Jati Anom Obong 34-35

Tiba-tiba Ki Sarjuma meloncat surut namun Sayoga tidak mengejarnya. Lelaki muda dari Kedawung ini memilih untuk tetap berada di tempatnya dengan dua kaki sedikit merenggang.

“Sayoga!” seru seorang pengawal yang ternyata masih mengingat wajah Sayoga dengan baik. “Jika kau mau, kita bersama-sama dapat melawan dan mengalahkan orang ini!”

Sayoga sekilas menggerakkan sudut mata ke arah pengawal Menoreh, teriaknya, “Ini perang tanding, Paman! Biarlah nyawaku menjadi jawaban atas segala yang terjadi di tempat ini!”

Ki Sarjuma menyeringai lebar dalam kebingungan yag tengah mendera hatinya. Ia dapat menangkap sesuatu yang berbeda dari kata-kata yang diteriakkan Sayoga. Ia mulai memerhitungkan akibat yang mungkin terjadi karena perubahan tata gerak Sayoga yang tiba-tiba menjadi dahsyat. Walau demikian ia masih mempunyai pertimbangan tersendiri. “Satu kemungkinan yang lain adalah anak ini telah putus asa dan benar-benar berniat mati!” katanya dalam hati. “Boleh jadi, ia telah bertekad untuk mati bersama denganku!”

Lawan Sayoga ini belum dapat membuat perkiraan tentang asal kekuatan Sayoga yang sebenarnya muncul ketika Serat Waja dikerahkan sepenuh tenaga yang tersisa. Sayoga beloum mencapai tingkat terbaik pengembangan ilmu Serat Waja tetapi sifat ilmu yang lunak dan lentur telah mengaburkan pengamatan Ki Sarjuma.

Detak jantung Sayoga telah berpacu sedemikian cepat, hal ini disadari olehnya bahwa ia telah berada di ujung pengerahan tenaga inti. Ketegangan perlahan menyelinap masuk ke dalam relung jantung Sayoga.

Pada saat itu, Ki Sarjuma masih berusaha menggunakan siasat yang dimilikinya meski siasat itu belum terbukti membawa hasil dari perkelahian bermula.

“Sayoga, begitukah engkau dipanggil oleh kawan-kawanmu? Aku tahu jika engkau telah mengalami kepayahan yang luar biasa, dan mungkin untuk saat ini ada terselip rasa bangga dalam hatimu bahwa engkau mampu bertahan hidup lebih lama,” kata Ki Sarjuma, “Namun sayang engkau salah memilih lawan. Mungkin kau akan meraih kemenangan dengan mudah jika aku bukan orang yang kau hadapi saat ini. Aku tahu engkau telah mencapai batas tertinggi ilmu yang kau miliki, apakah aku berkata benar?”

Sayoga bergeming.  Kekuatan hatinya justru semakin menggumpal dan siap meledak!

“Mengapa engkau diam, Sayoga? Apakah kau meyimpan keraguan yang berasal dari keyakinan yang runtuh? Kau dapat melihat, lihatlah, aku masih berdiri tegak di depanmu!” Ki Sarjuma masih belum berhenti membongkar keyakinan hati Sayoga. Ia meneruskan kata-kata, “Itu pilihanmu, anak muda. Aku akan senang menunggumu mengerahkan dan mencapai batas akhir dari ilmu yang mungkin telah menjadi kebanggan bagimu. Sungguh, itu sangat menarik untuk mengetahui puncak pengerahan ilmu simpananmu.”

Sayoga bergeser setapak ke samping dengan ujung pedang menyentuh tanah. Selagi Ki Sarjuma berucap kata memancing kebimbangan agar menguasai hatinya, Sayoga telah bersiap membuat gebrakan.

Ki Sarjuma masih mengamati pergerakan Sayoga. Ia enggan berpikir untuk menggunakan senjata. “Memalukan!” ia menggeram ketika lintas pikiran mendadak muncul mmerintahkan agar segera menarik pedang pendek berbatang lebar yang diselipkannya di balik punggung.

Meski keraguan menyeruak dalam hatinya, Ki Sarjuma tetap berkeras untuk meneruskan perkelahian dengan tangan kosong. Ia telah mempunyai dugaan tentang batas akhir kekuatan Sayoga. Meski pengamatannya menjadi kabur karena Sayoga tidak menujukkan kelelahan atau kesakitan, tetapi Ki Sarjuma meyakini jika nyawa Sayoga hanya berjarak sejengkal darinya. Maka dari itu, Ki Sarjuma melambari sepasang tangannya dengan tenaga inti sampai ke ujung setiap jari tangannya. Tenaga inti yang tersimpan dalam dirinya lebih keras dari besi dan batu cadas hitam. Hantaman Ki Sarjuma yang sanggup meluruhkan tebing batu Merbabu melipatgandakan keyakinannya ketika melihat pedang kayu Sayoga.

“Sesaat lagi senjata itu akan lumat tak tersisa!” lirih suara Ki Sarjuma menggeram. Ia berada di puncak keresahan. Antara marah, bingung, rasa takut menerima kekalahan dan keinginan membunuh bercampur aduk dalam hatinya. Ki Sarjuma terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Sayoga, dari seekor kelinci jinak yang siap dimangsa seekor elang tiba-tiba beralih menjadi seekor harimau kelaparan yang siap mencabiknya.

Dengan langkah kaki terseret, Sayoga bergerak seolah segunung beban berada di kedua bahunya. Ia mendekati Ki Sarjuma tanpa mengangkat kakinya. Sebentuk garis dengan pola tertentu jelas tergambar dari jejak kakinya.

Ki Sarjuma dan pengawal Menoreh memicingkan mata, mereka mencoba menerka arti dan maksud dari garis-garis yang saling berhubungan itu. Tetapi Sayoga tidak memberi waktu lebih banyak untuk Ki Sarjuma.

Tiba-tiba ia mendatangi musuhnya sangat cepat.

Peralihan gerak itu jelas mengejutkan Ki Sarjuma. Walaupun ia telah bersiap namun itu tetap tidak mengurangi lompatan jantungnya. Ia terkesiap!

Darah Ki Sarjuma serasa berhenti mengaliri bagian wajahnya ketika ujung pedang Sayoga berjarak sejengkal darinya. Kurang dari sekejap mata ia mempelajari tata gerak Sayoga yang aneh, kini lawannya yang muda usia nyaris menghantam remuk tulang kepalanya. Ki Sarjuma meloncat surut, berjungkir balik dengan telapak tangan dijadikan tumpuan. Nakun Sayoga tidak berhenti mengejarnya.

“Apakah ini sejenis ilmu yang berasal dari setan?” tanya hati Ki Sarjuma. Ia tidak merasakan kedatangan angin gerakan yang timbul dari tenaga inti Sayoga. Ia juga tidak mendengar desing angin yang mengikuti gerak pedang kayu musuhnya.

“Ini kegilaan luar biasa! Aku tidak mengerti asal ilmu ini dan aku belum pernah menghadapi lawan dengan jenis kanuragan yang sama!” gerutu Ki Sarjuma seraya mengelak terjangan demi terjangan Sayoga yang membadai.

Mereka berkelahi dalam jarak dekat dan berpindah tempat dengan loncatan yang cepat. Meski ia masih mengaliri Ki Sarjuma dengan gebrakan sepenuh tenaga, namun Sayoga belum menguasai sepenuhnya kendali pergulatan yang hebat ini. Ki Sarjuma sangat kuat dalam bertahan. Ia mampu menutup setiap celah dan tak berusaha menghindari setiap benturan.

Para pengawal Menoreh berseru keras. Mereka kaget luar biasa!

Di luar jangkauan nalar dan kemampuan pandang mata orang kebanyakan, tiba-tiba Ki Sarjuma berbalik membalas serangan. Ia menerjang Sayoga serangkaian pukulan dan tendangan beruntun menyamping. Tidak ada kesempatan bagi anak muda ini untuk mengelak . Ia menggeser langkah mundur seraya menangkis serangan yang berpusar membadai serta mengerikan.

Jika sebelumnya mereka melihat tubuh Ki Sarjuma seolah bergumul lekat dengan Sayoga, kini mereka hanya melihat bayangan tangan dan kaki yang seperti berjumlah ribuan menghujani tubuh Sayoga.

Kedua orang yang berseteru itu kini merasakan kulit dan tulang mereka terasa perih. Benturan yang kerap terjadi dengan disertai tenaga inti lapis puncak perlahan namun penuh kepastian telah menggerogoti daya tahan tubuh masing-masing. Pedang kayu Sayoga terlihat mulai tidak utuh lagi. Sejumlah bagian telah terkupas pada tiap benturan.

Tiba-tiba keduanya memekik keras lalu melompat beberapa langkah surut!

“Sayoga, aku tidak meragukan kekerasan kepalamu. Sekarang aku mempunyai alasan sangat kuat untuk membunuhmu dan membawa pulang kepalamu!” desis Ki Sarjuma dengan wajah bengis. “Engkau telah mengobarkan semangat dan keinginan yang telah lama aku pendam dalam. Menemukan seseorang yang seimbang denganku, kini kau berada di sini untuk menyalakan api yang nyaris padam.”

“Apabila kau telah menganggapku sebagai mangsa maka tuntaskan pekerjaan ini untuk kehormatanku, Kiai,” pelan Sayoga mengeluarkan suara. Meski demikian tidak terlihat sorot gentar yang terpancar dari wajah dan kedua matanya. Sayoga benar-benar menunjukkan kegigihan dan keberanian yang telah berakar kuat di dalam hatinya.

“Bagus!” seru Ki Sarjuma. Ia mengalihkan pandangan kea rah para pengawal Menoreh, lantang suaranya terdengar, “Kalian adalah saksi perang tanding ini. Kalian telah mendengar anak muda ini berkata telah siap untuk mati untuk kehormatannya yang tertinggi.”

Ki Sarjuma mengangkat tinggi tangannya yang terkepal. Ia berseru keras, “Jadilah ayah ibumu sebagai orang tua dengan kebanggaan puncak!”

Ki Sarjuma tidak lagi memandang remeh kenyataan yang ada dalam diri Sayoga. Ia mengerahkan kembali segenap kemampuan hingga batas tertinggi yang dicapainya. Walau demikian ia masih menahan diri untuk bertangan kosong. Bahkan ia memutuskan tidak menggunakan senjata.

“Pantang bagiku untuk mengeluarkan senjata, lebih-lebih aku hanya menghadapi sebatang pedang kayu!” tekad kuat Ki Sarjuma dengan segala perhitungan yang telah bergulir dalam pikirannya.

Sayoga tidak melihat Ki Sarjuma mengeluarkan senjata, maka ia membuat perkiraan dalam benaknya. “Tentu saja ia akan melipat ganda semua tenaga yang telah terbakar keinginan bertarung.” Ia telah menilai kemampuannya sendiri dan lawannya. Kehebatan Serat Waja dalam menyerap dan mengubah sifat keras menjadi lunak telah mendapatkan tantangan hebat dari Ki Sarjuma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *