terkejut melihat daya tahan Sayoga namun rasa gusar lebih memenuhi isi hatinya. “Mungkinkah ia telah melakukan mesu diri semacam tapa pendem?”

Napas Sayoga mulai teratur, ia menata ulang seluruh keadaan dalam dirinya. Pada waktu itu, ia merasakan kepalanya seperti membentur sebuah batu hitam meski pukulan itu tidak secara langsung mengenai sasaran, tetapi gema tenaga inti Ki Sarjuma sanggup menembus tirai tebal yang ada.  Sekejap ia mengingat dasar-dasar ajaran ayahnya, Ki Wijil, bahwa sebatang kayu berukuran lingkar dua depa akan hanyut oleh arus lambat sealiran air maka Sayoga seperti menemukan jati dirinya kembali.

Ia memutuskan untuk menghadapi Ki Sarjuma dengan cara yang berlainan dari sebelumnya. Kecepatan tidak harus dilawan dengan kecepatan, kekuatan pun lebur dalam kelembutan. Pikir Sayoga.

Dari penampilan wadag, Ki Sarjuma seperti tidak mengalami guncangan yang berarti meski di balik itu, ia harus mengakui lebih jauh bahwa ilmu Sayoga telah menggedor bagian-bagian penting tubuhnya. Sendi-sendi di sepanjang tangan yang ia pukulkan serasa kesemutan dan bergetar. Bahkan ia sempat berpikir bahwa tangannya telah terpisah karena sempat mengalami mati rasa meski untuk beberapa kejap mata.

Di bagian lain, Empu Wisanata masih bertarung dengan kuat melawan Ki Malawi. Mereka masih terlibat dalam pergulatan yang sangat seru. Keduanya saling menyerang, berloncatan seperti terbang di udara meski belum menggunakan tenaga inti untuk menambah daya rusak serangan masing-masing.

“Aku tidak dapat menunda urusan ini lebih lama lagi! Cukup sampai di sini!” desis Ki Malawi. Lalu dengan cara mengagumkan, ia telah mendorong kekuatannya menanjak lebih tinggi. Ki Malawi tidak mengurangi tekanan atau meloncat mundur untuk sekadar mengambil masa persiapan, ia mengalirkan seluruh ilmunya ke seluruh kaki dan tangannya pada saat ia masih harus melayani gebrakan demi gebrakan musuhnya.

Kini kejutan beralih pada Mpu Wisanata. Ia tidak habis pikir dengan kemampuan Ki Malawi yang tiba-tiba seperti dikelilingi oleh udara panas yang silih berganti dengan hawa dingin.

Demi mengimbangi tingkatan Ki Malawi, maka Mpu Wisanata pun menurunkan aliran serang. Tetapi pada saat yang bersamaan ia meningkatkan daya tahan tubuhnya agar terlindungi dari udara panas dan dingin yang keluar dari setiap kibasan gerak Ki Malawi.

Sementara Ki Sarjuma masih beradu mata dengan Sayoga, empat pengawal Menoreh mulai menjauhi garis perkelahian mereka. Para pengawal yang dikirimkan Ki Gede itu saling bertukar pandang, mereka sedikit mengingat sosok Agung Sedayu sebagai anak muda berilmu tinggi saat masih seusia sama dengan Sayoga.

Mpu Wisanata turut merasakan perbedaan dari lingkar perkelahian yang berada tidak jauh darinya. Sudut mata lelaki yang dulu pernah bergabung dengan Ki Saba Lintang ini menangkap pergerakan luar biasa dari Sayoga. Maka, kemudian orang-orang yang terlibat dalam pertempuran itu secara tidak sengaja menarik napas panjang.

Ya, mereka berharap Sayoga dapat menahan keseimbangan  atau setidaknya memberi kesempatan bagi mereka untuk membekuk dua orang yang tidak bertanggung jawab ini.

Pada saat itu, Mpu Wisanata masih terlibat dalam sengitnya pertarungan melawan Ki Malawi yang telah mengeluarkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Namun belum seorang pun baik Mpu Wisanata maupun Ki Malawi yang bertarung dengan senjata, meskipun demikian, mereka bukan lagi berkelahi dalam lapis penjajagan. Sekujur tubuh mereka telah dialiri kekuatan-kekuatan yang dapat meledak setiap saat.

Keduanya sama-sama merasakan rasa nyeri yang menyusup cepat melalui pembuluh darah setiap kali kekuatan besar mereka beradu. Ki Malawi mengakui dalam hatinya, bahwa pertemuan mereka dengan Sayoga harus diakui sebagai awal dari hambatan besar. Ia dan Ki Sarjuma tidak menduga jika keonaran di pedukuhan induk dan sekitarnya mendapat tanggapan cepat dari Ki Gede Menoreh.

“Perkelahian ini seharusnya tidak ada,” berkata Ki Malawi dalam dirinya, “tetapi kekuatan lelaki muda itu benar-benar berada di luar kewajaran.” Sudut mata Ki Malawi mengerling sejenak ke arah perkelahian rekannya, Ki Sarjuma.

Debar khawatir sempat mendarat pada alas jantung Ki Malawi. Sekilas ia menebar pandang dan empat pengawal Menoreh masih bersiaga pada kedudukan masing-masing.

Keadaan yang sama juga dirasakan oleh para pengawal Menoreh. Mereka bukan termasuk orang-orang yang berilmu tinggi maka setiap penilaian hanya berdasarkan kejadian yang berlangsung di hadapan meeka. Mereka menjadi saksi perubahan Sayoga yang kini berada dalam suasana yang sulit dimengerti. Seorang pemuda yang hanya sesaat bergaul dengan penduduk Menoreh kini telah bertaruh nyawa untuk sebuah alasan yang mungkin baru mereka dengar setelah perkelahian usai, jika Sayoga masih hidup.

Angin berhembus sedikit kencang dari pegunungan Menoreh.

Kematangan Sayoga belum sepenuhnya teruji dalam perkelahian itu, tetapi ia ditempa oleh hal lain yang tidak kalah menggetarkan dari lancipnya ujung pedang. Sayoga berada di bawah bimbingan orang tuanya sendiri maka kematangan batin Sayoga menjadi penentu. Wawasan yang dibagikan oleh Ki Wijil sedikit banyak mempengaruhi cara berkelahi anak muda dari Kedawung ini.

Pedang kayu telah kembali berada dalam genggamnya. Tatap mata Sayoga mendadak berubah menjadi dingin dan wajahnya membeku. Sayoga mencoba melarutkan dirinya, ia berusaha menyesuaikan diri dengan suasana mengerikan yang memancar kuat dari Ki Sarjuma. Dalam pikiran Sayoga, ia berharap keadaan membaik jika ia tenggelam dalam kengerian yang ditebar oleh Ki Sarjuma.

Bagi Sayoga, Ki Sarjuma adalah lawan yang mempunyai tataran lebih tinggi jika dibandingkan dengan Ki Jagabaya, teman ayahnya. Meski begitu ia tidak merasa jerih atau gentar.

Sayoga menerjang Ki Sarjuma dengan putaran senjata yang lebih dahsyat!

Ujung pedang Sayoga, meski terbuat dari kayu, namun mampu mengeluarkan suara berdecit keras. Ia berkelahi dengan sangat hebat seperti tidak ada lagi hari esok. Dan memang itulah yang dirasakan oleh Sayoga. Ia memaksa dirinya untuk berjuang lebih keras walaupun kedua matanya tidak akan pernah lagi menatap mentari pagi, selamanya. 

Maka yang dihadapi oleh Ki Sarjuma adalah ia tidak dapat mendekati Sayoga meski sejengkal. Semua celah pertahanan Sayoga telah terbungkus rapat oleh gulungan pedang kayu. Dan setiap kali pukulan Ki Sarjuma tertolak batang pedang maka Ki Sarjuma merasakan getar yang hebat. Ia semakin menderita rasa perih yang menyakitkan.

“Apakah Menoreh memang selalu menyimpan sebuah rahasia hingga tidak pernah berhenti memunculkan orang muda berilmu tinggi?” keluh Ki Sarjuma yang lambat laun tak lagi bergerak secara aneh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *