Jati Anom Obong 38-39

Tekanan ini mulai menyulitkan, pikir Empu Wisanata, tidak mudah bagiku menjauh dari kejaran udara dingin yang menyengat dan mampu menyayat selubungku.
Tenaga inti cepat menjalar dari balik pusarnya, merambati setiap urat syaraf dan ratusan cabang jalan darah. Udara panas segera meronta, berhamburan keluar dari setiap kibas telapak tangan Empu Wisanata. Lelaki yang banyak meluangkan waktu dengan Ki Gede Menoreh telah membangkitkan kekuatannya, meski hal itu tidak sepenuhnya dapat mengurangi rasa sakit yang melanda.

Pertarungan meningkat semakin sengit.
Udara sekitar mereka mulai berubah seiring dua kekuatan raksasa itu saling dorong dengan dahsyat. Sesekali angin panas menampar wajah para pengawal Menoreh yang berada cukup jauh dari keduanya. Namun mereka bergeming. Justru sebaliknya, pengawal Menoreh terlihat sungguh-sungguh mengamati perkelahian.

Berulang decak kagum keluar dari bibir mereka. Walau perkelahian semakin sulit diikuti pandangan mata, pengawal Menoreh yang kebanyakan berusia muda tetap berusaha mengikuti pergerakan orang-orang berilmu tinggi di hadapan mereka. Sekali-kali mereka berceletuk ringan dengan membuat perbandingan antara kemampuan para pengawal dengan empat orang yang tengah berkelahi.
“Tentu saja Kang Marta lebih tinggi dari empat orang itu,” kata seorang anak muda yang memanggul pedang.
“Ya benar. Mereka mungkin sejajar dengan telinga Kang Marta.” Tawa renyah terdengar lirih di antara mereka ketika seorang bertubuh gempal menanggapi celoteh kawannya.

Dalam waktu itu, Ki Malawi telah menerima sebuah kenyataan bahwa udara dingin yang berasal darinya mulai berbalik arah. Meski belum kerap menghantam balik padanya, tetapi kebuntuan telah berulang terjadi. Suara letusan sesekali terdengar tatkala tenaga dinginnya seolah diremas dalam lilitan udara panas Empu Wisanata. “Tenaga yang seolah dapat berpikir dan bergerak tanpa perintah? Ini sangat menakjubkan! Aku menemui lawan tanding yang sebanding,” Ki Malawi bergumam dengan satu pengakuan. Meski ia masih mengeluh tentang kesalahan yang membahayakan hidupnya, namun sebersit kebanggaan membuncah dalam dirinya. Dengan demikian maka pertempuran itu telah berubah. Ki Malawi yang menduga telah menguasai keadaan kini berubah pikiran. Ia melihat kenyataan telah bergeser tempat dari hadapannya.

Empu Wisanata mulai dapat membendung deras hantaman angin dingin miliknya. “Sebangsal ilmu mungkin telah mengendap di dalam dirinya,” pikir Empu Wisanata, “kecil kemungkinan jika orang ini hanya mengandalkan udara dingin yang sanggup mematuk tulang terbungkus kulit dan lketebalan daya tahan. Tidak bisa tidak, aku harus bersiap dengan segala kemungkinan.” Empu Wisanata mengambil prakarsa terlebih dahulu dengan meningkatkan serangan dan menambah daya gedor udara panas miliknya.

Kini suara ledakan kian kerap terdengar setiap kali inti tenaga yang berbeda watak ini saling bertabrakan. Walau mereka tidak saling menyentuh bagian tangan atau tubuh yang lain, namun angin yang muncul akibat kibas gerak mereka sudah menimbulkan keributan.
Lingkar perkelahian Empu Wisanata seolah menjadi pergumulan dua pusaran angin topan yang sangat besar. Ranting dan daun kering, yang terdorong naik terbawa angin dahsyat perkelahian, terlihat seperti saling membelit, mendorong bahkan kadang-kadang tampak seperti sabetan pedang!
Kedahsyatan ilmu Empu Wisanata benar-benar terwujud pada perkelahiannya menghadapi Ki Malawi. Ketangkasan serta kecepatannya bergerak sama sekali tidak menunjukkan usia Empu Wisanata yang sebenarnya. Ia terlihat jauh lebih muda dan bugar dari yang terlihat oleh pandangan mata. Putar gerak kaki dan tangannya secara hebat berusaha meredam laju pergerakan Ki Malawi.

Sedangkan Ki Malawi pun sebenarnya termasuk orang yang telah matang dalam pertaruhan nyawa. Ia telah melalui banyak perang tanding dan pertarungan yang menegangkan. Ketangguhannya benar-benar mendapat ujian berat dari Empu Wisanata. Maka sering kali Ki Malawi dapat keluar dari beban yang dilontarkan oleh musuhnya. Udara dingin masih mampu menggapai kulit orang yang berencana menjadikan Sayoga sebagai murid saat melihat cara bertarung Sayoga.
Namun hentak serangan dari Empu Wisanata belum berkurang. Walau Ki Malawi kerap kali mampu mengangkat beban tekanan, tetapi Empu Wisanata selalu dapat mengisi kembali ruang kosong dengan sambaran-sambaran udara panas. Benturan terjadi semakin kuat diiringi dentum menggelegar yang mampu menggetarkan isi dada.
Tidak ada celah yang terlihat di mata Ki Malawi tentang pergerakan Empu WIsanata. Satu jalan keluar baginya adalah meningkatkan kecepatan dengan mengerahkan segenap kemampuannya meringankan tubuh. Ki Malawi membenahi susunan olah geraknya, ia mengepung Empu Wisanata dengan rangkaian pukulan yang begitu rapat. Empu Wisanata mengimbanginya dengan putaran dan kibas kaki tangannya yang cepat menangkis, bahkan terkadang masih mampu menerobos lingkaran serang musuhnya walau pun masih berjarak dari sasaran.

Melalui penglihatan dari kedudukannya, Empu Wisanata dapat memperkirakan keadaan Sayoga. Kecemasan merayap pelan dan memancangkan tiang keraguan dalam hatinya, meskipun demikian, Empu Wisanata tetap harus menyelesaikan perkelahiannya Tentu saja tidak mudah karena Ki Malawi merupakan lawan yang sangat tangguh, tetapi Empu Wisanata tidak dapat lagi mengulur waktu.

Senja telah berlalu. Satu dua bintang telah berkedip menyapa penduduk Menoreh. ‘Sekuat-kuatnya anak muda itu, ia tidak akan mampu bertahan lebih lama. Perang tanding bukan sekadar beradu ketinggian ilmu, tetapi juga kematangan dan kemampuan membaca keadaan,” desis hati Empu Wisanata. Lantas ia mengerek seluruh kekuatan yang tersimpan, udara semakin panas, sekali-kali Empu Wisanata menjentikkan jarinya!
Tidak ada orang yang menyangka bahwa jentik jari itu mampu mengeluarkan lidah api, menjilat kain yang menutup tubuh Ki Malawi!
Tidak jarang lima kilat api melejit keluar, menyambar, lalu menerjang Ki Malawi secara bersamaan. Pertahanan Ki Malawi yang kokoh dengan selubung padat udara dingin dapat mencegah ujung lidah api untuk sampai pada kain atau kulitnya. Ia belum merasakan panas walau berulang kali kulitnya tergapai lidah api yang menyambar.

”Kobarkan semua, Ki Sanak!” tantang Ki Malawi. “Pencapaianmu telah menunjukkan padaku tingkat ilmu yang ada dalam dirimu. Tetapi aku adalah Ki Malawi. Tidak akan pernah mudah bagimu dapat keluar dari kegelapan yang segera aku tebar!” Usai mengatup bibirnya, Ki Malawi membuktikan ancamannya. Dengan kecepatan yang tidak dapat diukur nalar, tiba-tiba selubung udara dingin meledak, menyebar ke segala penjuru, rumput dan tanaman yang dilaluinya menjadi beku! Butiran es menjadi penghias ujung tanaman dan memantulkan corak cahaya yang luar biasa.

Para pengawal Menoreh terpental akibat dorongan tenaga dingin. Begitu cepat mereka menggigil dengan bibir kebiruan. Mereka berusaha secepatnya menjauh, lebih jauh lagi dari gelanggang perkelahian Ki Malawi dengan Empu Wisanata.

Udara dingin yang terhempas itu pun mencapai tempat pertarungan Sayoga.

Ia sadar jika tekanan semakin bertambah kuat dan dahsyat! Selain belitan Ki Sarjuma, Sayoga juga harus mengatasi keadaan yang kian rumit karena daya ledak ilmu Ki Malawi memerihkan kulitnya. Tidak dapat tidak, aku harus menjaga jarak. Namun ke mana aku menjauh? tanya Sayoga pada dirinya.

Ki Sarjuma beroleh satu tunggangan berupa udara segar. Napasnya terasa longgar, rasa malu yang akan datang padanya jika ia kalah dalam perang tanding cepat berlalu. Persiapan kilat segera ia lakukan. “Anak jalang! Ternayata kematianmu tidak disebabkan olehku, dengan begitu, dendam ibu bapakmu tidak lagi dapat ditujukan padaku. Tetapi orang itu!” kata Ki Sarjuma sambil menunjuk orang yang ia maksudkan.

Sayoga tidak kehilangan kesiagaan, ia bersiap dengan segala kemungkinan, lalu katanya, “Seorang pengkhianat sepertimu tidak pernah ada dalam dendam karena itu adalah keburukan yang sama. Orang tua, kau akan mati dan terkubur dalam kubangan yang telah kau gali malam ini!”

Rencana pertama Sayoga telah dinyatakan dengan lantang dan itu memancing kemarahan Ki Sarjuma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *