Jati Anom Obong 36-37

Ki Sarjuma menerkam Sayoga dengan kekuatan yang benar benar hebat. Mereka kemudian bergumul kembali dengan kecepatan yang tidak berkurang sedikit pun dari sebelumnya. Sejumlah waktu telah dilalui, benturan semakin kerap terjadi, jarak mereka semakin rapat.

Tiba-tiba Ki Sarjuma meloncat surut sedikit lebih jauh. Sayoga tak ingin mengejarnya lalu ia memilih untuk menunggu. Pertarungan yang sebenarnya telah membawa Sayoga pada rasa lelah.  Ki Sarjuma memang memilih siasat yang bertujuan untuk menghancurkan Sayoga dari dalam dirinya. Ki Sarjuma tidak lagi bertarung dengan mengandalkan kegesitan kaki dan tangan, tidak lagi mengandalkan kekuatan tenaga inti dan kecepatan, tetapi ia memilih untuk bermain dengan waktu.

“Kekuatan anak ini sudah nyata dapat aku rasakan, tetapi keadaan di dalam batinnya? Hanya itu jalan yang ada bagiku untuk membuatnya hancur,” bibir Ki Sarjuma komat kamit tanpa suara.

Dan memang sebenarnya muslihat Ki Sarjuma telah mengoyak lapisan dalam pertahanan batin Sayoga. Lelaki muda yang berusia tak terpaut jauh dari Sukra ini mulai gelisah. Ia telah menata gerak, berancang-ancang guna menyambut serbuan lawannya tetapi Ki Sarjuma hanya melakukan gerak bayangan. Berulang kali Ki Sarjuma bergerak seolah akan menerjang, namun secara mendadak ia menghentikan arusnya lalu beralih ke bagian lain.

“Permainan apa yang sebenarnya tengah ditawarkannya padaku?” gumam Sayoga di satu ruang batinnya.

Sayoga telah gelisah, keresahan ini kemduian mendorongnya untuk bergerak sangat cepat. Pedang kayu terayun begitu kuat hingga mengeluarkan suara seperti dengung lebah. Tebasan pedang Sayoga mengarah ke bagian muka Ki Sarjuma.

Kepercayaan diri atas kemampuan ilmunya membuat Ki Sarjuma cepat menangkis dengan sisi luar tangan kirinya,

Ia melotot dan berteriak kesakitan!

Sayoga dengan cerdik, secara tiba-tiba, mengubah Serat Waja yang lunak menjadi hantaman sekeras batu cadas. Bahkan Sayoga sendiri tidak menyana jika pada keadaan genting, ia dapat melakukan dengan baik peralihan yang telah dilatihnya begitu tekun semenjak ia dinyatakan mampu oleh ayahnya, Ki Wijil.

Sekejap setelah benturan hebat itu terjadi, Ki Sarjuma mengalami kesemutan dan mati rasa sepanjang tangan kiri hingga pangkal pundak. Ia terhuyung mundur, satu dua atau empat langkah surut sambil memegang bahu kirinya.

Keyakinan Sayoga meningkat berlipat. Tanpa mengurangi kewaspadaan ia merasa cukup lega atas keberhasilannya dalam mengalihkan watak Serat Waja. Sekarang Sayoga menerjang musuhnya dengan serangan yang hebat seperti badai yang menderu. Pedang kayu dan tendangan yang ia lontarkan datang bergulung-gulung untuk membelit, menghempas serta melibas Ki Sarjuma dalam pusaran serangannya.

Sementara itu arena perkelahian Empu Wisanata dan Ki Malawi juga meningkat semakin sengit. Walau hanya sekilas dan selintas namun  pengamatan Empu Wisanata mampu bekerja dengan baik. Ia merasa longgar dan kini Empu Wisanata semakin leluasa mengimbangi kegesitan Ki Malawi. Teman Ki Sarjuma ini bertempur dengan garang dan ganas. Ki Malawi, di balik kegarangannya berkelahi, menyimpan kemarahan yang luar biasa. Ia marah pada kebodohannya sendiri.

“Bagaimana cara Menoreh menyimpan orang-orang gila seperti lelaki tua ini? Tidak ada keterangan dari petugas sandi Panembahan yang memberitakan keberadaan mereka. Setiap kali mereka membuka suara maka hanya Ki Gede Menoreh dan senapati Mataram yang berada di dalam pembicaraan,” keluh sesal Ki Malawi dalam hatinya.

Namun lawan Ki Malawi pun tidak menyangka jika orang yang dihadapinya seolah dapat membaca seluruh isi pikirannya. Ki Malawi dengan segenap ilmu yang dimilikinya dan pengalaman yang telah menempa puluhan tahun memang selalu mendahului rencana-rencana Empu Wisanata.  Ia mampu bertahan sangat baik dan mempunyai serangan yang berbahaya serta mematikan.

Hingga matahari telah mencapai batas senja, keduanya masih dalam kedudukan yang seimbang.

Dan ternyata bahwa berhadapan dengan Kiai Gringsing, Ki Pringgajaya masih mampu untuk bertahan. Ilmunya yang terpercaya adalah kemampuannya bergerak seolah-olah mendahului waktu. Dengan demikian maka serangan-serangannya menjadi sangat berbahaya. Namun karena Kiai Gringsing sudah mengetahui sebelumnya, maka ia telah mampu menyesuaikan diri.

Timpa cahaya yang tersisa pada ambang senja pada ikat pinggang Ki Malawi menjadikan Empu Wisanata semakin berhati-hati. Seleret sinar tampak memantul dari bagian depan sepanjang ikat pinggang orang suruhan Panembahan Tanpa Bayangan ini.

“Apa yang sebenarnya menjangkiti orang ini?” nada tanya muncul dalam benak Empu Wisanata. Ia memandang bahwa sebenarnya tidak perlu seseorang membekali diri dengan sederet senjata yang sengaja disembunyikan. Tetapi ia segera menghalau pertanyaan itu sejauh-jauhnya dari jalur pikirannya. Maka Empu Wisanata pun mengubah tata geraknya namun masih dalam tataran kecepatan yang sama.

Empu Wisanata mengambil kesempatan untuk menyerang lebih dahulu, ia melihat Ki Malawi seperti terpaku dalam kebimbangan maka satu loncatan panjangnya datang membawa bahaya bagi Ki Malawi. Empu Wisanata mendesaknya dengan melontarkan pukulan-pukulan yang mengarah ke bagian tubuh yang penting, meski telah gerakan lelaki tua ini tidak begitu cepat namun ia mampu menempatkan diri sangat baik. Kedua kaki Empu WIsanata pun tak kalah gesit dalam melancarkan serangan-serangan yang dapat mematahkan pinggang Ki Malawi.

Ki Malawi terkesiap, ia bergeser surut sambil menata berusaha menata ulang keseimbangan perkelahian yang kini berada dlaam kendali musuhnya. Tanpa berpikir lebih lama, Ki Malawi meraih senjata yang tergantung pada ikat pinggang lalu melontarkannya ke arah Empu Wisanata.

Ketangkasan Empu Wisanata memang patut mendapat pujian. Ia tidak bergerak secepat musuhnya. Namun setiap kali kakinya bergeser, maka itu  seolah menjadi tameng bagi upaya Ki Malawi yang tengah berusaha keras membalikkan keadaaan. Seluruh senjata yang ia lemparkan hanya mampu mencapai tanah kosong, bahkan dua kali Empu Wisanata mampu menjepitnya lalu melontar balik ke dada lawannya.

Menyadari tidak ada celah untuk mencari tempat sebagai pijakan untuk mengubah keadaan, Ki Malawi meningkatkan tenaga inti yang kemudian memancarkan udara dingin di sekitarnya. Setiap gerakan Ki Malawi mulai meninggalkan desir angin yang cukup dingin, lambat laun lingkar perkelahian mereka telah berubah menjadi gelanggang yang tepat untuk meremukkan tulang.

Para pengawal Menoreh yang berada di sekitar lingkar perkelahian Empu Wisanata dan Ki Malawi bergeser menjauh. Udara dingin terasa menyakitkan bagi mereka yang tidak memiliki ilmu tinggi. Kulit mereka begitu perih dan tulang-tulang mereka terjalari rasa linu yang luar biasa.

“Kita menjauh,” ajak salah seorang pengawal yang dijawab dengan pergeseran tapak kaki teman-temannya.

Empu Wisanata tampak begitu tenang. Ia menghentak tenaga inti untuk melapisi daya tahan tubuhnya dari serangan udara dingin yang memancar keluar dari Ki Malawi. Dalam waktu bersamaan, Emu Wisanata pun menambah kecepatan serangannya. Kini ia berusaha mendesak musuhnya lebih dahsyat. Tekanan demi tekanan dilakukan olehnya. Gerakan Empu Wisanata semakin cepat, tangan dan kedua kakinya masih leluasa bergerak seolah tidak terhalang oleh udara yang semakin dingin.

Asap putih kemudian tampak mengikuti aliran tubuh Ki Malawi yang tak kalah dahsyat bergerak dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata biasa. Tanah di bawah kaki mereka berdua pun beralih warna. Butiran debu berwarna putih terlihat saat terbentur sisa cahaya senja.

“Sangat hebat!” decak gumam Empu Wisanata. Ia mengagumi kemampuan Ki Malawi yang masih terus menerus bergerak cepat untuk mengimbanginya, namun sama sekali tidak mengurangi tekanan yang ia keluarkan melalui udara dingin. Angin dingin yang tanpa henti melindas Empu Wisanata akhirnya mampu menggapai kulit bekas pengikut Ki Saba Lintang ini. Permukaan kulit Empu Wisanata pun didera rasa nyeri luar biasa meskipun ia telah menambah ketahanan dengan penguatan tenaga cadangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *